AKURAT.CO Kebijakan kontroversial tarif Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mulai memberikan dampak nyata pada ekonomi global, terutama dalam kenaikan biaya pinjaman jangka panjang.
Dimana hal tersebut disampaikan secara langsung oleh Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, dirinya mengungkapkan bahwa ketidakpastian kebijakan perdagangan AS telah menciptakan tekanan baru yang mencolok di pasar keuangan internasional.
“Ketidakpastian terkait tarif ini tercermin dalam kenaikan suku bunga jangka panjang di seluruh dunia,” ungkap Georgieva dalam konferensi pers di Washington melalui lansiran New York Times, dikutip Minggu (12/1/2025).
Meskipun suku bunga jangka pendek justru mengalami penurunan, kombinasi ini menurutnya cukup jarang terjadi dan mengindikasikan dinamika ekonomi yang tidak biasa.
Usut punya usut, dalam masa kampanye Trump, ia berjanji akan mengenakan tarif baru pada berbagai negara, termasuk China, Kanada, dan Meksiko. Janji ini memicu kekhawatiran luas tentang potensi terganggunya rantai pasokan global.
Permasalahannya apabila ini terjadi, dampaknya tidak hanya memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, tetapi juga mendorong lonjakan harga barang-barang pokok.
Senada dengan pernyataan Georgieva, Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas bahkan memperkirakan tarif ini bisa memangkas output ekonomi global hingga 0,5%. Lonjakan ini sudah mulai terlihat di pasar, terutama melalui kenaikan tajam imbal hasil obligasi serta penguatan nilai dolar AS yang signifikan sejak akhir 2024.
“Negara-negara yang terintegrasi dalam rantai pasokan global, terutama kawasan Asia, akan paling terdampak kebijakan ini,” ujar Georgieva.
Bahkan, lanjutnya, penguatan dolar AS menjadi salah satu kekhawatiran utama bagi negara-negara berkembang.
Georgieva menegaskan bahwa hal ini berpotensi memicu kenaikan biaya pembiayaan, terutama untuk negara-negara berpendapatan rendah. Dengan keterbatasan fiskal dan ketergantungan pada pembiayaan eksternal, banyak negara berkembang bisa mengalami tekanan ekonomi yang lebih besar.
"Kami juga mencatat bahwa ketidakpastian kebijakan perdagangan AS memberikan tantangan tambahan bagi pemulihan ekonomi global yang masih rapuh, sebab hal ini menjadi salah satu lambatnya pertumbuhan ekonomi di beberapa kawasan, seperti Uni Eropa dan India, sementara China menghadapi tantangan berupa deflasi dan lemahnya permintaan domestik," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









