Rais Syuriah PCNU Garut Minta Dedi Mulyadi Tak Intervensi Muktamar NU

AKURAT.CO Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut KH Rd. Amin Muhyidin Maolani meminta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tidak mencampuri proses internal Nahdlatul Ulama (NU), khususnya menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah beredar surat undangan dari Dedi Mulyadi kepada 11 Rais Syuriah PCNU se-Jawa Barat. Undangan tersebut juga melibatkan sejumlah bupati dan wali kota di Jawa Barat.
Kiai Amin membenarkan bahwa dirinya merupakan salah satu Rais Syuriah yang menerima undangan tersebut. Namun, ia mempertanyakan tujuan pertemuan karena waktunya berdekatan dengan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur.
Baca Juga: Intelektual Muda NU Sebut Marsudi Syuhud sebagai 'Kuda Hitam' Caketum PBNU
“Sejauh dan seingat saya, Gubernur tidak pernah mengundang kami sebagai Rais NU di Jabar untuk kepentingan pembangunan Jawa Barat. Maka ketika hari ini Gubernur mengundang dan waktunya tidak jauh dari Muktamar, tentu saja pembahasannya tidak akan jauh dari persoalan Muktamar,” ujar Kiai Amin, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya menjaga hubungan kelembagaan dengan NU tanpa masuk terlalu jauh ke dalam proses pengambilan keputusan organisasi.
Kiai Amin secara tegas meminta Dedi Mulyadi tidak ikut campur dalam dinamika Muktamar NU, apa pun alasan yang mendasarinya. Ia menilai persoalan internal NU lebih tepat diselesaikan oleh pengurus dan ulama NU.
Ia juga mengingatkan adanya pengalaman historis ketika kekuasaan berusaha memengaruhi dinamika organisasi NU pada masa Orde Baru. Menurutnya, pengalaman tersebut perlu menjadi pelajaran agar hubungan antara pemerintah dan organisasi keagamaan tetap berada dalam koridor yang tepat.
“Untuk Gubernur KDM, kalau mau mengundang PCNU nanti setelah Muktamar saja,” kata Kiai Amin.
Alih-alih terlibat dalam dinamika Muktamar NU, Kiai Amin meminta Dedi Mulyadi memprioritaskan sejumlah persoalan yang masih dihadapi masyarakat Jawa Barat.
Ia menyinggung persoalan pengangguran, lingkungan, kondisi sekolah swasta, pendidikan keagamaan, hingga pesantren yang menurutnya masih membutuhkan perhatian pemerintah provinsi.
“Kita perlu diskusi soal pendidikan keagamaan dan pesantren, yang sampai hari ini Pemprov Jabar alfa,” tegasnya.
Baca Juga: Muhammadiyah Salurkan Bantuan Logistik dan Medis untuk Muktamar NU ke-35
Kiai Amin tetap mendoakan agar Dedi Mulyadi diberikan kemudahan dalam menjalankan pemerintahan. Namun, ia meminta proses Muktamar ke-35 NU berjalan secara independen tanpa intervensi pihak eksternal.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Agenda tersebut menjadi forum tertinggi NU untuk menentukan arah organisasi dan kepemimpinan PBNU periode berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





