Menteri Budi Arie Sebut Koperasi Solusi Atasi Kemiskinan
Hefriday | 13 November 2024, 00:04 WIB

AKURAT.CO Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop) Budi Arie Setiadi mengungkapkan bahwa koperasi dapat menjadi alat yang efektif untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2023, masih ada sekitar 14 juta keluarga yang hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
Menanggapi hal tersebut, Menkop menekankan bahwa koperasi bisa menjadi solusi yang tepat untuk mengangkat derajat ekonomi masyarakat, terutama kelompok yang terpinggirkan.
Budi Arie menyatakan bahwa koperasi adalah organisasi masyarakat yang sangat sesuai dengan budaya Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai gotong royong, kekeluargaan, dan tolong-menolong.
Budi Arie menyatakan bahwa koperasi adalah organisasi masyarakat yang sangat sesuai dengan budaya Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai gotong royong, kekeluargaan, dan tolong-menolong.
“Seperti yang dikatakan Bung Hatta, mengelola koperasi itu memerlukan kejujuran dan kesetiakawanan. Ini sangat sesuai dengan jati diri masyarakat Indonesia,” ujarnya di sela CNN Indonesia Financial Forum 2024 di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (12/11/2024).
Baca Juga: Kemenkop Didorong Perkuat Agromaritim Berbasis Koperasi
Sebagai sistem ekonomi yang sudah lama ada, koperasi memiliki potensi besar untuk berperan dalam perekonomian Indonesia.
Sebagai sistem ekonomi yang sudah lama ada, koperasi memiliki potensi besar untuk berperan dalam perekonomian Indonesia.
Namun, saat ini kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih sangat kecil, yakni hanya 1,17%. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak ruang untuk meningkatkan kontribusi koperasi terhadap ekonomi nasional.
Selain itu, aset koperasi Indonesia pada 2023 tercatat sebesar Rp275 triliun. Meski angkanya sudah cukup besar, Menkop Budi Arie menyebutkan bahwa aset ini masih bisa dioptimalkan lebih jauh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Selain itu, aset koperasi Indonesia pada 2023 tercatat sebesar Rp275 triliun. Meski angkanya sudah cukup besar, Menkop Budi Arie menyebutkan bahwa aset ini masih bisa dioptimalkan lebih jauh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Untuk itu, kementeriannya berencana untuk mendorong pertumbuhan koperasi yang lebih signifikan, dengan target meningkatkan jumlah anggota koperasi hingga 60 juta orang, dari yang saat ini tercatat 28,84 juta orang.
Peningkatan jumlah anggota koperasi bukan hanya untuk memperluas jangkauan ekonomi, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam mempercepat inklusi keuangan di Indonesia. Budi Arie menegaskan bahwa koperasi harus dapat menyediakan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan anggotanya.
Peningkatan jumlah anggota koperasi bukan hanya untuk memperluas jangkauan ekonomi, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam mempercepat inklusi keuangan di Indonesia. Budi Arie menegaskan bahwa koperasi harus dapat menyediakan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan anggotanya.
Dengan demikian, koperasi bisa menjadi alat untuk mendorong akses keuangan yang lebih merata, terutama bagi masyarakat di pedesaan, pekerja informal, dan mereka yang berada dalam kategori prasejahtera.
"Inklusi keuangan menjadi bagian penting dalam mencapai kemandirian ekonomi masyarakat di suatu daerah. Koperasi harus mampu memberikan akses keuangan yang lebih luas kepada anggotanya, dengan memastikan mereka memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses layanan keuangan koperasi," tutur Budi Arie.
Untuk itu, Kementerian Koperasi akan fokus pada penguatan kapasitas anggota koperasi dalam hal literasi dan pendidikan keuangan. Dengan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan keuangan, anggota koperasi diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola sumber daya ekonomi mereka.
Budi Arie juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam transformasi koperasi. Di era digital ini, teknologi dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan koperasi. Digitalisasi diharapkan dapat mempercepat akses keuangan anggota koperasi dan memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi.
"Koperasi harus melakukan digitalisasi untuk memperbaiki akuntabilitas dan memperluas akses keuangan. Misalnya, penerapan sistem data online yang memungkinkan anggota koperasi untuk mengakses informasi produk keuangan dengan mudah dan transparan," jelasnya.
Digitalisasi koperasi juga berpotensi memperluas mekanisme pembayaran, menambah opsi pembayaran, serta membantu mempercepat proses pengembangan koperasi. Budi Arie menambahkan bahwa langkah-langkah ini akan membantu koperasi menjadi lebih modern dan adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi juga mengungkapkan tiga program strategis yang akan diterapkan dalam membangun koperasi di Indonesia. Pertama, program digitalisasi koperasi yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional koperasi dan memperluas akses keuangan bagi anggota.
"Inklusi keuangan menjadi bagian penting dalam mencapai kemandirian ekonomi masyarakat di suatu daerah. Koperasi harus mampu memberikan akses keuangan yang lebih luas kepada anggotanya, dengan memastikan mereka memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses layanan keuangan koperasi," tutur Budi Arie.
Untuk itu, Kementerian Koperasi akan fokus pada penguatan kapasitas anggota koperasi dalam hal literasi dan pendidikan keuangan. Dengan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan keuangan, anggota koperasi diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola sumber daya ekonomi mereka.
Budi Arie juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam transformasi koperasi. Di era digital ini, teknologi dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan koperasi. Digitalisasi diharapkan dapat mempercepat akses keuangan anggota koperasi dan memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi.
"Koperasi harus melakukan digitalisasi untuk memperbaiki akuntabilitas dan memperluas akses keuangan. Misalnya, penerapan sistem data online yang memungkinkan anggota koperasi untuk mengakses informasi produk keuangan dengan mudah dan transparan," jelasnya.
Digitalisasi koperasi juga berpotensi memperluas mekanisme pembayaran, menambah opsi pembayaran, serta membantu mempercepat proses pengembangan koperasi. Budi Arie menambahkan bahwa langkah-langkah ini akan membantu koperasi menjadi lebih modern dan adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi juga mengungkapkan tiga program strategis yang akan diterapkan dalam membangun koperasi di Indonesia. Pertama, program digitalisasi koperasi yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional koperasi dan memperluas akses keuangan bagi anggota.
Kedua, program rebranding koperasi, yang bertujuan untuk mengubah citra koperasi di mata masyarakat, terutama generasi muda. "Kita ingin koperasi dikenal sebagai organisasi yang relevan dan dapat dipercaya, terutama bagi generasi muda, seperti Gen-Z," ujarnya.
Ketiga, program peningkatan tata kelola sumber daya manusia dalam koperasi. Menurut Budi Arie, untuk memperkuat koperasi, pengelolaan sumber daya manusia yang berkualitas sangat penting. Ini akan berpengaruh langsung pada keberlanjutan dan efisiensi koperasi dalam mengelola anggotanya.
"Koperasi harus terhubung dengan baik melalui sistem komunikasi yang modern dan terintegrasi, misalnya dengan menggunakan aplikasi super yang dapat memfasilitasi komunikasi antar anggota koperasi di seluruh Indonesia," tambah Budi Arie.
Budi Arie juga mengajak semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat, untuk bersama-sama bekerja demi kemajuan koperasi di Indonesia. “Harapannya, kolaborasi antara pemangku kepentingan bisa mengakselerasi perubahan-perubahan positif bagi koperasi di Indonesia,” tuturnya.
Kementerian Koperasi akan terus berupaya memperbaiki kelembagaan koperasi di tanah air, salah satunya dengan memastikan lebih banyak koperasi yang menggelar rapat anggota tahunan (RAT).
Ketiga, program peningkatan tata kelola sumber daya manusia dalam koperasi. Menurut Budi Arie, untuk memperkuat koperasi, pengelolaan sumber daya manusia yang berkualitas sangat penting. Ini akan berpengaruh langsung pada keberlanjutan dan efisiensi koperasi dalam mengelola anggotanya.
"Koperasi harus terhubung dengan baik melalui sistem komunikasi yang modern dan terintegrasi, misalnya dengan menggunakan aplikasi super yang dapat memfasilitasi komunikasi antar anggota koperasi di seluruh Indonesia," tambah Budi Arie.
Budi Arie juga mengajak semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat, untuk bersama-sama bekerja demi kemajuan koperasi di Indonesia. “Harapannya, kolaborasi antara pemangku kepentingan bisa mengakselerasi perubahan-perubahan positif bagi koperasi di Indonesia,” tuturnya.
Kementerian Koperasi akan terus berupaya memperbaiki kelembagaan koperasi di tanah air, salah satunya dengan memastikan lebih banyak koperasi yang menggelar rapat anggota tahunan (RAT).
Berdasarkan data, meskipun jumlah koperasi di Indonesia mencapai sekitar 131 ribu, hanya 41 ribu koperasi yang aktif menggelar RAT, yang berarti kurang dari sepertiga koperasi yang ada yang melaksanakan kegiatan tersebut.
Salah satu fokus utama dalam rebranding koperasi adalah menarik perhatian generasi muda untuk bergabung dengan koperasi.
Budi Arie berharap generasi muda, khususnya Gen Z, dapat melihat koperasi sebagai peluang untuk mengembangkan potensi ekonomi mereka. Dengan pendekatan yang lebih modern dan relevan, koperasi bisa menjadi pilihan yang menarik bagi generasi masa depan.
Dalam konteks ini, Budi Arie menambahkan bahwa koperasi tidak hanya berfokus pada sektor ekonomi, tetapi juga pada pengembangan sosial dan kesejahteraan anggotanya. Oleh karena itu, koperasi dapat menjadi model ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Budi Arie turut mengajak semua pihak untuk bersama-sama mewujudkan koperasi sebagai pilar utama dalam perekonomian Indonesia. Koperasi, menurutnya, memiliki potensi untuk memperbaiki ketimpangan ekonomi dan menciptakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, terutama mereka yang terpinggirkan.
"Apabila koperasi dapat berkembang dengan baik, kita yakin koperasi akan menjadi bagian dari solusi untuk menuntaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia," ungkap Budi.
Dalam konteks ini, Budi Arie menambahkan bahwa koperasi tidak hanya berfokus pada sektor ekonomi, tetapi juga pada pengembangan sosial dan kesejahteraan anggotanya. Oleh karena itu, koperasi dapat menjadi model ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Budi Arie turut mengajak semua pihak untuk bersama-sama mewujudkan koperasi sebagai pilar utama dalam perekonomian Indonesia. Koperasi, menurutnya, memiliki potensi untuk memperbaiki ketimpangan ekonomi dan menciptakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, terutama mereka yang terpinggirkan.
"Apabila koperasi dapat berkembang dengan baik, kita yakin koperasi akan menjadi bagian dari solusi untuk menuntaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia," ungkap Budi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









