Akurat Logo

Fenomena Karhutla di Indonesia: Refleksi Rasa Syukur Kesehatan yang Kerap Kita Lupakan

Lufaefi | 26 Oktober 2026, 09:00 WIB
Fenomena Karhutla di Indonesia: Refleksi Rasa Syukur Kesehatan yang Kerap Kita Lupakan
Foto Ilustrasi Karhutla - Istimewa

AKURAT.CO Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika asap menyelimuti permukiman, kualitas udara menurun, aktivitas masyarakat terganggu, dan berbagai persoalan kesehatan mulai muncul, masyarakat kembali diingatkan tentang sesuatu yang sering luput disyukuri: udara bersih dan kesehatan.

Bagi seorang Muslim, kesehatan merupakan salah satu nikmat besar yang kerap baru terasa nilainya ketika terganggu. Selama dapat bernapas dengan lega, bergerak bebas, bekerja, belajar, dan beraktivitas tanpa hambatan, kesehatan sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, Islam mengajarkan agar manusia tidak menunggu kehilangan nikmat untuk menyadari betapa berharganya pemberian Allah.

Rasulullah SAW mengingatkan tentang dua nikmat yang sering membuat manusia terlena:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kesehatan bukan sekadar urusan fisik, tetapi juga amanah yang harus dijaga. Seseorang yang memiliki tubuh sehat mempunyai kesempatan lebih luas untuk bekerja, beribadah, menuntut ilmu, membantu orang lain, dan menjalankan tanggung jawab sosial.

Fenomena karhutla memperlihatkan betapa cepat kondisi yang dianggap normal dapat berubah. Udara yang biasanya tidak terlihat tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus diperhatikan. Masyarakat mulai memantau kualitas udara, menggunakan masker, membatasi aktivitas di luar ruangan, hingga mencari ruang dengan udara yang lebih bersih.

Di titik inilah karhutla dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Selama ini, manusia mungkin lebih sering menghitung nikmat yang terlihat, seperti rumah, kendaraan, pekerjaan, atau pendapatan. Padahal, udara bersih yang masuk ke paru-paru setiap saat juga merupakan nikmat yang sangat mendasar.

Baca Juga: Etika Lingkungan dalam Al-Qur'an: Solusi Islami Terhadap Kerusakan Alam Akibat Ulah Manusia

Al-Qur'an mengingatkan manusia agar memperhatikan nikmat Allah yang begitu banyak:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).

Udara bersih, tubuh yang sehat, lingkungan yang aman, serta kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari termasuk bagian dari nikmat yang patut disadari. Karena itu, rasa syukur dalam Islam tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Syukur juga memiliki konsekuensi berupa menjaga dan menggunakan nikmat secara bertanggung jawab.

Dalam konteks lingkungan, kesadaran tersebut menjadi semakin penting. Jika kerusakan alam terjadi akibat tindakan manusia, maka persoalannya tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dan alam, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral kepada sesama.

Al-Qur'an telah memberikan peringatan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi