Tanda-tanda Orang Hajinya Mardud Apa Saja? Catat Ciri-cirinya!

AKURAR.CO Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji tentu berharap mendapatkan predikat haji mabrur. Predikat ini sangat istimewa karena Rasulullah SAW menjanjikan balasan surga bagi orang yang berhasil meraihnya.
Namun, para ulama juga mengingatkan bahwa tidak semua orang yang telah menunaikan rukun dan wajib haji otomatis memperoleh kemabruran.
Dalam literatur Islam dikenal istilah haji mardud, yaitu haji yang tertolak atau tidak menghasilkan perubahan spiritual sebagaimana yang diharapkan. Meski demikian, perlu dipahami bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui dan menentukan diterima atau tidaknya suatu ibadah.
Karena itu, pembahasan mengenai tanda-tanda haji mardud bukan untuk menghakimi seseorang, melainkan sebagai bahan muhasabah agar setiap jamaah dapat terus memperbaiki diri setelah pulang dari Tanah Suci.
Berikut beberapa ciri yang sering disebut para ulama sebagai indikasi belum tercapainya kemabruran haji.
Tidak Ada Perubahan dalam Ketaatan
Salah satu tujuan utama ibadah haji adalah meningkatkan ketakwaan. Jika setelah berhaji seseorang tetap lalai dalam menjalankan salat, jarang membaca Al-Qur'an, dan tidak menunjukkan peningkatan kualitas ibadah, maka hal tersebut patut menjadi bahan introspeksi.
Allah SWT berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)
Ayat yang berada dalam rangkaian pembahasan haji ini menegaskan bahwa tujuan utama haji adalah lahirnya ketakwaan dalam diri seorang Muslim.
Baca Juga: Pulang Haji Masuk Bui
Masih Gemar Melakukan Maksiat
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang tetap mempertahankan kebiasaan buruk yang sama seperti sebelum berhaji. Misalnya masih gemar berbohong, menggunjing, menipu, memfitnah, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
"Barang siapa menunaikan haji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika perilaku buruk tetap dipelihara setelah berhaji, maka nilai-nilai spiritual haji belum sepenuhnya membekas dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi Sombong Karena Gelar Haji
Haji seharusnya melahirkan kerendahan hati. Selama di Tanah Suci, semua jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kekayaan.
Namun ada sebagian orang yang justru merasa lebih tinggi derajatnya setelah berhaji. Ia senang dipuji, merasa paling saleh, bahkan merendahkan orang lain yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji.
Sikap seperti ini bertentangan dengan nilai utama haji yang mengajarkan kesederhanaan dan ketundukan di hadapan Allah SWT.
Tidak Peduli kepada Sesama
Kemabruran haji tidak hanya diukur dari hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan manusia. Jika setelah berhaji seseorang tetap bersikap egois, enggan membantu orang lain, atau tidak peduli terhadap kesulitan masyarakat di sekitarnya, maka ia perlu mengevaluasi kembali makna hajinya.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)
Semakin mabrur seseorang, seharusnya semakin besar pula manfaat yang diberikan kepada lingkungannya.
Masih Gemar Berbuat Zalim
Haji yang diterima seharusnya melahirkan pribadi yang jujur dan amanah. Sebaliknya, jika setelah berhaji seseorang masih melakukan korupsi, mengambil hak orang lain, menipu dalam perdagangan, atau menyalahgunakan jabatan, maka hal itu menjadi tanda bahwa nilai-nilai haji belum meresap ke dalam dirinya.
Padahal selama berhaji, jamaah berulang kali diajarkan pentingnya kejujuran, amanah, dan menjaga hak sesama manusia.
Lebih Bangga dengan Status daripada Nilai Haji
Sebagian orang sangat bangga dengan gelar haji yang disandang, tetapi kurang memperhatikan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Ia sibuk menunjukkan identitas hajinya, tetapi tidak menunjukkan akhlak seorang haji. Padahal yang dinilai Allah bukanlah gelarnya, melainkan kualitas ketakwaannya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Baca Juga: Jemaah Haji Diminta Waspadai Tujuh Gejala Penyakit Setelah Tiba di Tanah Air
Tidak Menjaga Semangat Ibadah Setelah Pulang
Banyak jamaah yang selama di Makkah dan Madinah rajin beribadah, tetapi setelah kembali ke kampung halaman semangat tersebut perlahan menghilang. Salat berjamaah mulai ditinggalkan, majelis ilmu jarang dihadiri, dan Al-Qur'an kembali tersimpan di rak.
Padahal salah satu tanda diterimanya amal adalah munculnya amal saleh berikutnya secara berkesinambungan.
Tidak Ada Perubahan Akhlak dalam Keluarga
Keluarga biasanya menjadi pihak pertama yang merasakan dampak dari kemabruran seseorang. Jika setelah berhaji seseorang tetap mudah marah, kasar kepada pasangan, tidak peduli kepada anak-anak, atau sulit menghormati orang tua, maka hal itu menjadi alarm untuk melakukan evaluasi diri.
Haji yang mabrur seharusnya melahirkan pribadi yang lebih penyayang, sabar, dan bijaksana dalam kehidupan keluarga.
Pada akhirnya, tidak ada manusia yang dapat memastikan apakah hajinya sendiri atau haji orang lain diterima oleh Allah SWT. Yang dapat dilakukan hanyalah terus melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
Karena itu, daripada sibuk menilai kemabruran orang lain, setiap jamaah haji sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri: apakah setelah berhaji saya menjadi lebih taat, lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesama?
Jika jawabannya belum, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebab kemabruran haji bukan hanya diukur saat berada di Tanah Suci, tetapi terutama setelah seseorang kembali menjalani kehidupan sehari-harinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 4Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 5FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 6Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia





