Pra-Muktamar NU Usulkan PBNU Susun Kode Etik Kader di Pemerintahan

AKURAT.CO Halaqah Pra-Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mengusulkan agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyusun kode etik bagi kader yang mengemban jabatan di pemerintahan dan lembaga negara. Usulan tersebut menjadi salah satu dari delapan rekomendasi strategis yang akan dibawa ke Muktamar Ke-35 NU.
Rekomendasi itu disampaikan dalam Halaqah Pra-Muktamar bertema "Masa Depan Nahdlatul Ulama: Kepemimpinan Abad Kedua" yang digelar di Pesantren Luhur Ciganjur, Jakarta Selatan.
Tokoh Muda NU, Ah Maftuchan, mengatakan penyusunan kode etik diperlukan seiring semakin banyaknya kader NU yang dipercaya menduduki jabatan publik, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Baca Juga: Makna dan Filosofi Logo Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Menurutnya, PBNU memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kader yang menjalankan amanah di pemerintahan tetap berpegang pada nilai-nilai organisasi, menjaga integritas, dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
"Perlu ada pedoman etik yang menjadi rambu-rambu bagi kader NU agar tetap konsisten bekerja untuk kemaslahatan umat sekaligus mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik," ujar Maftuchan.
Ia menilai kontribusi kader NU di pemerintahan selama ini cukup beragam. Di satu sisi, banyak kader dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat, namun di sisi lain terdapat sejumlah kasus penyalahgunaan kewenangan yang melibatkan oknum pejabat.
Karena itu, kode etik dinilai penting sebagai pedoman bagi kader NU yang memegang jabatan publik agar menjalankan tugas secara profesional, transparan, akuntabel, serta terhindar dari praktik penyalahgunaan wewenang maupun tindak pidana korupsi.
Maftuchan menegaskan kepercayaan publik terhadap NU harus dijaga melalui standar etika yang jelas bagi setiap kader yang memperoleh amanah di pemerintahan.
Sementara itu, Ketua Alumni Pesantren Ciganjur, H Syaifullah Amin, mengatakan seluruh rekomendasi hasil halaqah akan disampaikan kepada PBNU dan Panitia Bidang Materi Muktamar Ke-35 NU.
Baca Juga: Nasaruddin Umar Berpotensi Maju Ketum PBNU, Apakah Terbentur Aturan Rangkap Jabatan?o9llll
Ia berharap usulan tersebut dapat dibahas dan ditetapkan sebagai keputusan resmi Muktamar sehingga menjadi pedoman bagi kepengurusan PBNU periode mendatang.
Halaqah Pra-Muktamar menghasilkan delapan rekomendasi yang mencakup berbagai isu strategis, di antaranya relasi NU dengan pemerintah, keberpihakan kepada warga Nahdliyin, penguatan tata kelola organisasi, serta peningkatan kontribusi kader di ruang publik.
Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi organisasi tersebut akan membahas arah kebijakan NU sekaligus memilih kepengurusan baru untuk masa khidmat berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 4Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 8Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 9Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya
- 10Prabowo Luncurkan Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan, Ekonomi Keluarga Jadi Fondasi Kekuatan Bangsa




