Akurat Logo

Sujud Syukur saat Mencetak Goal dalam Sepak Bola, Apakah Dapat Pahala?

Lufaefi | 1 Juli 2026, 08:00 WIB
Sujud Syukur saat Mencetak Goal dalam Sepak Bola, Apakah Dapat Pahala?
Sujud syukur setelah mencetak goal (Instagram @kominfobatang)

AKURAT.CO Di dunia sepak bola, selebrasi gol sering menjadi momen yang paling ditunggu. Ada pemain yang berlari ke tribun, ada yang melakukan gestur tertentu, dan ada pula yang langsung menjatuhkan diri untuk sujud setelah mencetak gol.

Pemandangan ini cukup sering terlihat di berbagai kompetisi dunia. Bagi sebagian penonton muslim, sujud setelah mencetak gol dipahami sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas keberhasilan yang diraih.

Namun muncul pertanyaan menarik: apakah sujud syukur saat mencetak gol dalam sepak bola dibolehkan dalam Islam? Dan apakah pelakunya bisa mendapatkan pahala?

Pertanyaan ini menarik karena menyentuh dua hal sekaligus: ibadah dan aktivitas olahraga.

Dalam Islam, sujud syukur dikenal sebagai salah satu bentuk ibadah yang dilakukan ketika seseorang memperoleh nikmat besar atau terhindar dari musibah.

Dasarnya berasal dari praktik Rasulullah SAW.

Dari Abu Bakrah r.a. disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ خَرَّ سَاجِدًا لِلَّهِ

“Rasulullah SAW apabila datang kepadanya sesuatu yang menggembirakan, beliau langsung tersungkur bersujud kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Baca Juga: Bolehkah Ngefans Kepada Pemain Sepak Bola? Ini Hukumnya dalam Islam

Hadis ini menjadi dasar utama disyariatkannya sujud syukur.

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa para sahabat melakukan sujud syukur ketika memperoleh kabar yang menggembirakan.

Karena itu, secara prinsip, sujud syukur bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam.

Lalu bagaimana jika dilakukan karena mencetak gol?

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hukum sujud syukur adalah sunnah ketika seseorang memperoleh nikmat yang nyata atau terhindar dari bahaya.

Imam An-Nawawi menjelaskan:

سُجُودُ الشُّكْرِ سُنَّةٌ عِنْدَ تَجَدُّدِ نِعْمَةٍ ظَاهِرَةٍ

“Sujud syukur disunnahkan ketika datang nikmat yang nyata.”

Jika seorang pemain sepak bola memandang gol yang ia cetak sebagai nikmat dari Allah, lalu ia melakukan sujud semata-mata untuk bersyukur kepada Allah, maka secara prinsip tindakan tersebut dapat termasuk sujud syukur yang bernilai ibadah.

Tetapi ada syarat penting yang sering dilupakan.

Yang dinilai bukan sekadar gerakan sujudnya, melainkan niat dan caranya.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau sujud dilakukan karena benar-benar bersyukur kepada Allah, maka ada nilai ibadah di dalamnya.

Namun jika sujud hanya menjadi bagian dari selebrasi, gaya, pencitraan, atau simbol identitas tanpa kesadaran ibadah, maka pahala ibadah tidak otomatis mengikuti gerakannya.

Para ulama juga memberi catatan bahwa ibadah tidak boleh berubah menjadi pertunjukan.

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Karena itu, jika sujud dilakukan untuk mencari tepuk tangan penonton, sorotan kamera, atau membangun citra religius, maka ruh syukur itu justru bisa hilang.

Di sisi lain, ada pertanyaan teknis: apakah sujud syukur harus memenuhi syarat seperti salat?

Dalam persoalan ini terdapat perbedaan pendapat ulama.

Mayoritas ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah menganjurkan suci dari hadas dan menghadap kiblat sebagaimana sujud tilawah.

Sedangkan sebagian ulama lain memberikan kelonggaran karena sujud syukur bukan salat sempurna.

Dalam konteks pertandingan yang berlangsung cepat dan kondisi lapangan yang tidak selalu memungkinkan, sebagian ulama kontemporer cenderung melihat substansi rasa syukur lebih utama dibanding formalitas yang sulit dipenuhi.

Namun tentu tetap lebih baik jika adab ibadah dijaga semaksimal mungkin.

Menariknya, sujud setelah gol juga mengandung pesan simbolik yang kuat.

Di tengah budaya olahraga yang sering dipenuhi selebrasi berlebihan, membuka baju, gestur arogan, atau ejekan kepada lawan, sujud syukur dapat menjadi pengingat bahwa keberhasilan bukan semata hasil kemampuan pribadi.

Baca Juga: DPR Setujui Naturaliasi Pesepak Bola Luke Vickery dan Mitchell Lee Baker

Allah SWT berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah.”
(QS. An-Nahl: 53)

Karena itu, sujud syukur saat mencetak gol pada dasarnya boleh dan dapat bernilai pahala jika dilakukan sebagai ibadah yang tulus kepada Allah, bukan sekadar gaya selebrasi.

Yang membuat seseorang mendapat pahala bukan jumlah golnya, bukan sorak penontonnya, tetapi sejauh mana ia menyadari bahwa keberhasilan di lapangan tetap berasal dari Tuhan yang memberi kemampuan untuk berlari, berpikir, dan mencetak kemenangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi