AKURAT.CO Kalender Jawa, sebuah sistem penanggalan tradisional yang kaya akan budaya, sering kali dikaitkan dengan konsep "weton".
Dalam budaya Jawa, weton dipercaya memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian seseorang, jodoh, hingga keberuntungan.
Namun, pertanyaannya adalah, bagaimana pandangan Islam mengenai keyakinan terhadap weton ini? Apakah hal tersebut diperbolehkan atau justru bertentangan dengan ajaran Islam?
Dalam Islam, segala bentuk keyakinan yang melibatkan ramalan masa depan, keberuntungan, atau ketergantungan kepada sesuatu selain Allah SWT, memiliki batasan yang jelas. Salah satu dalil yang sering dijadikan rujukan dalam hal ini adalah firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ
“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia saja.” (QS. Al-An’am: 59)
Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang hal-hal gaib, termasuk nasib dan keberuntungan, sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Allah.
Jika seseorang meyakini bahwa weton dapat menentukan atau meramalkan nasib seseorang, maka hal ini dapat masuk ke dalam kategori syirik, karena menggantungkan kepercayaan kepada sesuatu selain Allah.
Baca Juga: Kalender Jawa November 2024 Lengkap dengan Weton dan Penanggalan Hijriah
Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barang siapa yang mendatangi seorang peramal atau dukun, lalu ia membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad)
Hadis ini memperingatkan umat Islam untuk tidak mempercayai peramal atau apa pun yang mengklaim dapat mengetahui hal-hal gaib, termasuk dalam konteks ini keyakinan terhadap weton sebagai alat ramalan.
Namun, bukan berarti penggunaan kalender Jawa sebagai bagian dari tradisi atau budaya sepenuhnya dilarang. Islam mengakui keberadaan budaya selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.
Jika weton digunakan hanya sebagai penanda hari lahir tanpa adanya keyakinan terhadap unsur mistis atau kekuatan ghaib di dalamnya, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai bagian dari tradisi yang tidak berbahaya.
Dalam pandangan Islam, umat Muslim diajarkan untuk senantiasa bertawakal kepada Allah SWT. Nasib, rezeki, dan keberuntungan bukanlah hasil dari perhitungan manusia, melainkan rahmat dan kehendak Allah. Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Dengan demikian, penting bagi seorang Muslim untuk memisahkan antara tradisi budaya dan keyakinan agama.
Kalender Jawa, termasuk konsep weton, bisa saja dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya selama tidak bertentangan dengan akidah Islam.
Namun, jika weton diyakini sebagai penentu nasib atau pembawa keberuntungan, maka hal ini harus ditinggalkan demi menjaga kemurnian tauhid.
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berada di bawah kuasa Allah SWT. Tidak ada kekuatan selain Allah yang mampu mengatur nasib manusia.
Oleh karena itu, umat Muslim sebaiknya menjadikan Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW sebagai panduan utama dalam menghadapi segala persoalan hidup, termasuk dalam menyikapi tradisi seperti weton.









