Akurat

Mau Jadi 10 Bursa Terbesar Dunia, BEI Bidik Transaksi Harian Rp15 Triliun di 2025

Hefriday | 2 Januari 2026, 15:12 WIB
Mau Jadi 10 Bursa Terbesar Dunia, BEI Bidik Transaksi Harian Rp15 Triliun di 2025

AKURAT.CO PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target ambisius untuk membawa pasar modal nasional masuk ke jajaran 10 besar bursa efek dunia dalam lima tahun ke depan. 

Target tersebut tercantum dalam Masterplan BEI 2026–2030 yang menjadi peta jalan pengembangan pasar modal Indonesia secara berkelanjutan.
 
Direktur Utama BEI, Iman Rachman mengatakan, visi tersebut akan dicapai melalui penguatan pasar modal yang inovatif, transparan, inklusif, serta semakin terhubung dengan ekosistem global. 
 
BEI ingin memastikan pertumbuhan pasar tidak hanya besar secara ukuran, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.
 
“Harapannya Indonesia dapat masuk ke jajaran top 10 bursa dunia berdasarkan kapitalisasi pasar atau nilai transaksi, sekaligus memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional,” ujar Iman dalam Seremoni Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026). 
 
 
Sejalan dengan target tersebut, BEI juga mematok sasaran rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp15 triliun pada 2026. 
 
Angka ini mencerminkan optimisme terhadap meningkatnya partisipasi investor serta bertambahnya instrumen dan emiten di pasar modal domestik.
 
Iman menjelaskan, asumsi RNTH tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi nasional dan global. Menurutnya, stabilitas ekonomi, dukungan kebijakan, serta kepercayaan investor akan menjadi faktor kunci dalam mendorong likuiditas perdagangan saham.
 
“BEI mengasumsikan nilai RNTH pada tahun 2026 berada pada angka Rp15 triliun,” katanya.
 
Dari sisi pencatatan efek, BEI menargetkan sebanyak 555 pencatatan baru sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 di antaranya merupakan pencatatan saham baru atau initial public offering (IPO), sementara sisanya berasal dari instrumen pasar modal lainnya.
 
“Dari sisi pencatatan, kami menargetkan 555 pencatatan efek di tahun 2026, di antaranya 50 saham baru,” ujar Iman.
 
Selain mendorong jumlah emiten, BEI juga fokus pada peningkatan basis investor ritel. Melalui pemanfaatan berbagai kanal distribusi informasi dan edukasi pasar modal, BEI menargetkan penambahan sekitar 2 juta investor baru pada 2026.
 
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat struktur pasar modal Indonesia agar lebih dalam dan stabil. Basis investor yang luas diharapkan dapat mengurangi volatilitas sekaligus meningkatkan ketahanan pasar terhadap gejolak global.
 
Iman menegaskan, pencapaian seluruh target tersebut membutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan. Dukungan emiten, anggota bursa, regulator, serta pelaku industri keuangan menjadi kunci keberhasilan implementasi Masterplan BEI 2026–2030.
 
“Kami sangat mengharapkan dukungan dan kolaborasi dari emiten, anggota bursa, dan seluruh pemangku kepentingan agar masterplan ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi pasar modal Indonesia,” katanya.
 
Sementara itu, kinerja pasar saham pada perdagangan Jumat menunjukkan sentimen positif. Hingga pukul 10.40 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 56,88 poin atau 0,66 persen ke level 8.703,82.
 
Frekuensi perdagangan saham mencapai 1.462.695 kali transaksi dengan volume perdagangan sebanyak 9,77 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp21,15 triliun, mencerminkan aktivitas pasar yang relatif aktif.
 
Pada perdagangan tersebut, sebanyak 431 saham menguat, 220 saham melemah, dan 156 saham bergerak stagnan. Data ini menunjukkan optimisme investor yang sejalan dengan visi BEI untuk mendorong pertumbuhan pasar modal yang lebih kuat dan kompetitif di tingkat global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa