Akurat Logo

Robot Humanoid Salip Pelari Manusia di Half Marathon Beijing, Teknologi Makin Melaju

Winna Wandayani | 23 April 2026, 18:22 WIB
Robot Humanoid Salip Pelari Manusia di Half Marathon Beijing, Teknologi Makin Melaju
Robot Humanoid Salip Pelari Manusia di Half Marathon Beijing, Teknologi Makin Melaju (Reuters.com)

AKURAT.CO Lomba setengah maraton di Beijing akhir pekan lalu menjadi panggung unjuk kemampuan robot humanoid. Puluhan robot buatan China tampil lebih lincah dan mandiri, bahkan mampu melampaui pelari manusia di lintasan.

Ajang ini sekaligus menunjukkan lonjakan kemampuan teknologi robotika dalam waktu singkat. Dibandingkan edisi perdana tahun lalu yang penuh gangguan teknis, performa robot kini jauh lebih stabil dan kompetitif.

Pada penyelenggaraan sebelumnya, banyak robot gagal menyelesaikan lomba. Pemenang robot saat itu mencatat waktu 2 jam 40 menit, terpaut jauh dari pelari manusia.

Namun tahun ini situasinya berbalik drastis. Jumlah peserta melonjak dari sekitar 20 tim menjadi lebih dari 100, dengan sejumlah robot mencatat waktu yang lebih cepat dari atlet profesional.

Sebagian robot bahkan unggul lebih dari 10 menit dari pemenang manusia. Ini menandai peningkatan signifikan dalam aspek kecepatan dan efisiensi gerak.

Perubahan lain terlihat dari kemampuan navigasi. Hampir separuh robot mampu berlari secara mandiri di lintasan sejauh 21 km tanpa kendali jarak jauh, meski tetap dipisahkan jalurnya dari sekitar 12.000 pelari manusia demi keamanan.

Robot tercepat dalam lomba ini dikembangkan oleh Honor, merek teknologi asal China. Mesin tersebut menyelesaikan balapan dalam waktu 50 menit 26 detik, melampaui rekor dunia half marathon manusia yang baru saja dibuat pelari Uganda.

Tim Honor, yang merupakan pecahan dari Huawei, menyapu tiga posisi teratas. Semua robot mereka mengandalkan sistem navigasi otonom dan desain yang meniru biomekanika pelari manusia.

Menurut insinyur Honor, Du Xiaodi, robot tersebut dikembangkan selama sekitar satu tahun. Desain kakinya dibuat sepanjang 90-95 cm untuk meniru langkah pelari elit, ditambah sistem pendingin cair yang diadaptasi dari teknologi smartphone.

"Berjalan lebih cepat mungkin tidak tampak berarti pada awalnya, tetapi itu memungkinkan transfer teknologi, misalnya, ke dalam keandalan struktural dan pendinginan, dan akhirnya aplikasi industri," ujarnya, dikutip dari Reuters, Rabu (22/4/2026).

Baca Juga: Intel Gabung Proyek Chip AI Elon Musk, Ambisi Robot Humanoid dan Pusat Data

Ia menilai kemampuan berlari cepat bukan sekadar pencapaian olahraga. Teknologi di baliknya berpotensi diterapkan pada sektor industri, terutama untuk meningkatkan ketahanan struktur dan sistem pendinginan perangkat.

Meski begitu, pengembangan robot humanoid masih tergolong tahap awal. Para ahli menilai masih banyak tantangan sebelum teknologi ini benar-benar bisa digunakan secara luas di industri.

Beberapa kendala utama meliputi kemampuan manipulasi objek, persepsi lingkungan nyata, serta efisiensi kerja dibanding manusia. Hal-hal tersebut menjadi faktor penting dalam penggunaan di pabrik atau pekerjaan kompleks lainnya.

Di sisi lain, publik melihat ajang ini sebagai bukti kemajuan pesat AI dan robotika. Banyak penonton mengaku terkesan dengan cara robot bergerak yang semakin natural.

Antusiasme juga terlihat dari generasi muda. Sejumlah pelajar mengaku terdorong untuk mendalami bidang robotika setelah menyaksikan langsung perlombaan tersebut.

Pemerintah China sendiri terus mendorong pengembangan sektor ini melalui berbagai kebijakan dan investasi. Targetnya adalah menjadikan robot humanoid sebagai bagian penting dalam masa depan industri dan manufaktur.

Dorongan tersebut juga terlihat dalam berbagai acara nasional. Salah satunya melalui pertunjukan robot humanoid di acara besar televisi yang menampilkan kemampuan bela diri dan koordinasi kompleks, sebagai simbol ambisi teknologi negara tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.