Akurat Logo

Volume Perdagangan Kripto Anjlok 224 Persen, Masih Menarik?

Aris Rismawan | 16 November 2023, 13:25 WIB
 Volume Perdagangan Kripto Anjlok 224 Persen, Masih Menarik?

AKURAT.CO Volume perdagangan aset kripto di Indonesia telah mengalami penurunan drastis sebesar 224% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp94,4 triliun pada September 2023.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), trend penurunan ini telah berlanjut dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021, volume perdagangan aset kripto telah mencapai puncaknya sebesar Rp859,4 triliun. Namun angka tersebut, turun cukup dalam pada tahun 2022 sebesar 6,3% (yoy) menjadi Rp306,4 triliun.

Berdasarkan catatan OJK, salah satu penyebab penurunan ini dikarenakan tingginya pengenaan pajak. Namun, OJK juga menyebutkan bahwa perpajakan pada transaksi kripto dianggap sebagai hal yang positif.

Baca Juga: Sambut Bull Run Kripto, Tokocrypto Luncurkan Fitur Baru

Menyoroti fenomena ini, CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis mengatakan bahwa bisnis crypto exchange masih memiliki potensi besar di Indonesia. Menurutnya, pasar investasi kripto di Indonesia sudah mencapai lebih dari 17 juta investor, dimana angka tersebut masih mewakili sekitar 5-6% dari total penduduk Indonesia. Yudhono melihat masih ada ruang yang sangat besar bagi pertumbuhan dan ekspansi dalam sektor kripto Indonesia.

“Dari segi regulasi serta faktor makro lainnya, bisnis crypto exchange di Indonesia tidak terlalu menarik. Secara sederhana, semuanya bergantung pada potensi pasar. Indonesia memiliki populasi yang mayoritas terdiri dari generasi muda, dan ini menjadikan potensi pasar kripto yang besar ke depannya,” kata Yudhono dikutip Kamis (16/11/2023).

Ditambahkan, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat sudah ada 32 Calon Pedagang Fisik Aset Kripto (CPFAK) yang menjanjikan peluang besar bagi investor di ruang kripto.

“Dengan banyaknya pemain di Industri, ini menunjukkan bahwa pasar dan ekosistemnya semakin matang dan berkembang,” ucap Yudhono.

Regulasi Pendukung

Yudhono melihat peralihan pengaturan perdagangan aset kripto dari Bappebti ke OJK, yang dinilai regulasinya lebih kuat dan jelas dari OJK, potensi untuk meningkatkan kepercayaan investor dalam perdagangan aset kripto di Indonesia semakin besar.

Bos Tokocyrpto tersebut menjelaskan, dampak positif dalam menarik lebih banyak partisipan dan modal ke dalam pasar kripto akan memacu pertumbuhan bisnis di sektor ini.

“Harapannya, dengan perpindahan ke OJK, 5 tahun lagi akan ada kolaborasi antara TradFi dan kripto. Nantinya, institusi keuangan tradisional di Indonesia yang tertarik dengan kripto dapat membelinya dari pedagang berlisensi, sehingga meningkatkan bisnis mereka,” ungkap Yudhono.

Sebagai tambahan, saat ini Tokocrypto, bersama dengan Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), terus aktif berdialog dengan semua pihak yang terlibat, termasuk Bappebti dan OJK, dalam upaya menciptakan regulasi yang adil dan mendukung inovasi di industri aset kripto.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.