OJK: Aset Keuangan Syariah Indonesia Tahun 2022 Tumbuh 15,87 Persen

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, ekonomi keuangan syariah Indonesia pada tahun 2022 tumbuh. Selama tahun 2022, aset industri keuangan syariah telah mencapai Rp2.375,84 triliun yang meningkat dari tahun 2021 sebesar Rp2.050,44 triliun.
“Di tahun ketiga pandemi covid-19, aset keuangan syariah Indonesia mampu tumbuh 15,87 persen (yoy) menjadi Rp2.375,84 triliun meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp2.050,44 triliun,” tulis laporan OJK yang dikutip pada Jumat (30/6/2023).
Dari sisi pasar modal syariah, yang memiliki porsi terbesar dalam aset keuangan syariah sebesar (60,08 persen) mengalami pertumbuhan dengan laju 15,51 persen (yoy) lebih tinggi dari tahun 2021 sebesar 14,83 persen (yoy).
Adapun, perbankan syariah dengan pangsa pasar 33,77 persen dari keuangan syariah berakselerasi sebesar 15,63 persen (yoy) jika dibandingkan tahun 2021 sebesar 13,94 persen (yoy).
Sementara itu, dari sisi Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) syariah yang memiliki porsi sebesar 6,15 persen dari total aset keuangan syariah mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi hingga sebesar 20,88 persen (yoy) jika dibandingkan dengan tahun 2021 sebesar 3,90 persen (yoy).
Selanjutnya, ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia semakin di perhitungkan di dunia internasional. Di tengah masa pemulihan pasca pandemi ini, Indonesia telah mampu mempertahankan peringkat ketiga dalam Islamic Finance Development Indicator 2022 serta menjadi salah satu negara terbaik dalam pengolahan ekonomi dan keuangan syariah.
Berdasarkan Islamic Finance Development Report 2022, total aset keuangan syariah Indonesia mencapai USD139 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar USD119 miliar.
Posisi Indonesia pada peta keuangan syariah global juga tidak berubah, masih menempati posisi ketujuh untuk total aset keuangan syariah terbesar di dunia.
”Peningkatan aset ini didominasi oleh instrumen sukuk dari sebelumnya USD73 miliar menjadi USD84 miliar pada tahun 2021. Instrumen sukuk juga menjadi alternatif instrumen keuangan yang diminati untuk Indonesia dalam rangka melonggarkan tekanan anggaran negara akibat perlambatan ekonomi saat pandemi covid-19,” tulis OJK.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit




