Hukum Merayakan Kemenangan Sepak Bola dengan Judi dan Miras dalam Islam

AKURAT.CO Kemenangan sebuah tim sepak bola sering dirayakan dengan penuh kegembiraan. Para suporter berkumpul, menyanyikan yel-yel, mengibarkan atribut klub, hingga mengadakan pesta bersama. Merayakan kemenangan tentu bukan persoalan dalam Islam selama dilakukan dengan cara yang wajar dan tidak melanggar syariat.
Persoalan muncul ketika perayaan kemenangan justru diisi dengan perjudian dan minuman keras. Dua aktivitas tersebut bukan sekadar perilaku yang kurang baik, tetapi secara tegas dilarang dalam Islam.
Islam tidak melarang seseorang mencintai olahraga ataupun mendukung tim kesayangannya. Yang menjadi persoalan adalah ketika fanatisme terhadap sebuah tim membuat seseorang melampaui batas dan melakukan perbuatan yang diharamkan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” (QS Al-Ma'idah: 90).
Baca Juga: Gelar Acara Keagamaan Tanpa Mengganggu Tetangga: Simak Fikih Adab Bertetangga dalam Islam
Ayat tersebut menyebut khamar dan judi secara bersamaan sebagai perbuatan yang harus dijauhi. Larangan tersebut tidak bergantung pada apakah keduanya dilakukan dalam suasana pesta, pertandingan, atau perayaan tertentu.
Minuman keras atau khamar dilarang karena dapat menghilangkan kesadaran dan membuka jalan menuju berbagai perbuatan buruk. Sementara judi atau maisir dilarang karena membuat seseorang memperoleh keuntungan melalui mekanisme untung-untungan yang merugikan pihak lain.
Karena itu, jika kemenangan pertandingan dirayakan dengan taruhan uang, taruhan hasil pertandingan, atau permainan yang mengandung unsur perjudian, aktivitas tersebut tetap haram meskipun dilakukan dengan alasan bersenang-senang.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras mengenai khamar. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW menyebut bahwa setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram.
Larangan tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan minuman keras bukan sekadar persoalan jumlah yang diminum. Jika suatu minuman termasuk sesuatu yang memabukkan, maka seorang Muslim diperintahkan untuk menjauhinya.
Lantas, bagaimana dengan merayakan kemenangan sepak bola itu sendiri?
Pada dasarnya, olahraga dan kegembiraan bukan sesuatu yang dilarang. Selama perayaan dilakukan dalam batas yang dibenarkan, seperti berkumpul bersama teman, menikmati makanan halal, mengadakan kegiatan sosial, atau memberikan dukungan kepada tim tanpa menghina pihak lain, hal tersebut tidak otomatis menjadi perbuatan haram.
Yang perlu dihindari adalah perilaku yang menyertai perayaan tersebut, seperti mabuk, berjudi, tawuran, merusak fasilitas umum, mengganggu masyarakat, menghina lawan, atau melakukan tindakan berlebihan.
Islam mengajarkan agar kegembiraan tetap berada dalam batas kewajaran. Allah SWT berfirman:
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A'raf: 31).
Ayat tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kemenangan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kendali.
Menariknya, olahraga juga dapat menjadi sarana membangun persaudaraan. Suporter dapat menunjukkan kecintaan kepada tim dengan cara yang sehat, sportif, dan tetap menghormati suporter lain. Menang tidak harus membuat seseorang merendahkan yang kalah, sebagaimana kekalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk melakukan kekerasan.
Baca Juga: Jangan Mudah Terkecoh! Ini Ciri Rasulullah yang Asli dalam Mimpi Menurut Hadis Sahih
Pada akhirnya, Islam tidak mempersoalkan seseorang merasa bahagia karena tim sepak bola yang didukungnya meraih kemenangan. Yang menjadi persoalan adalah cara mengekspresikan kebahagiaan tersebut.
Kemenangan dapat dirayakan dengan syukur, makan bersama, berkumpul dengan keluarga dan teman, atau melakukan kegiatan sosial. Sebaliknya, judi dan minuman keras tetap haram, baik dilakukan ketika tim menang maupun kalah.
Sebab, dalam pandangan Islam, kemenangan sejati bukan hanya ketika tim kesayangan berhasil mencetak gol, tetapi ketika kegembiraan tersebut tetap membuat seseorang mampu menjaga iman, akhlak, dan tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 2Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 3Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Berapa dan Tayang di Mana?
- 7Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 8Prediksi Skor Wales vs Denmark 5 Oktober 2026: Duel Ketat di Cardiff
- 9DPR Sahkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan dalam Rapat Paripurna Besok
- 10Bos Maktour Travel Fuad Hasan Masyhur: Nama Saya Hancur Sehancur-hancurnya



