Akurat Logo

Hikmah Memakai Pakaian Ihram; Pembebasan Diri dari Hawa Nafsu

Thony H | 5 Juli 2023, 14:58 WIB
Hikmah Memakai Pakaian Ihram; Pembebasan Diri dari Hawa Nafsu

AKURAT.CO Setiap umat Islam yang akan melaksanakan rukun Islam kelima (haji) harus menggunakan kain ihram. Kain putih polos itu dipakai pada saat melakukan umrah wajib dan ibadah haji baik di Arafah, Muzdalifah, maupun di Mina.

Memakai kain ihram berarti melepas semua atribut dan urusan dunia. Kain ihram laiknya kain kafan yang dikenakan pada orang yang sudah meninggal. Manusia harus melepaskan pakaian-pakaian lain yang seringkali mendorongnya berbuat dosa.

Pada saat Nabi Musa AS akan bermunajat kepada Allah SWT, ia diperintah agar mencopot kedua sandalnya yang merupakan simbol duniawi. Di dalam Surah Thaha Ayat 12, Allah SWT berfirman:

اِنِّىۡۤ اَنَا رَبُّكَ فَاخۡلَعۡ نَـعۡلَيۡكَ‌ۚ اِنَّكَ بِالۡوَادِ الۡمُقَدَّسِ طُوًىؕ‏

Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.

Ali Ibn Abi Thalib, disebut dalam kitab Tafsir At Thabari, mengatakan Nabi Musa AS diinstruksikan melepas kedua alasnya karena akan menghadap tempat suci, sebagaimana kesucia Ka'bah di Makkah. Sedangkan Imam Al Qurthubi menyebut tujuan dicopotnya sandal Nabi Musa AS agar munajatnya lebih khusyu.

Pun demikian dengan orang yang akan berhaji, ia harus melepas pakaian-pakaian duniawinya, mengganti dengan kain ihram. Ia harus menanggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang melekat dalam dirinya agar doanya diterima oleh Allah SWT.

Ali Aimrin Al Qurawi dalam buku Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa, menyebut umat Islam yang berhaji harus melepaskan segala pakaian kemewahan duniawi yang selama ini menjadi sumber dan simbol kesombongan. Mereka harus tanggalkan segala kedudukan, pangkat, status sosial, yang dapat merusak tali persaudaraan.

Selain itu, ihram melambangkan kesetaraan semua manusia. Hoffman, dalam buku Jalan Menuju Makkah, menyebutkan pakaian ihram tidak semata melambangkan kesetaraan seluruh manusia di hadapan Allah SWT, tetapi juga melambangkan hari kiamat. Lambang ini memberikan konsekuensi tidak boleh ada manusia yang merasa lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan manusia lainnya. Semua sama, sebagai hamba Allah.

Saat memakai kain ihram, seseorang juga dilarang melakukan dosa, baik kepada Allah SWT, kepada sesama manusia, bahkan kepada tumbuhan sekalipun. Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah Ayat 197 memerintah agar saat melaksanakan ibadah haji, manusia harus meninggalkan perkataan kotor/dosa (rofats), fasik (fusuk) dan berdebat (jidal).

Kain ihram menjadi simbol bahwa manusia harus menundukkan ego dan kesombongannya. Karena salah satu indikasi kesombongan adalah bentuk pakaian duniawi yang dipakainya. Mereka yang kaya memakai pakaian bagus dan yang miskin berpakaian lusuh. Dengan memakai ihram, manusia diajak untuk membuang jauh-jauh status sosial apapun, dan terus menyadari bahwa kehidupan datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Akhirnya, melalui ibadah haji ini hendaknya manusia dapat menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, kesetaraan, dan kebersamaan di hadapan Allah. Pun demikian, menjadi tauladan untuk terus menjauhi hawa nafsu baik kepada Allah, sesama manusia, maupun tumbuhan. Tidak hanya saat di tanah suci, tetapi juga melekat dalam diri setiap orang saat ia sudah kembali ke kampung halamannya masing-masing.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

T
Reporter
Thony H
L
Editor
Lufaefi