Akurat Logo

Raudhah: Antara Tempat Mustajab dan Misi Kenabian

Lufaefi | 28 April 2026, 02:50 WIB
Raudhah: Antara Tempat Mustajab dan Misi Kenabian
Musfiroh Nurlaili H (Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) (dok @misyfirahnurlaili)

RAUDHAH adalah salah satu tempat paling mulia di dalam Masjid Nabawi. Letaknya berada di antara mimbar dan makam Rasulullah ﷺ, sebuah ruang yang oleh Nabi disebut sebagai “taman dari taman-taman surga” (raudhatun min riyadh al-jannah), sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ الْمَازِنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ"

Dari Abdullah bin Zaid Al-Mazini, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman di antara taman-taman surga.”

Keutamaan ini menjadikan Raudhah sebagai salah satu tempat yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah—shalat, doa, dan dzikir—karena diyakini sebagai lokasi mustajab untuk berdoa.

Baca Juga: Cara Cek Porsi Haji dan Estimasi Keberangkatan: Panduan Lengkap

Namun, bagi umat Islam, Raudhah bukan sekadar titik geografis di dalam masjid. Ia adalah simbol kedekatan spiritual dengan Rasulullah ﷺ sekaligus ruang kontemplasi yang menghadirkan kekhusyukan dan keberkahan.

Jejak Sejarah dan Ruang Dakwah

Secara historis, Raudhah tidak sejak awal dikenal sebagai ruang khusus seperti sekarang. Pada masa awal Islam, area ini merupakan bagian dari masjid sederhana yang dibangun oleh Nabi Muhammad setelah hijrah ke Madinah.

Masjid itu berdinding batu bata, bertiang batang kurma, dan beratap pelepah. Di area yang kini dikenal sebagai Raudhah, Rasulullah ﷺ kerap melaksanakan shalat, menyampaikan wahyu, mendidik para sahabat, serta memimpin aktivitas keagamaan dan sosial.

Di dekatnya terdapat hujrah (kamar) tempat tinggal beliau bersama Aisyah. Di kamar inilah Rasulullah ﷺ dimakamkan. Seiring waktu, area antara mimbar dan rumah beliau semakin dimuliakan karena menjadi saksi hidup perjalanan dakwah Islam.

Dalam berbagai fase sejarah—dari masa khulafaur rasyidin hingga dinasti-dinasti Islam—Masjid Nabawi mengalami perluasan. Namun, lokasi Raudhah tetap dipertahankan, menegaskan nilai historis dan spiritualnya yang tak tergantikan.

Lebih dari Tempat Mustajab

Raudhah bukan hanya ruang penuh keutamaan spiritual, tetapi juga pusat peradaban. Di sinilah nilai ibadah, ilmu, dan perjuangan dakwah berpadu. Ia bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga tempat lahirnya transformasi manusia.

Karena itu, yang paling penting dipahami oleh setiap jamaah haji bukan sekadar “mengunjungi” Raudhah, melainkan menangkap pesan yang dikandungnya.

Pesan Moral dari Raudhah

1. Keikhlasan sebagai Inti Ibadah
Raudhah mengajarkan bahwa nilai ibadah tidak diukur dari banyaknya amal, tetapi dari ketulusan hati. Di tempat yang begitu suci, manusia merasa kecil—dan dari situlah lahir keikhlasan yang murni karena Allah.

2. Kedekatan dengan Allah Harus Diupayakan
Raudhah menjadi simbol bahwa kedekatan dengan Allah tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dicari melalui doa, dzikir, dan kesungguhan. Hidup bukan semata urusan dunia, tetapi perjalanan menuju-Nya.

3. Meneladani Rasulullah ﷺ
Kedekatan fisik dengan makam Nabi mengingatkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ harus diwujudkan dalam akhlak. Bukan sekadar ucapan, tetapi perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

4. Kesederhanaan dan Kerendahan Hati
Di Raudhah, semua manusia setara. Tidak ada perbedaan status, jabatan, atau kekayaan. Kemuliaan di sisi Allah hanya diukur dengan takwa, bukan gemerlap dunia.

Baca Juga: Usut Korupsi Kuota Haji, KPK Gali Keterangan Dua Petinggi Travel

5. Doa sebagai Kekuatan Hidup
Raudhah dikenal sebagai tempat mustajab. Ini menegaskan bahwa doa bukan pelengkap, melainkan kebutuhan utama manusia. Kekuatan sejati terletak pada ketergantungan kepada Allah.

6. Membawa Perubahan Sepulangnya
Pesan terbesar Raudhah adalah transformasi. Ibadah tidak berhenti di sana, tetapi harus dibawa pulang dalam bentuk perubahan: lebih sabar, lebih jujur, lebih dekat kepada Allah, dan lebih lembut kepada sesama.

Penutup

Raudhah mengajarkan satu hal mendasar: kesucian tempat seharusnya melahirkan kesucian sikap. Ia bukan sekadar ruang untuk berdoa, tetapi ruang untuk berubah.

Maka, siapa pun yang pernah menapakkan kaki di Raudhah, sejatinya sedang dipanggil untuk menjadi pribadi yang lebih baik—bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di tengah manusia.

Penulis: Musfiroh Nurlaili H (Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi