Mantan Eksekutif Google Sebut Gelar Hukum dan Kedokteran Bisa Tertinggal oleh AI

AKURAT.CO Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang melesat cepat mulai memicu perdebatan soal relevansi pendidikan tinggi. Sejumlah tokoh teknologi menilai jalur akademik panjang, termasuk gelar doktor, tak lagi menjamin keunggulan di pasar kerja.
Jad Tarifi, pendiri tim generative AI pertama di Google, menilai mahasiswa berisiko tertinggal oleh perubahan teknologi sebelum menyelesaikan studi mereka.
Menurutnya, waktu bertahun-tahun di bangku kuliah bisa menjadi kurang relevan ketika AI berkembang dalam hitungan bulan.
Ia menyoroti bahwa bidang seperti hukum dan kedokteran membutuhkan proses pendidikan yang panjang dan mahal. Sementara itu, AI terus meningkatkan kemampuannya dalam analisis data, diagnosis, hingga pengolahan informasi kompleks.
"AI sendiri akan hilang pada saat Anda menyelesaikan PhD. Bahkan hal-hal seperti menerapkan AI ke robotika akan diselesaikan pada saat itu," ujar Tarifi, dikutip dari Business Insider, Selasa (3/3/2026).
Tarifi yang meraih PhD AI pada 2012 mengakui situasi kini sangat berbeda dibanding satu dekade lalu. Jika dulu AI masih niche, sekarang teknologi ini menjadi arus utama yang memengaruhi hampir semua industri.
Ia mendorong generasi muda untuk tidak semata mengejar kredensial akademik. Fokus seharusnya bergeser pada pengembangan perspektif unik, kecerdasan emosional, serta kemampuan membangun relasi yang kuat.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan CEO OpenAI Sam Altman yang menyebut model AI terbaru mampu memberi jawaban setara pakar tingkat doktoral. Bill Gates pun mengakui percepatan AI terjadi lebih cepat dari yang ia bayangkan sebelumnya.
CEO Meta Mark Zuckerberg juga mempertanyakan apakah perguruan tinggi benar-benar menyiapkan mahasiswa untuk kebutuhan industri saat ini. Ia menilai biaya kuliah yang terus meningkat tidak selalu sebanding dengan kesiapan kerja lulusan.
Meski begitu, gelar PhD di bidang AI masih sangat diminati perusahaan teknologi besar. Data menunjukkan sebagian besar lulusan doktoral AI kini berkarier di sektor swasta dengan tawaran gaji tinggi.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran soal potensi brain drain di dunia akademik. Di tengah gelombang AI yang masif, masa depan pendidikan tinggi pun berada di persimpangan antara mempertahankan tradisi atau beradaptasi lebih radikal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit







