Harga Emas Terus Naik, Saham ANTM Ditaksir Tembus Rp4.100

AKURAT.CO BRI Danareksa Sekuritas menilai proyeksi laba PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) masih solid. Bahkan, lembaga tersebut menaikkan estimasi laba bersih 2025-2027 sebesar 22,2 hingga 46,3%. Revisi ini dilakukan dengan mempertimbangkan kenaikan asumsi harga emas dan bijih nikel.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Naura Reyhan Muchlis, menyebutkan harga emas kini ditaksir akan ada pada kisaran USD3.300-3.400 per ons, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya yang berada di level USD2.900-3.000 per ons. Sementara harga bijih nikel diproyeksikan naik menjadi USD51 per ton.
Sejalan dengan prospek tersebut, analis BRI Danareksa Sekuritas merevisi target harga saham ANTM menjadi Rp4.100 per lembar saham, dari sebelumnya Rp3.000. Rekomendasi beli pun tetap dipertahankan.
Target harga baru ini dihitung berdasarkan forward PER sebesar 12,6 kali, yang merupakan rata-rata 10 tahun terakhir. Sebelumnya, target menggunakan acuan 11 kali.
“Kami percaya saham ANTM layak diperdagangkan pada rata-rata PER 10 tahunnya, mengingat prospek laba yang stabil dan dukungan harga komoditas yang kuat,” tulis Erindra dalam risetnya, dikutip Minggu (21/9/2025).
Baca Juga: Tertekan, Waspada Koreksi Saham ANTM ke Level Rp2.960
Meski demikian, analis mengingatkan adanya sejumlah risiko. Faktor utama yang perlu dicermati adalah keterlambatan atau penolakan RKAB, produksi bijih nikel yang tidak sesuai target, serta potensi pelemahan harga emas dan nikel di pasar global.
ANTM mengambil langkah konservatif dalam panduan operasional pada semester II-2025. Meski demikian, prospek harga bijih nikel dan emas yang masih menguntungkan diyakini akan menopang kinerja laba hingga 2026.
bahwa manajemen Antam menargetkan produksi bijih nikel sebesar 1-1,2 juta wmt per bulan pada paruh kedua tahun ini. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan semester I-2025 yang mencapai 1,5 juta wmt per bulan.
Penyesuaian target ini dilakukan seiring adanya penutupan sementara Gag Nikel. Dengan demikian, total produksi bijih nikel sepanjang 2025 diproyeksikan berada di kisaran 15-16 juta wmt.
Untuk penjualan emas, Antam juga menurunkan target pada semester II-2025 menjadi 1,5-2 ton per bulan. Sebelumnya, pada semester I, penjualan emas mencapai 2,5 ton per bulan. Penurunan ini terjadi karena kebijakan perusahaan yang memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan domestik.
Memasuki 2026, Antam memperkirakan volume penjualan bijih nikel masih dapat dipertahankan di level 16 juta wmt. Namun, realisasi angka tersebut bergantung pada persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Sementara itu, penjualan emas diproyeksikan berada di kisaran 43-44 ton sepanjang tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









