AKURAT.CO Harga Bitcoin kembali mencatatkan rekor baru dengan menyentuh angka USD105.000, atau sekitar Rp1,7 miliar.
Lonjakan ini dipicu oleh sejumlah faktor positif, mulai dari meningkatnya permintaan institusional, membaiknya situasi geopolitik global, hingga penurunan inflasi di Amerika Serikat.
CEO Indodax, Oscar Darmawan, dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis, menyampaikan bahwa kondisi ekonomi makro, terutama penurunan inflasi di AS, menjadi pemicu utama optimisme investor terhadap aset kripto.
Ia menjelaskan bahwa dengan inflasi yang melandai, harapan terhadap segera berakhirnya kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve (The Fed) semakin menguat.
“Dengan inflasi yang lebih rendah, investor merasa lebih yakin bahwa kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed akan segera berakhir,” ujar Oscar dalam keterangannya, Kamis (15/5/2025).
Hal ini menciptakan ruang bagi aliran dana baru ke aset berisiko, termasuk Bitcoin. Menurut Oscar, meningkatnya keterlibatan institusi keuangan besar dalam pembelian Bitcoin menunjukkan adanya perubahan persepsi terhadap kripto.
Bitcoin tidak lagi hanya dianggap sebagai aset spekulatif, melainkan telah bertransformasi menjadi alat lindung nilai dan investasi jangka panjang yang kredibel.
“Ini adalah sinyal positif untuk pasar kripto secara keseluruhan, termasuk di Indonesia. Semakin banyak institusi yang terlibat, semakin stabil Bitcoin dan semakin luas pula adopsinya di kalangan pelaku pasar tradisional,” imbuhnya.
Oscar menegaskan bahwa pencapaian harga Bitcoin yang kini menyentuh USD105.000 menjadi bukti kuatnya pondasi pasar kripto saat ini.
Permintaan tinggi dari institusi besar menjadi pendorong utama, terutama karena mereka melihat Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan pelindung nilai dari ketidakpastian ekonomi.
Selain faktor ekonomi, meredanya ketegangan perdagangan global, khususnya setelah tercapainya kesepakatan tarif antara Amerika Serikat dan Tiongkok, turut memperkuat sentimen positif di pasar.
Situasi ini menurunkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dan memberi ruang bagi aset digital untuk tumbuh.
Oscar juga mencatat bahwa perkembangan regulasi yang semakin jelas dan mendukung di sejumlah negara turut memperkuat kepercayaan pasar.
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya menciptakan kerangka regulasi yang menjaga stabilitas dan transparansi pasar kripto.
“Di Indonesia, OJK terus mendorong regulasi yang lebih baik untuk menjaga pasar kripto tetap sehat dan terawasi,” katanya.
Dirinya menambahkan, sikap terbuka dari berbagai negara terhadap legalitas aset kripto membuat para investor merasa lebih aman dan nyaman dalam bertransaksi.
Perkembangan ini menandai fase kedewasaan pasar kripto yang selama ini masih dinilai sangat volatil dan penuh risiko.
Meskipun optimistis terhadap tren positif Bitcoin, Oscar tetap mengimbau agar investor selalu waspada. Ia mengingatkan bahwa pergerakan harga kripto sangat sensitif terhadap dinamika global.
“Investor harus terus melakukan riset dan memahami risiko yang ada sebelum berinvestasi,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat










