Adakah Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus yang Tidak Melanggar Aturan Islam?

AKURAT.CO Pertanyaan ini muncul dari keresahan yang sangat wajar di tengah masyarakat pluralistik: bagaimana mungkin seorang Muslim dapat menjaga kerukunan antarumat beragama tanpa tergelincir dalam pelanggaran akidahnya sendiri?
Hari Kenaikan Yesus Kristus bagi umat Kristen merupakan peringatan penting tentang kepercayaan mereka bahwa Yesus, yang dianggap sebagai Tuhan dan Anak Allah, naik ke surga setelah kebangkitannya dari kematian.
Dalam narasi iman mereka, hari ini bukan sekadar perayaan spiritual, tapi juga simbol keilahian Kristus.
Di sinilah letak perkaranya. Bagi seorang Muslim, konsep ketuhanan Yesus secara tegas ditolak. Al-Qur’an menyebut dengan gamblang:
لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ
Artinya: "Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam." (QS. Al-Ma’idah: 17)
Ayat ini bukan saja menegaskan posisi akidah Islam, tetapi juga memberi batas yang tidak bisa dinegosiasikan dalam hal keyakinan. Maka, memberi ucapan yang secara eksplisit mengafirmasi kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan, atau bahwa ia naik ke langit sebagai Tuhan, adalah pernyataan yang bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam.
Baca Juga: Bolehkah Muslim Memberi Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus?
Namun, pertanyaannya belum selesai. Apakah tidak ada jalan tengah? Apakah semua bentuk ucapan harus dihindari?
Dalam konteks ini, penting dibedakan antara ucapan keagamaan teologis dan ucapan sosial umum. Seorang Muslim boleh saja menyampaikan ucapan atau perhatian yang bersifat sosial, tanpa mengafirmasi keyakinan teologis yang batil menurut Islam. Misalnya, seseorang bisa berkata:
"Semoga harimu dipenuhi kedamaian."
"Semoga perayaanmu berjalan dengan baik."
"Semoga kamu dan keluargamu diberi ketenangan hari ini."
Ucapan-ucapan ini bersifat umum, tidak menyebut langsung "selamat atas kenaikan Tuhan Yesus" atau semacamnya, dan tidak mengandung pembenaran terhadap ajaran agama lain. Ini bentuk adab sosial, bukan afirmasi teologis. Karena dalam Islam, menjaga lisan adalah bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, jika tidak mampu mengucapkan sesuatu yang baik dalam arti tidak melanggar prinsip Islam, maka diam adalah pilihan terbaik.
Kesimpulannya, ada bentuk ucapan yang masih bisa disampaikan sebagai wujud kesopanan dan relasi sosial yang sehat, selama tidak menyinggung unsur teologis seperti ketuhanan Yesus.
Islam bukan agama yang kasar atau memutus hubungan sosial, tapi Islam juga bukan agama yang longgar dalam urusan akidah.
Maka, penting bagi Muslim untuk bersikap cerdas dan selektif. Jangan sampai kebaikan sosial menjadi celah pelanggaran iman. Kita bisa ramah tanpa harus ikut membenarkan apa yang bertentangan dengan tauhid. Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







