Sekjen Golkar: NU Perlu Perkuat Peran dalam Politik Kebangsaan, Kurangi Politik Praktis

AKURAT.CO Sekretaris Jenderal Partai Golkar M. Sarmuji mengajak Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat peran dalam politik kebangsaan dan mengurangi keterlibatan dalam politik praktis. Menurutnya, langkah tersebut akan membuat posisi NU semakin diperhitungkan sebagai organisasi masyarakat sipil yang mampu memberi masukan kepada negara.
Pernyataan itu disampaikan Sarmuji dalam diskusi bertajuk "NU Masa Depan dan Masa Depan NU" yang diselenggarakan Yayasan Talibuana Nusantara di Jakarta, Kamis (2/7/2026), menjelang Muktamar ke-35 NU.
"Suka atau tidak suka, NU itu lekat dengan politik, sangat lekat. Tetapi sebagai orang NU yang tidak berada di partai yang identik dengan NU, saya berharap kelekatan NU dengan politik kecil itu dikurangi, sebaliknya keterlibatan NU di politik besar harus makin diperkuat," ujar Sarmuji.
Baca Juga: Sekjen PBNU: Usulan RUU LGBT dari MUI Perlu Dikaji dan Didiskusikan Secara Mendalam
Ia menjelaskan, yang dimaksud politik kecil adalah keterlibatan dalam kontestasi politik praktis, seperti menjadi tim sukses atau berfokus pada kemenangan kandidat tertentu dalam pemilihan umum. Sebaliknya, politik besar adalah peran organisasi dalam menjaga kualitas demokrasi dan mengawal kepentingan bangsa.
Menurutnya, NU akan memiliki pengaruh yang lebih besar apabila memosisikan diri sebagai organisasi masyarakat sipil yang mampu memberikan kritik dan masukan kepada pemerintah secara konstruktif.
"NU tentu lebih baik terlibat dalam politik besar, yakni politik kebangsaan, dengan memosisikan diri sebagai civil society yang bisa menasihati negara. Ini yang saat ini sangat kurang, civil society yang mampu menasihati negara, apalagi menasihati dengan cara yang adem penuh kelembutan seperti tradisi NU," katanya.
Sarmuji menilai tradisi NU dalam menyampaikan nasihat secara santun merupakan modal penting dalam menjaga hubungan dengan pemerintah. Ia mengingatkan bahwa pendekatan yang konfrontatif justru berpotensi menimbulkan dampak negatif.
Baca Juga: Gus Yahya Siap Maju Lagi sebagai Ketua Umum PBNU, Ingin Tuntaskan Agenda Strategis NU
"Karakter ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad: kalau mau menasihati pemimpin maka tariklah dia dalam ruang yang tertutup. NU punya tradisi seperti itu, bisa menasihati negara tanpa membuat negara tersinggung. Inilah yang saat ini kosong," ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan organisasi masyarakat sipil bukan hanya pada substansi kritik yang disampaikan, tetapi juga pada cara penyampaiannya agar dapat diterima oleh pemerintah dan tetap memberikan manfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 6Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat





