Bitcoin Melaju ke USD60.000 Imbas Rendahnya Inflasi Tahunan AS
Demi Ermansyah | 15 Agustus 2024, 17:38 WIB

AKURAT.CO Harga Bitcoin berhasil tembus USD60.000 di tengah sentimen melambatnya inflasi Amerika Serikat yang tercermin dari Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) lebih rendah dari perkiraan, memperkuat spekulasi The Fed memulai pelonggaran moneter pada September.
Berdasarkan data CoinMarketcap, Rabu (14/8/2024) siang, Bitcoin mencatatkan kenaikan 2,74 persen ke level USD60.806 (Rp954 Juta) dan dipercaya merupakan respons pasar atas terbitnya data inflasi di pekan ini.
Secara luas, fluktuatifnya laju Aset Kripto merupakan efek dari volatilitas beberapa hari yang mencerminkan sentimen di pasar masih amat sensitif setelah mengalami koreksi amat dalam di sepanjang sebulan perdagangan.
Baca Juga: Bitcoin dan ETH Anjlok Lebih dari 4 Persen
Analis Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha memaparkan, pekan ini, pasar Aset Kripto diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi penting. Pada Selasa, laporan Indeks Harga Produsen pada Juli dirilis. Laporan ini mencerminkan harga input bagi produsen dan pabrikan, yang mengukur biaya produksi barang konsumsi, dan secara langsung mempengaruhi harga ritel.
“Selain itu, laporan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) untuk Juli akan dirilis pada Rabu, memberikan gambaran yang lebih luas tentang tekanan inflasi,” mengutip riset yang diterbitkan, Rabu (14/8/2024).
Asal tahu CPI AS untuk Juli 2024 naik 0,2%, dibanding bulan sebelumnya yang turun 0,1%. Secara tahunan, CPI AS cuma tembus 2,9% dan merupakan yang terendah sejak 2021.
Sementara, dari sisi teknikal saat ini, Bitcoin berhasil bergerak di atas USD60.000, setelah sempat diperdagangkan mendekati level support di USD57.000 pada Senin (12/8/2024) kemarin. Pekan ini, Bitcoin sedang berjuang untuk bertahan di atas USD59.000 untuk kembali menguji MA-50 di sekitar USD61.750.
Namun, jika mengalami penolakan di area resistance USD60.000, maka BTC potensi kembali melemah ke sekitar support USD57.000. Dengan support kuat selanjutnya di USD50.000. “Data inflasi pekan ini menjadi penentu kebijakan Federal Reserve selanjutnya, yang bisa berdampak signifikan pada dinamika pasar Bitcoin,” terang Panji melalui lansiran Bloomberg.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








