Jemaah Haji Indonesia Ditipu Warga Arab, Sampai Dijuluki Hewan Ternak

AKURAT.CO Perjalanan ibadah haji bukan sekadar pengalaman spiritual, tetapi juga membutuhkan bekal pengetahuan yang memadai. Jika tidak, jemaah bisa menjadi sasaran empuk penipuan, sebagaimana pernah dialami jemaah asal Indonesia pada awal abad ke-20.
Minimnya kemampuan berbahasa Arab dan ketidaktahuan tentang tata cara ibadah membuat jemaah Nusantara kala itu mudah dimanfaatkan oleh oknum warga lokal.
“Orang Arab memanfaatkan keluguan jemaah Indonesia untuk mencari keuntungan,” ungkap sejarawan Snouck Hurgronje dalam Mekka in the Latter Part of the 19th Century (1931), seperti dilansir CNBC, Kamis (12/6/2025).
Salah satu modus penipuan yang marak saat itu adalah mengenakan bayaran untuk air Zamzam—padahal sejatinya gratis. Jemaah yang meyakini kesucian air tersebut bahkan rela membayar mahal hanya untuk berkumur atau menyemburkannya sebagai bagian dari ritual pribadi.
Baca Juga: Mulai 6 Juni 2025, Emas dan Air Zamzam Jemaah Haji Bebas Bea Masuk dan Pajak
Penipuan lain terjadi dalam bentuk pengelolaan dana. Beberapa warga lokal yang menyamar sebagai "syekh haji" menawarkan jasa penitipan uang untuk keperluan ibadah, namun setelah dana diserahkan, mereka menghilang tanpa jejak.
Lebih parah, pada 1920-an, ada oknum yang meminta jemaah Indonesia membeli tiang Masjidil Haram sebagai bentuk wakaf, dengan harga mencapai 300 real. Padahal, tidak pernah ada sejarah yang mencatat adanya penjualan bagian dari masjid suci untuk keperluan pribadi.
Bupati Bandung kala itu, R.A. Wiranatakusumah, mencatat pengalaman pahit ini dalam bukunya Seorang Bupati Naik Haji (1924). Ia menulis, “Di Makkah, penipu-penipu itu mudah sekali melakukan tipu dayanya.”
Akibat seringnya ditipu, jemaah asal Asia Tenggara, khususnya dari Indonesia, bahkan diberi julukan merendahkan oleh sebagian masyarakat Arab. Snouck Hurgronje mencatat, “Kerumunan jemaah dibagi seperti ternak kepada para syekh berlisensi, tanpa memperhatikan kehendak jemaah.”
Sejarawan Henry Chambert-Loir dalam Naik Haji di Masa Silam (2013) juga mengungkapkan bahwa jemaah dari kawasan ini sering dianggap mudah dikelabui karena sifat pasrah dan membawa uang dalam jumlah besar.
Baca Juga: Aturan Membawa Air Zamzam di Pesawat Haji 2025: Dilarang dalam Koper, Ini Alasannya
Ia menulis, "Orang Arab memakai julukan yang menghina untuk menunjukkan orang Jawi itu, yakni farukha (jamak kata farkh, 'ayam itik') dan baqar, 'hewan ternak'."
Pengalaman pahit masa lalu ini menjadi pengingat penting bahwa menjalani ibadah haji bukan hanya soal kesiapan rohani, tetapi juga pemahaman budaya, bahasa, dan wawasan agar terhindar dari penipuan yang merusak kekhusyukan ibadah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu








