Akurat Logo

Cara Islami bagi Gen Z dalam Menyeimbangkan Usaha Maksimal dan Tawakkul di Tengah Ketidakpastian

Lufaefi | 20 Oktober 2026, 05:00 WIB
Cara Islami bagi Gen Z dalam Menyeimbangkan Usaha Maksimal dan Tawakkul di Tengah Ketidakpastian
Foto Ilustrasi - Generated by Gemini AI

AKURAT.CO Hidup di zaman sekarang sering terasa seperti berjalan di jalan yang penuh persimpangan. Hari ini seseorang bisa merasa sudah memiliki rencana yang matang, tetapi besok keadaan berubah. Kuliah belum tentu berujung pada pekerjaan yang diinginkan, pekerjaan belum tentu bertahan selamanya, bisnis bisa naik turun, bahkan hubungan dan rencana hidup pun kadang tidak berjalan sesuai harapan. Bagi generasi Z yang tumbuh di tengah perubahan teknologi dan informasi yang sangat cepat, ketidakpastian semacam ini menjadi bagian dari keseharian.

Dalam kondisi tersebut, Islam menawarkan satu keseimbangan penting: berusaha sekuat kemampuan sekaligus menyerahkan hasil kepada Allah. Konsep ini dikenal sebagai tawakkul. Namun, tawakkul bukan alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, ia menjadi sikap batin setelah seseorang menjalankan ikhtiar dengan sungguh-sungguh.

Al-Qur’an memberikan gambaran yang jelas mengenai prinsip tersebut. Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa tawakkul tidak berdiri sendiri. Sebelumnya terdapat proses mengambil keputusan dan membulatkan tekad. Artinya, seseorang tetap dituntut melakukan ikhtiar sebelum menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Baca Juga: Terungkap Alasan Anak Muda Korea Selatan Memilih Masuk Islam

Bagi Gen Z, prinsip ini dapat diterapkan dalam banyak situasi kehidupan. Ketika ingin mendapatkan pekerjaan, misalnya, jangan hanya berdoa agar diterima. Perbaiki CV, pelajari keterampilan baru, bangun jaringan, kirim lamaran, dan persiapkan diri menghadapi wawancara. Setelah semua dilakukan, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Begitu pula dalam pendidikan. Belajar dengan sungguh-sungguh merupakan bagian dari ikhtiar. Tetapi nilai ujian, hasil penelitian, atau kesempatan yang diperoleh tidak selalu sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Di sinilah tawakkul membantu seseorang agar tidak mudah kehilangan arah ketika hasil yang diperoleh ternyata berbeda dari harapan.

Rasulullah SAW juga memberikan gambaran sederhana mengenai hubungan antara usaha dan tawakkul. Ketika seseorang bertanya apakah untanya dibiarkan begitu saja atau diikat terlebih dahulu, Nabi menjawab:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Pesannya sederhana tetapi sangat relevan. Jangan menyerahkan sesuatu yang masih bisa diupayakan kepada takdir sebelum melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita.

Karena itu, tawakkul bukan sikap pasrah tanpa usaha. Tawakkul justru membantu seseorang membedakan antara sesuatu yang bisa dikendalikan dan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.

Gen Z boleh memiliki target besar, mengejar karier, membangun bisnis, membuat konten, melanjutkan pendidikan, atau merancang masa depan. Namun, ketenangan jiwa sebaiknya tidak sepenuhnya digantungkan pada tercapai atau tidaknya target tersebut.

Ada hal-hal yang dapat dikendalikan manusia, seperti usaha, disiplin, proses belajar, pilihan, dan sikap. Ada pula hal-hal yang berada di luar kendali, seperti keputusan orang lain, perubahan kondisi ekonomi, kesempatan yang datang, atau hasil akhir dari sebuah perjuangan.

Di antara dua wilayah itulah tawakkul memiliki peran penting. Kita serius pada bagian yang menjadi tanggung jawab kita, kemudian belajar menerima bagian yang berada di luar kemampuan kita.

Ketika rencana hidup tidak berjalan sesuai harapan, bukan berarti seluruh usaha menjadi sia-sia. Kegagalan bisa menjadi bahan evaluasi, sementara jalan yang tertutup dapat membuka kemungkinan bagi pilihan lain. Yang penting adalah tidak berhenti memperbaiki ikhtiar dan tidak kehilangan hubungan dengan Allah.

Baca Juga: Self-Care Islami: Mengenal Konsep 'Me Time' yang Benar Menurut Al-Qur'an untuk Menjaga Kesehatan Mental

Pada akhirnya, hidup yang Islami bukan tentang memilih antara usaha atau tawakkul. Keduanya harus berjalan bersama. Berusaha secara maksimal membuat seseorang tidak menjadi pasif, sedangkan tawakkul membuat hati tidak mudah runtuh ketika hasil tidak sesuai keinginan.

Di tengah dunia yang serba tidak pasti, inilah salah satu bekal penting bagi Gen Z: terus bekerja untuk sesuatu yang masih bisa diperjuangkan, tetapi tetap menjaga ketenangan hati untuk menerima sesuatu yang pada akhirnya harus diserahkan kepada Allah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi