Akurat Logo

Sejarah Penamaan Bulan Dzulhijjah dalam Islam

Lufaefi | 18 Mei 2026, 05:34 WIB
Sejarah Penamaan Bulan Dzulhijjah dalam Islam
Sejarah penamaan bulan Dzulhijjah dalam Islam (NU Online)

AKURAT.CO Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang sangat dikenal dalam tradisi Islam. Nama bulan ini begitu akrab di telinga umat Muslim karena berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji dan Hari Raya Iduladha.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bagaimana sejarah penamaan Dzulhijjah dan makna besar yang terkandung di dalamnya.

Secara bahasa, kata “Dzulhijjah” berasal dari dua kata Arab, yaitu “Dzu” yang berarti “pemilik” atau “yang memiliki”, dan “Hijjah” yang berarti “haji”. Dengan demikian, Dzulhijjah dapat dimaknai sebagai “bulan pelaksanaan haji”.

Penamaan ini bukan tanpa alasan, sebab sejak masa Arab kuno, bulan tersebut memang dikenal sebagai waktu berkumpulnya manusia untuk melaksanakan ritual ziarah ke Ka’bah.

Baca Juga: 10 Keistimewaan Bulan Dzulhijjah yang Jarang Diketahui Banyak Orang

Setelah Islam datang, tradisi haji yang sebelumnya bercampur dengan praktik-praktik jahiliyah kemudian disucikan kembali oleh Nabi Muhammad SAW sesuai ajaran tauhid yang diwariskan Nabi Ibrahim AS. Karena itulah, Dzulhijjah menjadi bulan yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam.

Allah SWT berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“Ibadah haji itu dilaksanakan pada bulan-bulan yang telah diketahui.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah haji telah memiliki waktu khusus yang ditetapkan dalam syariat. Puncak pelaksanaan haji sendiri terjadi pada bulan Dzulhijjah, terutama saat wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Dalam sejarah kalender Arab, masyarakat Arab sebelum Islam memang telah mengenal dua belas nama bulan hijriah.

Nama-nama tersebut dipakai berdasarkan kondisi musim, kebiasaan masyarakat, atau peristiwa penting yang terjadi pada bulan tersebut.

Dzulhijjah dinamakan demikian karena pada bulan inilah bangsa Arab berbondong-bondong menuju Makkah untuk berhaji.

Selain menjadi bulan haji, Dzulhijjah juga termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36).

Keistimewaan Dzulhijjah semakin lengkap dengan adanya Hari Arafah, Iduladha, dan ibadah kurban yang menjadi simbol ketakwaan serta pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT. Pada bulan ini pula umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, zikir, puasa sunnah, dan sedekah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” (HR. Bukhari).

Baca Juga: Kapan Puasa Dzulhijjah 2026? Ini Jadwal dan Bacaan Niatnya

Melihat sejarah dan makna penamaannya, Dzulhijjah bukan sekadar nama bulan biasa dalam kalender Islam. Ia adalah simbol perjalanan spiritual, pengorbanan, persatuan umat, dan ketundukan total kepada Allah SWT.

Karena itu, memahami sejarah Dzulhijjah dapat menambah kecintaan umat Islam terhadap syariat dan nilai-nilai ibadah yang terkandung di dalamnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi