Akurat Logo

Rute Gombal Bekas Impor sampai Pelabuhan Tikus, Siapa Pemainnya?

Khaerul S | 12 Maret 2019, 12:44 WIB
Rute Gombal Bekas Impor sampai Pelabuhan Tikus, Siapa Pemainnya?

AKURAT.CO Setelah ada yang memesan, barulah pakaian bekas diselundupkan ke Indonesia. Berkarung-karung pakaian biasanya dikirim, antara lain melalui Malaysia, dengan memakai kapal kayu. Kapal kayu yang dijaga orang-orang bayaran itu bergerak pada malam hari, mulai jam 22.00 WIB hingga 04.00 pagi.

"Kapal berangkat dari wilayah Indonesia dalam keadaan kosong. Kemudian muat (mengangkut) ballpress (pakaian bekas) di wilayah Malaysia. Dan kemudian bergerak menuju Indonesia pada malam hari, supaya tidak terdeteksi oleh petugas," kata Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Bea Cukai Pusat Sudiro ketika saya temui Jumat, 8 Maret 2019.

Orang-orang kapal yang dipercaya untuk membawa pakaian bekas itu biasanya sudah mempelajari peta kawasan perairan. Mereka sudah menandai perairan yang sering dilewati patroli aparat keamanan dan kawasan yang sedang tidak dijaga.

"Tentunya titik-titik yang tidak dijaga oleh kapal petugas yang standby di tengah laut atau sedang patroli," kata Sudiro.

Direktur Korps Kepolisian Perairan dan Udara Badan Pemeliharaan Keamanan Polri Brigadir Jenderal Lotharia Latif juga mengatakan mereka sudah mempelajari petugas. Mereka juga punya informan sehingga bisa mengetahui aktivitas petugas patroli.

"Kalau kita hanya patroli dan kemudian menemukan itu, sulit, karena mereka kucing-kucingan. Kalau diketahui ada aparat, mereka akan menghindar, atau mereka akan berpindah-pindah," ujarnya. 

Lotharia Latif. Tribrata Polri

"Mereka sudah mengetahui dari informan yang mereka punya, 'eh jangan lewat sana karena ada polisi.”

Itu sebabnya, petugas patroli sangat hati-hati sebelum bertindak.

"Kami juga menangkapnya juga harus hati-hati berdasarkan informasi dari petugas yang berjaga-jaga. Kami dapat informasi dari orang-orang yang selalu berjaga dan mempunyai informasi."

Orang-orang bayaran bos bisnis pakaian bekas impor yang mengawal kapal juga mempersiapkan diri dengan berbagai senjata kalau sewaktu-waktu hendak disergap aparat.

Salah satu bentrokan di tengah laut yang paling diingat Sudiro adalah ketika kapal kayu penuh muatan ballpress isi pakaian bekas hendak memasuki pelabuhan tikus.

"Ketika para penyelundup yang membawa ballpress ketahuan oleh petugas, mereka (pelaku) sudah dikawal kapal lain yang membawa massa. Ketika sudah memasuki perairan yang mendekati pelabuhan tikus," katanya.

Ketika kapal patroli mendekati kapal kayu, orang-orang bayaran menyerang. Mereka melempari kapal patroli Bea Cukai dengan bensin.

"Kemudian massa yang mengawal kapal kayu tersebut melakukan provokasi dengan berbagai cara, antara lain melempar minyak ke arah kapal petugas dan obor, menyalakan petasan, atau melemparkan bom molotov."

Tapi, penyerangan juga kerap terjadi di tengah laut.

***

Setelah berhasil menghindari patroli petugas di tengah laut, kapal penuh muatan barang ilegal melanjutkan perjalanan. Mereka menuju ke pelabuhan tikus atau pelabuhan yang tidak dijaga petugas. Pelabuhan tersebut umumnya tak bernama.

"Pelabuhan tikus di pesisir Pulau Sumatera dimana saja tempatnya," saya tanya kepada Sudiro.

"Pelabuhan tikus tersebar di sepanjang pesisir timur Sumatera. Jumlahnya bisa ratusan," kata Sudiro.

"Nama tempat tentunya tidak ada. Kan pelabuhan tikus dan jumlahnya ratusan tersebar di seluruh pantai timur Sumatera."

"Kapal kayu tersebut kan kecil, sehingga bisa bersandar dimana saja, tanpa memerlukan dermaga atau pelabuhan yang besar."

Pakaian impor bekas di Pasar Senen. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Sudiro menggambarkan Indonesia memiliki sekitar 17 ribu pulau. Masing-masing pulau memiliki pelabuhan, baik yang resmi maupun tidak resmi. Lokasinya tersebar di berbagai tempat.

"Dan pelabuhan yang tidak ada bea cukai-nya, itu kayak pelabuhan rakyat," kata dia.

Latif tidak menyebutkan secara rinci detail titik-titik pelabuhan tikus yang sering dijadikan tempat bersandar kapal-kapal pembawa pakaian bekas, khususnya di Sumatera hingga Kepulauan Kepri. 

Tapi, kata dia, anggota polisi akan ditempatkan tidak jauh dari pelabuhan tikus itu.

"Kita sistemnya menempatkan anggota yang ditaruh di beberapa tempat. Kalau di sini mereka lolos, di tempat lain pasti dia mau gak mau ketahuan juga, dan nggak bisa lolos."

"Tapi namanya pelaku, dia pinter, karena sudah mempunyai jaringan juga."

Latif mengungkapkan jalur laut yang biasa dilewati kapal kayu itu perairan barat Pulau Sumatera atau yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Jaraknya lebih dekat dan biayanya perjalanan lebih murah. Menurut dia kecil kemungkinan pelaku menyelundupkan barang melalui perairan Nusa Tenggara Timur karena biayanya pasti lebih banyak.

"Ini kebanyakan (diselundupkan) di wilayah barat. Kalau mereka dari Singapura atau Malaysia menuju NTT, transport yang dikeluarkan terlalu banyak. Kalau dari Malaysia atau Singapura, titik-titiknya biasa melalui Kepri, Riau, Sumatera ke utara, Jambi, itu saja."

Siapa pemain bisnis pakaian bekas. Sudiro tidak menjelaskan secara rinci. Dia hanya menyebut di daerah tertentu pemainnya seorang tauke.

"Dari sisi bisnis, kalau dari yang pernah kita tindak, itu tentunya ada beberapa tauke atau disebut sebagai bos-bosnya. Itu memang ada di titik-titik tertentu, bosnya orang-orang di daerah, orang-orang kita juga. Karena itu sudah menjadi budaya," ujarnya. [Yudi Permana, Maidian Reviani, Herry Supriyatna]

Baca juga:

Tulisan 1: Cerita dari Sebuah Pelabuhan hingga Pasar Pakaian Bekas

Tulisan 2: Gurihnya Bisnis Gombal Bekas Impor dari Mereka yang Ingin Kece

Tulisan 3: Genderang Perang Ditabuh Terus, Bisnis Gombal Bekas Impor Jalan Terus

Tulisan 4: Ribuan Bakteri Tak Begitu Menakutkan Asal Pakaian Tetap Keren

Tulisan 5: Perang Hadapi Pengawal Kapal Gombal Bekas Impor

Tulisan 7: Di Balik Kecanduan Pakaian Bekas Impor

Tulisan 8: Penyelundupan Gombal Bekas Impor, Polair: Mereka Sudah Tahu Posisi Petugas

Tulisan 9: Kisah Baju You Can See Ketika Pertama Kali Diimpor 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A