Benarkah Ada Weton yang Jadi Incaran Sengkolo pada Malam Satu Suro? Ini Jawaban Menurut Hadits Nabi

AKURAT.CO Malam Satu Suro, yang bertepatan dengan malam pertama bulan Muharram dalam kalender Islam, memiliki makna dan kepercayaan yang sangat kuat dalam tradisi masyarakat Jawa.
Menurut Primbon Jawa, Satu Suro dianggap sebagai waktu yang keramat dan berpotensi mendatangkan sengkolo (kesialan atau bencana) bagi beberapa weton (hari kelahiran) tertentu.
Primbon Jawa menyarankan agar orang-orang dengan weton tertentu menghindari aktivitas di luar rumah pada malam ini jika tidak ada kepentingan mendesak.
Primbon Jawa dan Kepercayaan Tentang Sengkolo
Primbon Jawa adalah kitab warisan budaya Jawa yang berisi ramalan, petunjuk, dan nasihat mengenai berbagai aspek kehidupan, termasuk tentang hari baik dan buruk berdasarkan weton.
Baca Juga: Mantan Ketua KPU Hasyim Asy'ari Pernah Mesantren Selama 4 Tahun di Pesantren Ini
Pada malam Satu Suro, primbon sering kali memperingatkan agar beberapa weton tertentu lebih waspada.
Misalnya, weton-weton yang dianggap rawan terhadap gangguan atau kesialan dianjurkan untuk tidak keluar rumah, melakukan ritual pembersihan diri, dan memperbanyak doa.
Pandangan Islam Tentang Sengkolo dan Kepercayaan Lokal
Dalam Islam, segala sesuatu yang berkaitan dengan nasib buruk atau kesialan tidak didasarkan pada hari atau waktu tertentu. Kepercayaan semacam itu tidak dianjurkan dalam ajaran Islam. Menurut hadits Nabi Muhammad SAW:
"لا عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ"
“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada kepercayaan buruk (thiyarah), tidak ada burung hantu, dan tidak ada bulan Safar yang membawa kesialan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menekankan bahwa dalam Islam, segala sesuatu yang terjadi adalah takdir dari Allah SWT. Tidak ada hari atau bulan yang membawa kesialan dengan sendirinya. Oleh karena itu, kepercayaan terhadap sengkolo yang berkaitan dengan weton atau malam Satu Suro tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Malam Satu Suro dalam budaya Jawa memang dianggap waktu yang sakral dan penuh dengan kepercayaan tertentu yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, dalam pandangan Islam, kepercayaan terhadap hari atau bulan yang membawa kesialan tidak dianjurkan. Umat Islam diajarkan untuk tawakal dan percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT.
Oleh karena itu, daripada mempercayai hal-hal yang bersifat takhayul, lebih baik meningkatkan ibadah, doa, dan amalan baik di setiap waktu dan kesempatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 7Korlantas Polri Jemput Bola Pelayanan Pengurusan SIM hingga Desa, Sekolah, Kampus, dan Pesantren
- 8Inggris, Jerman, dan Swedia Peringatkan Warga Bersiap Hadapi Perang, Ada Apa?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







