Jangan Cuma Belanja, Yuk Mulai Jualan di Lokapasar atau Toko Online

AKURAT.CO Dengan adanya berbagai macam kemudahan lewat ruang digital. Kegiatan belanja mulai beralih kepada digital sehingga memunculkan istilah ecommerce, lokapasar dll.
Namun banyak aplikasi lokapasar di Indonesia yang dimiliki oleh asing. Mereka masuk lewat pendanaan atau investasi.
Tidak ada salahnya, investasi tersebut juga dapat membuat perekonomian Indonesia meningkat terlebih disaat pandemi.
Nah dengan jumlah penduduk nomor 4 terbesar di dunia, sayang jika kita hanya sebagai konsumen, mulailah dari hal terkecil.
Menurut Humas Relawan TIK Kalimantan Timur sekaligus Konsultan Digital Marketing & IT Dedi Priansyah, perkembangan teknologi digital yang kian pesat sayangnya belum bisa diimbangi dengan tingkat literasi digital masyarakat Indonesia.
Akibatnya, pemanfaatan lokapasar atau marketplace dan kemudahan dompet digital hingga sekarang masih belum optimal, bahkan korban kasus penipuan dalam transaksi digital juga terbilang masih cukup tinggi.
Sebagai contoh, warganet masih banyak yang tertipu berbelanja online karena barang yang diterima tidak sesuai pesanan, terkena jebakan spam, serta pencurian data pribadi yang akhirnya menjerat korban ke kasus pinjaman online.
“Hati-hatilah saat berbelanja online, dan pastikan penjual terpercaya dan juga berbelanja hanya dari tempat terpercaya. Ada banyak lokapasar yang sudah terpercaya, dan hendaknya warganet mengirimkan transaksi belanjanya ke nomor rekening yang memang sudah ditunjuk oleh lokapasar tersebut. Terkadang pembeli tertipu, karena di direct message (DM) masuk pesan yang memintanya untuk transfer uang ke rekening pribadi,” ujarnya dalam webinar “Memahami Fitur Lokapasar untuk Meningkatkan Penjualan” di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (28/7),
Sementara itu, Founder Sritech Indonesia sekaligus Relawan TIK Sumatera Selatan Beni Saputra memaparkan kiat-kiat untuk dapat memanfaatkan teknologi digital dan lokapasar agar warganet bisa lebih produktif dan terhindar dari sifat boros atau konsumtif.
Pertama-tama, warganet harus mampu membangun pola pikir yang produktif dan tidak terjebak untuk selalu menjadi konsumen, mengasah kreativitas diri yang bisa dibagikan kepada orang lain, mampu melihat dan menciptakan peluang, fokus sekaligus konsisten dengan apa yang sedang ditekuni, serta mulai membangun startup.
Selain itu, untuk mengembangkan budaya lokal, warganet juga harus mencintai dan mendukung produk dalam negeri di dunia maya.
Misalnya, memberikan komentar positif ketika bertransaksi di lokapasar, membantu promosi, turut menjadi pelaku usaha misalnya dengan memiliki nomor induk berusaha (NIB), serta tidak mengkonsumsi secara berlebihan.
“Untuk membuat startup, mulailah dengan membuka akun di marketplace tahapannya bisa dimulai dengan perencanaan serta perizinan yang diperlukan, dan menentukan produknya, target pasar yang jelas, promosi yang tepat baik secara online maupun offline, serta usaha menjadi solusi yang berdampak. Kalau sudah memiliki brand, jangan hanya dipikirkan namun segera didaftarkan perizinannya, sehingga nanti bisa jalankan dan bisa menjadi besar,” jelas dia.
Direktur Dotstudios.ID dan Pegiat Literasi Digital Akhmad Nasir menambahkan, dalam dunia digital terdapat dua cara dalam memasarkan produk.
Masing-masingnya yaitu, toko online atau e-commerce yang biasanya dipakai untuk penjualan satu brand tertentu, serta lokapasar yang merupakan platform tempat bertemunya para penjual dan pembeli dengan berbagai macam merek produk yang ditawarkan.
Kelebihan e-commerce antara lain, jangkauan pasar yang lebih luas, pengalaman online yang dipersonalisasi, serta akses data pelanggan yang lebih mudah.
Sedangkan keuntungan lokapasar memiliki keunggulan dengan modal yang terjangkau, mudah digunakan, sebaran konsumen yang beragam dan besar, serta tingkat kepercayaan tinggi dari pengelola loka pasar tersebut.
“Namun, kekurangan berjualan di marketplace itu memiliki tingkat persaingan yang ketat karena banyaknya akun yang juga berjualan di sana, kondisi pasar yang sporadis, serta tidak memiliki peluang untuk membangun brand. Karena, kalau kita memiliki brand sendiri, kita akan lebih bebas bagaimana membuat desain websitenya, kalimat-kalimat promosi, sebab kalau di lokapasar terkadang terbatas pada template yang ada,” imbuhnya dalam acara yang digelar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 4ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 7Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 8Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag




