Akurat Logo

Makna Dakwah, Tugas Nabi Saja Hanya Menyampaikan, Mengapa Kamu Memaksa?

Ghassan Faikar | 9 Agustus 2020, 11:11 WIB
Makna Dakwah, Tugas Nabi Saja Hanya Menyampaikan, Mengapa Kamu Memaksa?

AKURAT.CO Bincang Hikmah merupakan agenda rutin Akurat Poll dan Akurat.co yang secara khusus membincang hikmah-hikmah Islam yang begitu banyak dan indah agar dipelajari dan direnungi oleh khalayak publik.

Pada Sabtu, 08 Agustus 2020 Akurat menghadirkan Narasumber David Chalik dengan Host Abdul Muid nawawi yang juga merupakan dosen PTIQ Jakarta. Selain disiarkan melalui Youtub Akurat.co, acara tersebut juga ditayangkan melalui fanspage Facebook Akurat.co dan juga Instagramnya.

Salah satu pembahsan menarik yang dibicarakan adalah tentang “pemaksaan dalam beragama atau mengikuti faham agama tertentu”. Pembahasan ini tentu salah satu tujuannya, sebagaimana menurut Abdul Mu’id, adalah menyikapi fenomena dakwah di masa modern yang seringkali ditampilkan dengan cara-cara memaksa. Sebagian orang mendakwahkan Islam dengan cara-cara menakutkan, menakut-nakuti dengan siksa-siksa neraka yang mengerikan. Padahal, Islam adalah agama yang damai, tidak pernah didakwahkan oleh Rasulullah dengan cara-cara paksaan.

Dalam sebuah hadis sahih disebutkan:

Sungguh engkau Muhammad hanyalah (bertugas) menyampaikan

Menurut Abdul Mu’id dalam program tersebut, hadis sahih tersebut di atas harusnya selalu menjadi warning bagi para pendakwah agar tidak berdakwah dengan cara-cara memaksa. Rasulullah sendiri yang merupakan makhkul pilihan diutus hanya untuk menyampaikan/mendakwahkan.

Keniscayaan demikian menolak dakwah yang disampaikan dengan pemaksaan. Sebab secara sederhana menyampaikan dan memaksa itu berbeda. Berdakwah dan memaksa merupakan dua hal yang tak bisa disatukan. Mengungkapkan dakwah dengan cara paksaan maka sudah bukan lagi bermakna dakwah, akan tetapi “pemalakan”.

David dalam program tersebut juga memberikan pesan Islam bahwa dakwah memang hanyalah proses menyampaikan. Dan itulah tugas manusia melalui teladan Rasulullah. Adapun urusan seseorang yang didakwahi akan ikut masuk Islam adalah persoalan hidayah. Hidayah adalah murni urusan prerogratif Allah. Manusia tidak bisa memberikan hidayah kepada orang lain. Oleh sebab demikian persoalan iman atau tidaknya seseorang dalam proses dakwah tidak bisa dipaksa-paksakan oleh siapapun, termasuk oleh ulama.

Tauladan dakwah terbaik lagi-lagi dicontohkan Rasulullah Saw semasa hidupnya. Ia tidak pernah memaksa orang lain masuk Islam. Ia hanya berdakwah. Contoh riilnya, Rasulullah tidak pernah memaksakan pamannya; Abu Thalib, untuk masuk dan mengikuti agama yang dibawanya.

Bahkan ketika Abu Thalib hendak wafat, dan ia dipaksa oleh salah satu Sahabat agar membimbing Abu Thalib masuk Islam, Rasulullah menolaknya dengan menyatakan bahwa persoalan hidayah adalah hak mutlak Allah Swt. Diri beliau diutus hanya untuk menyampaikan, bukan meng-hidayahkan seseorang.

Dalam clossing statement, David memberi penutup bahwa Islam hanya akan bisa berkembang jika hanya disampaikan dengan cara-cara damai. Islam akan menjadi besar dan menjadi agama yang kuat bila umatnya mau terbuka dengan perbedaan.

Maka seharusnya, hidayah yang merupakan hak prerogratif Allah tidak boleh dimonopoli oleh sebagian makhluk-Nya dengan cara memaksakan kehendak kepada agar orang lain agar mau mengikuti pemahaman agamanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.