Akurat

Peran Media Sosial dalam Kampanye Global Hari Disleksia Sedunia

Petrus C. Vianney | 8 Oktober 2025, 20:00 WIB
Peran Media Sosial dalam Kampanye Global Hari Disleksia Sedunia

AKURAT.CO Peran media sosial dalam meningkatkan kesadaran tentang disleksia kini semakin besar. Di era digital, kampanye Hari Disleksia Sedunia beralih dari seminar dan leaflet ke platform seperti Twitter, Instagram dan TikTok, sebagai sarana edukasi dan advokasi.

Media sosial dapat membuat penyebaran pesan singkat, visual dan viral melalui infografik tanda-tanda disleksia, video testimoni, serta tantangan hashtag yang mendorong partisipasi publik. Strategi ini memperluas jangkauan kampanye hingga ke orang tua, guru dan pembuat kebijakan di berbagai negara.

Dikutip dari Go Red For Dyslexia, Rabu (8/10/2025), kampanye global seperti Go Red for Dyslexia juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menggalang perhatian selama bulan Oktober. Inisiatif ini berhasil membangun kesadaran dan solidaritas dunia terhadap pentingnya dukungan bagi penyandang disleksia

Diskusi di media sosial turut mempercepat penggunaan teknologi bantu seperti text-to-speech, speech-to-text, font khusus, overlay layar dan aplikasi pembelajaran bagi penyandang disleksia. Ini menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam memberikan pembelajaran yang lebih personal sesuai kebutuhan individu.

Percakapan digital tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga mendorong pengembang dan institusi pendidikan untuk menguji serta menerapkan solusi berbasis teknologi. Upaya tersebut membuka peluang bagi pembelajar disleksia agar dapat belajar dengan cara yang lebih adaptif.

Salah satu kekuatan utama media sosial terletak pada kemampuannya dalam membangun cerita atau storytelling. Melalui kisah sukses, perjuangan dan pengalaman sehari-hari, penyandang disleksia dapat menunjukkan realitas hidup mereka secara autentik.

Cerita ini membantu publik memahami bahwa disleksia bukanlah tanda kurangnya kecerdasan, melainkan perbedaan dalam cara memproses informasi. Dengan begitu, narasi yang semula berfokus pada kekurangan dapat berubah menjadi penghargaan terhadap keunikan dan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif.

Berikut empat taktik yang sering dipakai dan terbukti efektif:

1. Hashtag terkoordinasi, misalnya #GoRedForDyslexia atau tag lokal yang menyatukan postingan sehingga mudah dicari.
2. Kolaborasi dengan influencer dan penyandang disleksia terkenal, memperbesar jangkauan dan legitimasi pesan.
3. Konten edukasi berbasis bukti infografik, rangkuman penelitian dan panduan intervensi yang dibagikan lembaga terpercaya.
4. Demo teknologi dan tutorial singkat, video cara pakai aplikasi text-to-speech atau tips pengaturan aksesibilitas pada perangkat seluler.

Walau efektif, kampanye di media sosial tetap memiliki sejumlah tantangan seperti penyebaran misinformasi, keterbatasan akses terhadap teknologi dan dampak yang sering kali bersifat sementara. Isu ini dapat menghambat tujuan jangka panjang untuk membangun kesadaran.

Dikutip dari UNESCO, untuk mengatasinya dibutuhkan kolaborasi antara LSM, sekolah, pengembang teknologi dan pembuat kebijakan. Sinergi lintas sektor ini penting agar inisiatif digital dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi penyandang disleksia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.