Kasus Penistaan Agama Kembali Ramai, Bagaimana Cara Muslim Menghadapinya?

AKURAT.CO, Beberapa waktu kebelakang, sejumlah kasus terkait penistaan agama kembali ramai terdengar diberbagai media dengan jenis kasus yang berbeda-beda, mulai dari penghinaan terhadap Al-Quran, Nabi Muhammad SAW, dan lain sebagainya. Namun bagaimana seharusnya umat Islam menghadapi penistaan agama tersebut?
Allah SWT sendiri telah menjelaskan sikap yang seharusnya dilakukan umat muslim ketika melihat salah satu perilaku penistaan agama, yakni terhadap ayat-ayat Al-Quran, dalam surat Al-An'am ayat 68:
وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
Wa iżā ra`aitallażīna yakhụḍụna fī āyātinā fa a'riḍ 'an-hum ḥattā yakhụḍụ fī ḥadīṡin gairih, wa immā yunsiyannakasy-syaiṭānu fa lā taq'ud ba'daż-żikrā ma'al-qaumiẓ-ẓālimīn
Artinya: “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (QS.Al-An'am: 68).
Dilansir dari NU Online, Syekh Mutawali Al-Sya'rawi menafsirkan ayat ini dengan penjelasan sebagai berikut:
"Apabila engkau (Nabi Muhammad SAW) mendapati orang yang melecehkan ayat-ayat Kami, tinggalkan mereka, jangan jalin persahabatan dengan mereka, jangan dengarkan pelecehan yang mereka sampaikan, dan jangan pula para sahabatmu ikut mendengarkan mereka."
Baca Juga: Etika Memperlakukan Tawanan dengan Baik Menurut Islam yang Turut Dilakukan Para Tentara Hamas
Selain larangan untuk berteman ataupun bersahabat dengan pelaku penistaan agama seperti ayat tersebut, Allah SWT juga melarang umatNya untuk duduk bersama dalam satu forum atau majelis dengan mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 140:
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖٓۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَنَّمَ جَمِيْعًاۙ
Wa qad nazzala ‘alaikum fil-kitâbi an idzâ sami‘tum âyâtillâhi yukfaru bihâ wa yustahza'u bihâ fa lâ taq‘udû ma‘ahum ḫattâ yakhûdlû fî ḫadîtsin ghairihî innakum idzam mitsluhum, innallâha jâmi‘ul-munâfiqîna wal-kâfirîna fî jahannama jamî‘â
Artinya: “Sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sesungguhnya kamu (apabila tetap berbuat demikian) tentulah serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di (neraka) Jahanam.” (QS. An-Nisa: 140).
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwasannya berada dalam satu majelis atau kelompok diskusi bersama para pelaku penistaan agama dapat menjadikan seorang muslim seakan sependapat dengan olokkan mereka dan terancam mendapatkan balasan dan dosa yang sama dengannya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, Allah SWT tidak menghukumi pelaku penistaan agama sebagai orang yang boleh disakiti ataupun dibunuh, melainkan Allah SWT hanya meminta hambaNya untuk meninggalkan mereka.
Artinya sudah seharusnya seorang muslim pergi dan meninggalkan perkumpulan pelaku penistaan agama, serta memutus seluruh hubungan dengan mereka, yang dilakukan semata-mata agar umat muslim terhindar dari ganjaran Allah SWT atas dosa menistakan ayat-ayatNya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







