AKURAT.CO, Para ilmuwan telah menggabungkan teknologi radar dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi perubahan kadar glukosa.
Ini tentu suatu kemajuan yang dapat membantu penderita diabetes memantau gula darah mereka tanpa menusuk jari yang menyakitkan beberapa kali sehari.
Dilansir dari Gadgets Now Online, Sabtu (30/6), penelitian ini berkolaborasi dengan Google dan perusahaan perangkat keras Jerman, Infineon, yang bersama-sama mengembangkan perangkat radar kecil dan mencari masukan dari tim terpilih di seluruh dunia tentang aplikasi potensial.
"Kami ingin merasakan darah di dalam tubuh tanpa benar-benar harus mengambil sampel cairan. Harapan kami adalah ini dapat diwujudkan sebagai jam pintar untuk memantau glukosa secara terus menerus," kata George Shaker, seorang profesor teknik di University of Waterloo di Kanada.
Sistem di Waterloo menggunakan perangkat radar untuk mengirim gelombang radio frekuensi tinggi ke dalam cairan yang mengandung berbagai tingkat glukosa, dan menerima gelombang radio yang dipantulkan kembali padanya.
Informasi tentang gelombang yang dipantulkan kemudian diubah menjadi data digital untuk analisis oleh algoritma AI pembelajaran mesin yang dikembangkan oleh para peneliti. Perangkat lunak ini mampu mendeteksi perubahan glukosa berdasarkan lebih dari 500 fitur atau karakteristik gelombang, termasuk waktu yang diperlukan untuk memantul kembali ke perangkat.
Tes awal dengan seorang sukarelawan di Research Institute for Aging di Waterloo mencapai hasil yang 85 persen seakurat analisis darah invasif tradisional.
"Korelasi itu benar-benar luar biasa. Kami telah menunjukkan bahwa mungkin untuk menggunakan radar untuk melihat ke dalam darah untuk mendeteksi perubahan," kata Shaker.
Langkah selanjutnya termasuk memperbaiki sistem untuk secara tepat mengukur kadar glukosa dan mendapatkan hasil melalui kulit, yang mempersulit proses.
Para peneliti juga bekerja dengan Infineon untuk mengecilkan perangkat radar sehingga biaya dan daya rendah. Data yang dianalisis oleh algoritme AI sekarang dikirim secara nirkabel ke komputer, tetapi tujuan utamanya adalah teknologi mandiri yang serupa dengan jam tangan pintar yang memantau detak jantung.
"Saya berharap kita akan melihat perangkat yang dapat dipakai di pasar dalam lima tahun ke depan. Ada tantangan, tetapi penelitian telah berjalan dengan sangat baik," kata Shaker.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK




