Akurat

Penutupan, IHSG Tersungkur 0,86 Persen ke 6.956,6

Hefriday | 14 Januari 2025, 18:03 WIB
Penutupan, IHSG Tersungkur 0,86 Persen ke 6.956,6

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan hari Selasa sore (14/1/2025) mengalami penurunan yang signifikan. IHSG ditutup turun sebesar 60,22 poin atau 0,86%, berakhir di level 6.956,66.

Penurunan ini dipicu oleh pelemahan mayoritas bursa saham kawasan Asia yang turut memberikan dampak negatif terhadap pasar saham domestik. Selain itu, situasi ketidakpastian global dan sentimen negatif menjelang pelantikan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada 20 Januari 2025, juga berperan dalam tekanan terhadap IHSG.

Sementara itu, indeks LQ45 yang mencatatkan pergerakan 45 saham unggulan, turut melemah 9,73 poin atau 1,20%, dan berakhir di level 801,24. Kinerja indeks saham unggulan ini mencerminkan kecenderungan negatif yang terjadi di pasar saham Indonesia pada hari itu. Meskipun sempat menguat di sesi pembukaan, IHSG akhirnya bergerak menuju zona merah dan bertahan di sana hingga penutupan perdagangan saham.
 
Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah 0,03 Persen, Investor Waspadai Imbal Hasil Obligasi AS

Dari sisi makro ekonomi global, ketidakpastian semakin terasa menjelang pelantikan Presiden AS yang baru, Donald Trump. Tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan bahwa anggota tim ekonomi Trump sedang merencanakan kebijakan ekonomi yang dapat mempengaruhi perdagangan internasional. 
 
Salah satu langkah yang sedang dibahas adalah penerapan kenaikan tarif secara bertahap dari bulan ke bulan, yang bertujuan untuk meningkatkan daya tawar AS dalam negosiasi perdagangan tanpa menimbulkan lonjakan inflasi yang tajam. Kebijakan ini, meski bertahap, dapat menambah ketidakpastian bagi pasar global, yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja bursa saham di negara berkembang seperti Indonesia.

Di sisi lain, sentimen positif datang dari kebijakan yang diambil oleh pemerintah China. Pemerintah China baru-baru ini mengizinkan perusahaan domestik untuk mengumpulkan dana lebih banyak dari luar negeri, yang diharapkan dapat memberikan dorongan terhadap perekonomian China. 
 
Selain itu, China juga mengisyaratkan akan meningkatkan konsumsi, memperluas impor, dan menarik investasi asing lebih banyak pada tahun 2025. Langkah-langkah ini dipandang sebagai sinyal positif bagi pasar saham, yang pada akhirnya memberikan harapan terhadap stabilitas ekonomi global.

Namun, meskipun ada langkah positif dari China, pasar saham global dan domestik masih dibayangi oleh sejumlah tantangan besar. Ketidakpastian inflasi yang belum mereda serta ketegangan geopolitik yang meningkat menjelang pelantikan Donald Trump menjadi ancaman utama yang membayangi pasar saham Indonesia. 
 
Selain itu, pelaku pasar masih mencermati dengan cermat perkembangan politik dan kebijakan ekonomi yang akan diambil oleh pemerintahan Trump, yang dapat mempengaruhi arus perdagangan internasional. Dari dalam negeri, pasar saham Indonesia juga menghadapi ketidakpastian yang cukup besar. Pelaku pasar tetap waspada terhadap kondisi ekonomi global yang masih diwarnai dengan ancaman inflasi yang belum dapat terkendali. 
 
Ketegangan geopolitik, terutama yang melibatkan negara-negara besar, turut menambah ketidakpastian di pasar saham domestik. Pada hari itu, IHSG dibuka menguat, namun seiring berjalannya waktu, IHSG mulai terkoreksi dan berakhir di zona merah.

Menanggapi kinerja pasar pada hari itu, sektor-sektor yang tercatat dalam Indeks Sektoral IDX-IC menunjukkan performa yang bervariasi. Sektor teknologi tercatat mengalami penguatan terbesar, naik sebesar 1,26%, diikuti sektor barang baku yang menguat 1,11%, serta sektor energi yang naik 0,93%.
 
Ketiga sektor ini tampaknya mendapat perhatian lebih dari pelaku pasar yang berharap akan adanya peningkatan konsumsi dan investasi yang mendorong kinerja perusahaan-perusahaan di sektor-sektor tersebut. Namun, di sisi lain, beberapa sektor mengalami penurunan yang cukup dalam.
 
Sektor kesehatan tercatat mengalami penurunan paling tajam, turun 1,44%, diikuti oleh sektor keuangan yang turun 1,21%, serta sektor barang konsumen primer yang melemah 0,54%. Penurunan sektor-sektor ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko-risiko ekonomi yang tengah berkembang, terutama terkait dengan inflasi dan ketegangan geopolitik yang mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi.

Beberapa saham yang tercatat mengalami penguatan signifikan pada perdagangan Selasa sore antara lain saham CHEM, RATU, CMNP, WIFI, dan JSPT. Di sisi lain, beberapa saham yang mengalami pelemahan terbesar antara lain GPSO, BRRC, SMIL, UANG, dan MPOW. Pergerakan saham-saham ini memberikan gambaran mengenai sentimen pasar yang masih fluktuatif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal.

Frekuensi perdagangan saham pada hari itu tercatat cukup tinggi, dengan 1.312.000 kali transaksi dan volume saham yang diperdagangkan mencapai 16,02 miliar lembar saham. Nilai total perdagangan saham pada hari itu mencapai Rp10,02 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, 310 saham tercatat menguat, sementara 321 saham mengalami penurunan, dan 324 saham lainnya tidak bergerak.

Selain itu, bursa saham di kawasan Asia juga menunjukkan kinerja yang bervariasi. Indeks Nikkei Jepang tercatat melemah 716,10 poin atau 1,83%ke posisi 38.474,30, sementara indeks Shanghai China justru mengalami penguatan, naik 80,18 poin atau 2,54% ke level 3.240,94. Di sisi lain, indeks saham di Kuala Lumpur dan Singapura tercatat melemah, masing-masing turun 9,13 poin (0,58%) dan 2,93 poin (0,08%).

Secara keseluruhan, IHSG pada perdagangan hari Selasa mencatatkan penurunan yang cukup signifikan, dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal yang menciptakan ketidakpastian di pasar. Meskipun ada sentimen positif dari kebijakan ekonomi China, namun ancaman inflasi global, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian menjelang pelantikan Presiden AS Donald Trump masih menjadi tantangan besar bagi pasar saham Indonesia.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa