Ketua Komisi XI Beberkan Tantangan Pengelolaan Asuransi di Indonesia
Demi Ermansyah | 28 Februari 2025, 23:22 WIB

AKURAT.CO Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, menjadikannya sulit mencari negara pembanding yang memiliki tantangan serupa dalam tata kelola dan pembangunan.
Menurut Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti kompleksitas tersebut, terutama dalam hal modernisasi dan pemerataan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
Misbakhun mengungkapkan bahwa meskipun Jakarta memiliki kemajuan yang tak jauh berbeda dari kota-kota besar seperti New York atau London, ketimpangan masih terasa begitu keluar dari ibu kota.
"Perbedaan geospasial yang ekstrim antara kota modern dan wilayah tertinggal menjadi tantangan besar dalam tata kelola ekonomi dan sosial, termasuk dalam sektor asuransi," ucapnya pada saat diskusi Insurance Forum CNBC di Jakarta, Jumat (28/2/2024).
Lebih lanjut, Misbakhun menjelaskan bahwa sistem asuransi di dunia terbagi menjadi dua pendekatan utama.
Negara-negara Skandinavia memiliki sistem social security yang kuat, sementara negara seperti Amerika Serikat dan Kanada lebih banyak mengandalkan sistem asuransi berbasis komersial. Indonesia, dengan segala tantangannya, harus mencari keseimbangan antara keduanya.
"Pemerintah harus hadir dalam menjamin kelompok masyarakat yang belum terangkat dalam proses pembangunan, baik karena pendidikan maupun penghasilan mereka," ujar Misbakhun.
"Pemerintah harus hadir dalam menjamin kelompok masyarakat yang belum terangkat dalam proses pembangunan, baik karena pendidikan maupun penghasilan mereka," ujar Misbakhun.
Oleh karena itu, Misbakhun menekankan bahwa isu akses data masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
"Di negara kita, data kesehatan pribadi tidak bisa diakses sembarangan. Kalau isu ini antara perusahaan dengan perusahaan, maka penyelesaiannya juga harus dilakukan sejak awal oleh pihak terkait," tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti bahwa masih banyak masyarakat yang lebih memilih memanfaatkan sistem asuransi sosial seperti BPJS karena biaya yang lebih murah, meskipun ada celah dalam pelaksanaannya.
Selain itu, ia menyoroti bahwa masih banyak masyarakat yang lebih memilih memanfaatkan sistem asuransi sosial seperti BPJS karena biaya yang lebih murah, meskipun ada celah dalam pelaksanaannya.
"Dulu, banyak ibu-ibu yang senang ikut BPJS karena bisa melahirkan dengan metode sesar yang biayanya jauh lebih tinggi dibandingkan iuran mereka," tambahnya.
"Oleh karena itu, industri ini harus diperkuat, dan salah satu cara membangun kepercayaan adalah dengan memastikan ada sistem penjaminan polis yang jelas," katanya.
Sebab, tambahnya, hal ini penting untuk memberikan kepastian bagi masyarakat dan pelaku industri asuransi agar sistem yang ada dapat berjalan dengan lebih baik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








