Said Aqil Siroj Disebut Layak Pimpin Rais Aam PBNU, Dinilai Kritis dan Alim

AKURAT.CO Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet, KH Faris Fuad Hasyim atau Gus Faris, menyatakan dukungan kepada KH Said Aqil Siroj untuk menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU.
Gus Faris menilai NU membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kapasitas keilmuan, visi organisasi, sekaligus keberanian menyampaikan kritik terhadap pemerintah ketika kebijakan yang diambil dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Faris dalam Forum Mimbar Muktamar NU bertajuk “Mencari Rais Aam Ideal. Siapa Sosok yang Paling Layak?” di Pondok Pesantren Al-Maliki 2, Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: Nasaruddin Umar Pastikan Tak Ikut Kontestasi Ketum PBNU: Saya Berkonsentrasi di Kementerian Agama
Menurut Gus Faris, kepemimpinan NU tidak semestinya menjadi ruang untuk mengejar kepentingan pribadi ataupun konsolidasi kekuasaan. Ia berharap kepemimpinan ke depan justru mampu menjaga persatuan dan memperkuat khidmat organisasi.
“Kiai Said juga berani mengkritik kebijakan pemerintah ketika tidak berpihak kepada rakyat. Kritik itu tidak mengurangi kecintaan kepada bangsa dan negara,” ujar Gus Faris.
Ia menilai Said Aqil memiliki kapasitas keilmuan dan visi yang dibutuhkan NU untuk menghadapi perubahan zaman. Gus Faris juga menyinggung pengalaman Said Aqil saat memimpin PBNU sebagai salah satu pertimbangan dukungannya.
Menurut Gus Faris, pada masa kepemimpinan Said Aqil sebagai Ketua Umum PBNU, NU mampu tampil sebagai organisasi yang memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat.
“Ketika beliau menjadi Ketua Umum PBNU, NU ini seperti kembali ke zamannya KH A. Wahab Hasbullah. NU menjadi organisasi yang sangat enak diceritakan oleh masyarakat. NU menjadi organisasi yang betul-betul dikagumi oleh banyak orang,” katanya.
Selain kapasitas kepemimpinan, Gus Faris menyoroti gagasan Islam Nusantara yang pernah dikembangkan Said Aqil. Menurutnya, gagasan tersebut menegaskan pentingnya hubungan antara kehidupan keislaman, kebangsaan, dan budaya masyarakat Indonesia.
Ia mengatakan konsensus kebangsaan seperti Pancasila harus ditempatkan sebagai fondasi bersama dalam kehidupan beragama dan bernegara.
“Ketika kita mengingkari konsensus kebangsaan, maka NU memandang bahwa ada konsekuensi yang harus diterima, baik dalam konteks hukum agama maupun hukum negara,” ujarnya.
Baca Juga: LPJ Hampir 1.000 Halaman, Kepemimpinan Gus Yahya Diterima Muktamar NU
Dukungan Gus Faris kepada Said Aqil muncul di tengah berlangsungnya dinamika pemilihan Rais Aam PBNU pada Muktamar ke-35 NU. Sejumlah nama disebut masuk dalam bursa kandidat Rais Aam, sementara mekanisme pemilihannya menjadi bagian penting dari pembahasan tata tertib muktamar.
Muktamar ke-35 NU berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, dan menjadi forum untuk menentukan arah kepemimpinan serta kebijakan organisasi NU pada periode berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








