Akurat Logo

Dilema Orang Tua Zaman Now: Kapan Waktu Terbaik Memondokkan Anak ke Pesantren?

Lufaefi | 24 Oktober 2026, 07:40 WIB
Dilema Orang Tua Zaman Now: Kapan Waktu Terbaik Memondokkan Anak ke Pesantren?
lingkungan pendidikan pesantren - generate AI

AKURAT.CO Memondokkan anak ke pesantren bukan keputusan kecil. Bagi sebagian orang tua, pesantren dianggap sebagai tempat terbaik untuk membentuk kemandirian, kedisiplinan, dan pemahaman agama. Namun, di sisi lain muncul pertanyaan yang sering membuat orang tua ragu: apakah anak sudah siap tinggal jauh dari rumah?

Pertanyaan tersebut semakin relevan di tengah kehidupan anak-anak zaman sekarang. Sebagian anak terbiasa mendapatkan perhatian penuh dari orang tua, menggunakan gawai sejak kecil, dan memiliki rutinitas yang relatif nyaman di rumah. Ketika tiba-tiba harus tinggal di asrama, mengikuti jadwal yang padat, berbagi fasilitas dengan banyak teman, serta mengikuti aturan pesantren, proses adaptasi tentu membutuhkan kesiapan.

Karena itu, tidak ada satu usia yang otomatis menjadi “waktu terbaik” bagi semua anak. Kesiapan anak jauh lebih penting daripada sekadar angka usia.

Orang tua dapat mulai melihat beberapa tanda sederhana. Apakah anak sudah mampu melakukan aktivitas dasar secara mandiri? Apakah ia dapat mengurus pakaian dan perlengkapan pribadi? Apakah anak mampu mengikuti aturan tanpa harus selalu diawasi? Apakah ia dapat berkomunikasi ketika menghadapi masalah?

Kemampuan tersebut penting karena kehidupan pesantren menuntut anak beradaptasi dengan lingkungan baru.

Dalam Islam, pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Baca Juga: Belajar dari Tragedi KMP Batumandi: Mengapa Islam Sangat Menekankan Adab Keselamatan dan Doa Sebelum Bepergian?

Ayat ini sering menjadi pengingat bahwa orang tua memiliki tanggung jawab dalam membimbing keluarganya. Namun, pendidikan tidak identik dengan memindahkan seluruh tanggung jawab pengasuhan kepada lembaga pendidikan.

Pesantren dapat menjadi mitra orang tua dalam mendidik anak. Karena itu, keputusan memondokkan anak idealnya tidak hanya didasarkan pada keinginan orang tua, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan psikologis, fisik, sosial, dan akademik anak.

Ada pula persoalan yang tidak kalah penting: alasan mengapa anak dimasukkan ke pesantren.

Jika tujuannya agar anak memperoleh pendidikan agama sekaligus belajar mandiri, keputusan tersebut memiliki dasar yang cukup kuat. Sebaliknya, jika pesantren dipilih semata-mata karena orang tua merasa kewalahan mengasuh anak atau ingin “menitipkan” persoalan perilaku kepada pesantren, keputusan tersebut perlu dipikirkan kembali.

Anak bukan barang yang dapat dipindahkan ketika orang tua merasa kesulitan.

Orang tua juga perlu mengenali karakter setiap pesantren. Jangan hanya melihat popularitas atau jumlah santri. Perhatikan sistem pengasuhan, rasio pengasuh dan santri, pola pendidikan, keamanan asrama, layanan kesehatan, kebersihan, mekanisme penanganan perundungan, komunikasi dengan orang tua, serta bagaimana pesantren merespons persoalan psikologis anak.

Hal lain yang sering terlupakan adalah mendengarkan suara anak.

Mengajak anak berbicara bukan berarti menyerahkan seluruh keputusan kepada anak. Namun, anak perlu diberi kesempatan menyampaikan ketakutan, harapan, dan alasan ketidaksiapannya. Dari percakapan tersebut, orang tua dapat mengetahui apakah penolakan anak hanya berupa rasa takut menghadapi perubahan atau memang terdapat persoalan yang lebih serius.

Jika anak belum siap, orang tua tidak harus merasa gagal. Pendidikan dapat dipersiapkan secara bertahap. Anak bisa terlebih dahulu dibiasakan mengikuti kegiatan keagamaan, mengatur jadwal sendiri, mengurangi ketergantungan pada orang tua, serta mengikuti program yang melatih kemandirian.

Sebaliknya, ketika anak menunjukkan kesiapan, orang tua tetap perlu memberikan pendampingan. Rindu rumah, kesulitan berteman, tekanan belajar, atau kelelahan pada masa awal mondok merupakan hal yang mungkin terjadi. Kehadiran orang tua melalui komunikasi yang sehat dapat membantu anak melewati fase tersebut.

Pada akhirnya, pertanyaan “kapan anak harus mondok?” sebaiknya diubah menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: “kapan anak siap untuk mondok?”

Baca Juga: Balita Menangis di Tenda Gunung Prau, Ini Hak Anak yang Wajib Dipenuhi Orang Tuanya dalam Islam

Pesantren bukan sekadar tempat mempelajari kitab dan menjalankan rutinitas ibadah. Ia adalah lingkungan pendidikan yang menuntut kesiapan untuk hidup bersama, belajar bertanggung jawab, dan menghadapi berbagai tantangan.

Karena itu, keputusan terbaik bukan selalu memondokkan anak secepat mungkin, melainkan memilih waktu dan lingkungan pendidikan yang paling sesuai dengan kebutuhan serta kesiapan anak.

Sebab tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak tinggal jauh dari rumah, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi berilmu, mandiri, berakhlak, dan mampu menjalani kehidupan dengan tanggung jawab.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi