Krisis Ekonomi Argentina Buat Masyarakat Terdampak Signifikan

AKURAT.CO Krisis Ekonomi yang terjadi di Argentina saat ini memberikan pengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakatnya lantaran inflasi yang begitu tinggi.
Salah satunya dialami oleh fotografer asal Argentina,Irina Werning menyampaikan bahwa inflasi yang semakin meroket membuat ilmu ekonominya selalu dipakai untuk bertahan hidup.
"Saya pikir saya tidak akan pernah menggunakan gelar saya, tetapi saya kembali ke Argentina dari Inggris dan menggunakannya setiap hari, setiap saat," katanya kepada The Guardian, Selasa (11/10/2022).
Ketika kita melihat ekonomi saat ini, lanjutnya, ada banyak sekali jumlah pekerjaan kosong yang sangat tinggi hal ini menjadi sinyal tersendiri bahwa ada ruang untuk memperlambat ekonomi, tanpa banyak orang kehilangan pekerjaan," jelasnya.
Mayoritas krisis perekonomian suatu negara selalu dipicu oleh utang berlebihan, itu juga yang sedang dialami Argentina. Negeri yang tengah porak poranda ekonominya ini memiliki total utang setara lebih dari Rp515 ribu triliun bila di rupiahkan dengan kurs Rp15.290 per dolar Amerika Serikat.
Rincian utangnya tersebar dalam beberapa denominasi, dengan mayoritas dalam mata uang dolar Amerika Seriktar sebesar USD29,4 triliun atau setara 60,9% dari total utang. Data dari Refinitiv juga menunjukkan utang dalam mata uang lokal sebesar ARS13,3 triliun (27,56%) dan EUR4,3 triliun (8,93%). Ketiga denominasi itu mencakup 97,39% dari total utang Argentina.
Jumlah utang jumbo Argentina itu membuat rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) mereka mencapai 80.5% pada 2021. Pada tahun yang sama, rasio utang Indonesia hanya 35% terhadap PDB.
Sementara itu, kinerja ekspor negara penghasil gandum ini terus menerus jeblok, sehingga tak bisa mengimbangi kebutuhannya akan dolar AS yang tinggi, baik untuk membayar utang maupun impor kebutuhan dalam negeri.
Data Institut Nasional Statistik dan Sensus Argentina (Instituto Nacional de Estadística y Censos/INDEC) menunjukkan neraca dagang defisit USD300 juta pada Agustus. Ini masih terbilang membaik, dari defisit USD437 juta pada Juli.
Pelemahan permintaan dunia membuat ekspor mereka tertekan secara tahunan hingga 6.9% pada Agustus, sementara nilai impor justru mengingkat 36.2%. Terutama akibat ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar dan pelumas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai



