Jelang Muktamar Ke-35 NU, Sosok Rais Aam Dinilai Harus Mampu Jawab Tantangan Abad Kedua

AKURAT.CO Menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026, perhatian warga Nahdliyin mulai mengarah pada figur yang akan mengisi jabatan Rais Aam PBNU. Posisi tersebut dinilai menjadi kunci dalam menentukan arah perjalanan organisasi memasuki abad kedua NU.
Salah satu pandangan mengenai kriteria Rais Aam ideal disampaikan oleh warga NU asal Jawa Timur, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawy atau yang akrab disapa Gus Lilur. Menurutnya, Muktamar Ke-35 bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan, melainkan momentum menentukan masa depan spiritual, intelektual, dan keilmuan Nahdlatul Ulama.
"Sebagai orang yang telah lama menekuni sejarah Islam di Nusantara, khususnya sejarah NU, saya memandang muktamar kali ini membawa satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar ketimbang sekadar soal siapa memilih siapa. Pertanyaan itu ialah, sosok seperti apakah yang layak menduduki kursi Rais Aam, jabatan tertinggi dalam struktur NU," ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, untuk memahami posisi Rais Aam, warga NU harus terlebih dahulu melihat hakikat Nahdlatul Ulama sebagai jam'iyyah diniyyah atau organisasi keagamaan yang tumbuh dari tradisi pesantren, bukan sekadar organisasi kemasyarakatan biasa.
Baca Juga: PBNU Putuskan Lokasi Muktamar Ke-35 NU pada Selasa Besok, Hasil Survei Sembilan Pesantren Dibahas
Ia menjelaskan bahwa konsekuensi dari posisi tersebut menjadikan Rais Aam bukan hanya pemimpin administratif, melainkan imam bagi tradisi keagamaan yang dianut jutaan warga Nahdliyin.
"Konsekuensi dari pemahaman ini amatlah jauh. Jika NU adalah cara beragama, maka pemimpin tertingginya bukanlah sekadar ketua sebuah perkumpulan. Ia adalah imam bagi sebuah tradisi keagamaan yang dianut puluhan juta orang. Dan imam, dalam tradisi fiqh yang dipegang NU sendiri, harus memenuhi syarat-syarat yang tidak ringan," katanya.
Gus Lilur menilai sosok Rais Aam harus merepresentasikan tiga pilar utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi fondasi NU, yakni berpegang teguh pada mazhab fikih, mengikuti akidah Asy'ariyah dan Maturidiyah, serta mengamalkan tasawuf Imam Al-Junaid dan Imam Al-Ghazali.
Dari fondasi tersebut, menurutnya, akan lahir karakter kepemimpinan yang menjunjung nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i'tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran).
Lebih lanjut, Gus Lilur mengajak warga Nahdliyin melihat kembali standar kepemimpinan para pendiri NU sebagai tolok ukur dalam memilih Rais Aam. Ia menyebut Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy'ari sebagai ulama ahli hadis sekaligus penggerak Resolusi Jihad, serta KH Abdul Wahab Chasbullah yang dikenal sebagai penggagas Komite Hijaz dan tokoh diplomasi santri.
Menurutnya, keteladanan para pendiri tersebut menunjukkan bahwa Rais Aam harus memiliki kedalaman ilmu agama, integritas moral, serta kemampuan menjaga arah perjuangan organisasi di tengah perubahan zaman.
Muktamar Ke-35 NU sendiri akan menjadi muktamar pertama yang diselenggarakan setelah Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya. Selain memilih kepengurusan baru, forum permusyawaratan tertinggi NU itu juga akan membahas arah strategis organisasi untuk menghadapi tantangan sosial, keagamaan, pendidikan, ekonomi, hingga perkembangan teknologi pada masa mendatang.
Baca Juga: PBNU Finalisasi SK Peserta Muktamar ke-35 NU, Verifikasi 594 Kepengurusan Masih Berlangsung
Pemilihan Rais Aam dalam tradisi NU dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yakni musyawarah para ulama sepuh yang diberi mandat untuk menentukan figur paling layak memimpin Syuriyah PBNU. Mekanisme tersebut selama ini dipandang sebagai upaya menjaga marwah kepemimpinan keagamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 3Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 4Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 5Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 6Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Berapa dan Tayang di Mana?
- 8Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 9Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver
- 10Presiden Prabowo Minta Perekrutan TNI-Polri Tidak Melulu Lihat Fisik, Boleh Berkacamata Asal Pintar







