CEO Nvidia Tegaskan Tidak Ada Rencana Jual Chip Blackwell ke Cina

AKURAT.CO CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa perusahaan tidak memiliki pembicaraan aktif mengenai penjualan chip AI terbaru, Blackwell, ke Cina. Pernyataan ini ia sampaikan saat tiba di Tainan, Taiwan, Jumat (7/11/2025), dalam kunjungan kerjanya keempat tahun.
Blackwell merupakan chip kecerdasan buatan unggulan Nvidia yang saat ini dilarang dijual ke Cina oleh pemerintah Amerika Serikat. Larangan tersebut diberlakukan karena kekhawatiran chip tersebut dapat memperkuat kemampuan militer dan industri AI di negara itu.
Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping akan menghasilkan kesepakatan terkait penjualan versi terbatas Blackwell. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda adanya izin ekspor chip tersebut ke pasar Cina.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (8/11/2025), Huang menegaskan bahwa Nvidia belum memiliki rencana untuk mengirim produk apa pun ke Cina dalam waktu dekat. Ia juga berharap pemerintah Cina dapat mengubah kebijakan yang menghambat kehadiran produk Nvidia di negara tersebut.
Meski chip H20 diizinkan untuk dijual di pasar Cina, pangsa pasar Nvidia di segmen chip AI canggih tetap nihil. Huang menilai situasi ini terjadi karena kebijakan Cina yang tidak mendukung keberadaan perusahaan teknologi asal Amerika.
Dalam kunjungannya ke Taiwan, Huang juga menyempatkan diri bertemu dengan mitra lama, TSMC dan mengikuti kegiatan olahraga perusahaan. Ia mengaku bisnis Nvidia saat ini berada dalam kondisi yang sangat kuat dan stabil.
Menanggapi rencana CEO Tesla, Elon Musk, yang ingin membangun pabrik semikonduktor, Huang menyebut hal itu bukan tugas mudah. Menurutnya, manufaktur chip canggih seperti yang dimiliki TSMC membutuhkan teknologi tingkat tinggi dan investasi besar.
Huang juga meluruskan pemberitaan yang menyebutkan dirinya mengatakan Cina akan memenangkan persaingan AI global. Ia menjelaskan bahwa maksudnya adalah Cina memiliki banyak peneliti dan teknologi AI yang berkembang pesat.
Ia menyebut bahwa sekitar 50 persen peneliti AI dunia berasal dari Cina, dan sebagian besar model AI sumber terbuka populer juga dikembangkan di negara tersebut. Karena itu, Huang menilai Amerika Serikat harus terus bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam persaingan teknologi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







