Akurat Logo

Masa Depan Ekonomi Syariah: Optimisme dan Tantangan Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan

Arief Rachman | 29 Desember 2024, 10:00 WIB
Masa Depan Ekonomi Syariah: Optimisme dan Tantangan Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan

AKURAT.CO Ekonomi syariah Indonesia terus menunjukkan potensi besar untuk menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Dengan populasi Muslim yang mencapai 245 juta jiwa, Indonesia memiliki peluang besar untuk memaksimalkan peran ekonomi syariah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Ekonom senior Indef, Didik J. Rachbini, mengatakan, peran ilmuwan dan praktisi ekonomi syariah menjadi kunci utama dalam mengembangkan ekosistem yang kompetitif di tingkat global.

“Kita perlu mendorong kolaborasi antara ilmuwan dan pelaku industri syariah untuk mempercepat inovasi. Tahun 2045, Indonesia berpotensi masuk lima besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia," kata Didik, Minggu (29/12/2024).

Peneliti di Center for Sharia Economic Development (CSED) Indef, Abdul Hakam Naja, mengatakan, perbankan syariah memiliki peluang besar untuk tumbuh, meskipun tantangan global tetap ada.

Tantangan seperti konflik geopolitik, perlambatan ekonomi global, hingga inflasi menjadi isu yang harus diatasi.

Baca Juga: Resmi Perkenalkan Pemain, Jakarta Electric PLN Optimis Tembus Final Four

"Proyeksi inflasi global pada 2024 akan melambat hingga 5,9 persen, namun ekonomi Indonesia menghadapi tantangan tambahan seperti kenaikan PPN menjadi 12 persen yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat," kata Abdul.

Indonesia juga menghadapi tantangan serius dalam mengejar ketertinggalan dari Malaysia dalam sektor perbankan syariah. Total aset perbankan syariah Malaysia mencapai Rp4.226,81 triliun, jauh melampaui Indonesia yang berada di angka Rp918,93 triliun.

Namun, Indonesia memiliki keunggulan dalam sektor UMKM, yang menyumbang 60,51 persen terhadap PDB dan menyerap 97 persen tenaga kerja nasional.

Pembiayaan syariah untuk UMKM saat ini baru mencapai 17,7 persen dari total pembiayaan, dan diharapkan meningkat hingga 30 persen pada 2025.

Transformasi digital menjadi prioritas utama untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan. Generasi milenial dan Gen Z menjadi target utama, namun tantangan keamanan digital tetap menjadi perhatian.

"Pembangunan ekosistem ekonomi syariah dan industri halal harus melibatkan sinergi antara sektor keuangan dan sektor industri halal," tambah Abdul.

Hilirisasi sumber daya alam juga menjadi peluang besar untuk memajukan ekonomi.

Baca Juga: Mensesneg Jadwal Ulang Pertemuan Prabowo dan Anwar Ibrahim: Kemungkinan Januari 2025

Langkah ini dapat didukung melalui pengembangan sektor manufaktur dan keuangan syariah, termasuk pendirian Bank Emas (Bullion Bank), yang akan menjadi terobosan dalam memperkuat industri berbasis syariah.

Implementasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam ekonomi syariah sejalan dengan nilai-nilai maqashid syariah. Hal ini menjadi peluang besar bagi perbankan syariah untuk berkembang pesat, terutama dalam mendukung ekonomi hijau.

Dengan berbagai peluang besar di sektor ekonomi syariah, Indonesia diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2028.

Meski tantangan tidak bisa dihindari, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri akan menjadi kunci untuk mewujudkan visi ini.

Ekonomi syariah tidak hanya menjadi penggerak ekonomi domestik, tetapi juga alat penting untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

Baca Juga: Puasnya Carlos Pena Bungkam Malut United dan Tutup Putaran Pertama dengan 3 Poin

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.