Menjaga Lisan dan Sikap di Era Digital: Panduan Adab Rapat dan Berbicara Menurut Al-Qur'an

AKURAT.CO Rapat menjadi bagian penting dalam kehidupan profesional, baik di lingkungan perkantoran, lembaga pendidikan, organisasi, maupun komunitas masyarakat. Namun, di tengah perkembangan teknologi digital, aktivitas rapat tidak lagi terbatas pada pertemuan tatap muka.
Komunikasi melalui Zoom, Google Meet, grup WhatsApp, hingga ruang diskusi daring juga menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Situasi ini menghadirkan tantangan baru: bagaimana menjaga lisan, sikap, dan etika komunikasi agar tetap mencerminkan nilai-nilai keislaman?
Dalam Islam, berbicara bukan sekadar aktivitas menyampaikan informasi, melainkan juga mencerminkan kualitas akhlak seseorang. Al-Qur'an mengajarkan agar setiap perkataan disampaikan dengan cara yang baik, jujur, dan tidak menyakiti orang lain.
Prinsip tersebut relevan diterapkan dalam rapat, terutama ketika terjadi perbedaan pendapat, kritik terhadap pekerjaan, atau pembahasan yang melibatkan kepentingan banyak pihak.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 53:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ
Artinya, "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka."
Baca Juga: Seni Menahan Amarah di Ruang Publik: Belajar dari Kasus Kekerasan yang Viral di Media Sosial
Ayat tersebut memberikan pesan bahwa kualitas komunikasi tidak hanya diukur dari kebenaran isi pembicaraan, tetapi juga dari cara menyampaikannya. Dalam sebuah rapat, seseorang mungkin memiliki gagasan yang benar, tetapi penyampaian dengan nada merendahkan, sindiran, atau kata-kata kasar dapat merusak suasana diskusi. Karena itu, berbicara secara santun bukan berarti menghindari kritik, melainkan menyampaikan kritik tanpa kehilangan penghormatan terhadap orang lain.
Selain menjaga perkataan, Islam juga mengajarkan pentingnya mendengarkan. Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 18:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
Artinya, "Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya."
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa komunikasi yang sehat tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara, tetapi juga kesediaan mendengarkan. Dalam rapat, memotong pembicaraan, mendominasi diskusi, atau mengabaikan pendapat peserta lain dapat menghambat lahirnya keputusan yang bijaksana. Sebaliknya, mendengarkan dengan terbuka memungkinkan setiap gagasan dipertimbangkan secara objektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 8Kalender Jawa 29 September 2026: Selasa Wage Cocok untuk Apa? Ini Watak dan Neptunya
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah




