Akurat

Terapkan Teknologi SPAH, SIL UI Ubah Air Hujan Jadi Air Minum

Muhammad Ghifani Ramadifa | 14 Maret 2022, 16:54 WIB
Terapkan Teknologi SPAH, SIL UI Ubah Air Hujan Jadi Air Minum

AKURAT.CO Krisis air kini mulai dialami oleh masyarakat pesisir di kota besar. Pemenuhan air bersih menjadi tantangan utama karena kondisi lingkungan mulai terdegradasi. Sebagai upaya untuk mengatasi hal tersebut, Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) melakukan riset terhadap pemanfaatan air hujan.

Tim SIL UI yang diketuai oleh Dr. Hayati Sari Hasibuan menerapkan teknologi Sistem Pemanenan Air Hujan (SPAH) sebagai upaya pemenuhan air bersih dan teknologi elektrolisis yang mengubah air bersih dari SPAH menjadi air layak minum. 

SPAH merupakan metode atau teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan air hujan yang berasal dari atap bangunan, permukaan tanah, jalan atau perbukitan batu yang dimanfaatkan sebagai sumber suplai air bersih.

Sari menjelaskan, air hujan meminimalisasi dampak lingkungan karena penggunaan instrumen seperti atap rumah, tempat parkir, taman, dan lain-lain dapat menghemat pengadaan instrumen baru.

"Dengan meresapkan kelebihan air hujan ke tanah, volume banjir di jalan-jalan perkotaan dapat berkurang. Selain itu, air hujan yang dikumpulkan relatif lebih bersih dan kualitasnya memenuhi persyaratan sebagai air baku air bersih," ujar Sari dalam keterangan persnya di laman UI.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa hal tersebut bisa menjadi cadangan air bersih apabila terdapat gangguan sistem penyediaan air bersih. Terutama saat terjadi bencana alam.

"Air hujan merupakan sumber air yang sangat penting, terutama di daerah dengan kondisi tidak terdapat sistem penyediaan air bersih, kualitas air permukaan yang rendah, serta tidak tersedia air tanah," katanya.

SPAH sendiri meliputi tempat menangkap hujan (collection area), saluran air hujan yang mengalirkan air hujan dari tempat menangkap hujan ke tangki penyimpanan (conveyance), filter, reservoir (storage tank), saluran pembuangan, dan pompa. 

Area penangkapan air hujan (collection area) dan bahan yang digunakan memengaruhi efisiensi pengumpulan dan kualitas air hujan. Bahan-bahan yang digunakan untuk menangkap air hujan harus aman dan mampu menjaga kualitas air hujan. Umumnya, bahan yang digunakan, yakni anti karat, seperti alumunium, besi galvanis, beton, atau fiberglass shingles.

SPAH dipilih sebagai upaya pemenuhan air bersih karena dapat dilakukan dengan mudah menggunakan bahan dan alat yang terjangkau. Alat dan bahan yang digunakan secara komunal meliputi tangki air atau tandon 2000 L, pipa, talang, stop kran, bola plastic, serta dakron atau kertas penyaring. 

Selain itu, SPAH juga bisa diterapkan secara individu dalam skala rumah tangga dengan menggunakan alat dan bahan sederhana, seperti galon air minum ataupun ember sebagai wadah penampung air hujan.

"Dalam proses memanen air hujan, kebersihan tandon perlu diperhatikan. Jika melewati musim kemarau, harus dilakukan pembuangan air pertama selama 15–20 menit untuk membersihkan saluran pipa dari kotoran di atas atap. Jika curah hujan sedikit, pengguna harus membersihkan atap dan mengecek kondisi dakron. Pemeliharaan dan perawatan SPAH ini dilakukan secara berkala bergantung pada musim hujan," jelas Sari.

Instalasi SPAH ini dibangun di dua kampung nelayan Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, yaitu RW/01 dan RW/15. Kegiatan ini berlangsung selama Oktober–Desember 2021.

Sari berharap pemanfaatan SPAH di Cilincing mampu menggantikan kebutuhan warga akan pipa air karena air hujan memiliki banyak manfaat. Di mana Air hujan memiliki manfaat untuk kesehatan bagi masyarakat karena membatu regenerasi sel. Penggunaan air hujan juga mengurangi biaya air berbayar dan penggunaan air tanah. 

"SPAH juga diharapkan memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat nelayan sehingga air bersih yang dikonsumsi dapat menurunkan angka stunting di Kalibaru," harapannya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.