Akurat Logo

Tanda-tanda Orang Hajinya Mardud Apa Saja? Catat Ciri-cirinya!

Lufaefi | 9 Juni 2026, 10:30 WIB
Tanda-tanda Orang Hajinya Mardud Apa Saja? Catat Ciri-cirinya!
Jemaah haji saat melaksanakan lempar jumroh (Antara)

AKURAR.CO Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji tentu berharap mendapatkan predikat haji mabrur. Predikat ini sangat istimewa karena Rasulullah SAW menjanjikan balasan surga bagi orang yang berhasil meraihnya.

Namun, para ulama juga mengingatkan bahwa tidak semua orang yang telah menunaikan rukun dan wajib haji otomatis memperoleh kemabruran.

Dalam literatur Islam dikenal istilah haji mardud, yaitu haji yang tertolak atau tidak menghasilkan perubahan spiritual sebagaimana yang diharapkan. Meski demikian, perlu dipahami bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui dan menentukan diterima atau tidaknya suatu ibadah.

Karena itu, pembahasan mengenai tanda-tanda haji mardud bukan untuk menghakimi seseorang, melainkan sebagai bahan muhasabah agar setiap jamaah dapat terus memperbaiki diri setelah pulang dari Tanah Suci.

Berikut beberapa ciri yang sering disebut para ulama sebagai indikasi belum tercapainya kemabruran haji.

  1. Tidak Ada Perubahan dalam Ketaatan

Salah satu tujuan utama ibadah haji adalah meningkatkan ketakwaan. Jika setelah berhaji seseorang tetap lalai dalam menjalankan salat, jarang membaca Al-Qur'an, dan tidak menunjukkan peningkatan kualitas ibadah, maka hal tersebut patut menjadi bahan introspeksi.

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat yang berada dalam rangkaian pembahasan haji ini menegaskan bahwa tujuan utama haji adalah lahirnya ketakwaan dalam diri seorang Muslim.

Baca Juga: Pulang Haji Masuk Bui

  1. Masih Gemar Melakukan Maksiat

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang tetap mempertahankan kebiasaan buruk yang sama seperti sebelum berhaji. Misalnya masih gemar berbohong, menggunjing, menipu, memfitnah, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama.

Padahal Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Barang siapa menunaikan haji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika perilaku buruk tetap dipelihara setelah berhaji, maka nilai-nilai spiritual haji belum sepenuhnya membekas dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Menjadi Sombong Karena Gelar Haji

Haji seharusnya melahirkan kerendahan hati. Selama di Tanah Suci, semua jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kekayaan.

Namun ada sebagian orang yang justru merasa lebih tinggi derajatnya setelah berhaji. Ia senang dipuji, merasa paling saleh, bahkan merendahkan orang lain yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji.

Sikap seperti ini bertentangan dengan nilai utama haji yang mengajarkan kesederhanaan dan ketundukan di hadapan Allah SWT.

  1. Tidak Peduli kepada Sesama

Kemabruran haji tidak hanya diukur dari hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan manusia. Jika setelah berhaji seseorang tetap bersikap egois, enggan membantu orang lain, atau tidak peduli terhadap kesulitan masyarakat di sekitarnya, maka ia perlu mengevaluasi kembali makna hajinya.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)

Semakin mabrur seseorang, seharusnya semakin besar pula manfaat yang diberikan kepada lingkungannya.

  1. Masih Gemar Berbuat Zalim

Haji yang diterima seharusnya melahirkan pribadi yang jujur dan amanah. Sebaliknya, jika setelah berhaji seseorang masih melakukan korupsi, mengambil hak orang lain, menipu dalam perdagangan, atau menyalahgunakan jabatan, maka hal itu menjadi tanda bahwa nilai-nilai haji belum meresap ke dalam dirinya.

Padahal selama berhaji, jamaah berulang kali diajarkan pentingnya kejujuran, amanah, dan menjaga hak sesama manusia.

  1. Lebih Bangga dengan Status daripada Nilai Haji

Sebagian orang sangat bangga dengan gelar haji yang disandang, tetapi kurang memperhatikan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Ia sibuk menunjukkan identitas hajinya, tetapi tidak menunjukkan akhlak seorang haji. Padahal yang dinilai Allah bukanlah gelarnya, melainkan kualitas ketakwaannya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Baca Juga: Jemaah Haji Diminta Waspadai Tujuh Gejala Penyakit Setelah Tiba di Tanah Air

  1. Tidak Menjaga Semangat Ibadah Setelah Pulang

Banyak jamaah yang selama di Makkah dan Madinah rajin beribadah, tetapi setelah kembali ke kampung halaman semangat tersebut perlahan menghilang. Salat berjamaah mulai ditinggalkan, majelis ilmu jarang dihadiri, dan Al-Qur'an kembali tersimpan di rak.

Padahal salah satu tanda diterimanya amal adalah munculnya amal saleh berikutnya secara berkesinambungan.

  1. Tidak Ada Perubahan Akhlak dalam Keluarga

Keluarga biasanya menjadi pihak pertama yang merasakan dampak dari kemabruran seseorang. Jika setelah berhaji seseorang tetap mudah marah, kasar kepada pasangan, tidak peduli kepada anak-anak, atau sulit menghormati orang tua, maka hal itu menjadi alarm untuk melakukan evaluasi diri.

Haji yang mabrur seharusnya melahirkan pribadi yang lebih penyayang, sabar, dan bijaksana dalam kehidupan keluarga.

Pada akhirnya, tidak ada manusia yang dapat memastikan apakah hajinya sendiri atau haji orang lain diterima oleh Allah SWT. Yang dapat dilakukan hanyalah terus melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.

Karena itu, daripada sibuk menilai kemabruran orang lain, setiap jamaah haji sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri: apakah setelah berhaji saya menjadi lebih taat, lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesama?

Jika jawabannya belum, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebab kemabruran haji bukan hanya diukur saat berada di Tanah Suci, tetapi terutama setelah seseorang kembali menjalani kehidupan sehari-harinya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi