Akurat Logo

Guru Besar Penyakit Dalam UI Jelaskan Manfaat Puasa Syawal bagi Pencernaan Manusia

Lufaefi | 25 Maret 2026, 08:13 WIB
Guru Besar Penyakit Dalam UI Jelaskan Manfaat Puasa Syawal bagi Pencernaan Manusia
Ilustrasi puasa Syawal (istimewa)

AKURAT.CO Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam, menyarankan masyarakat menjalankan puasa Syawal untuk membantu adaptasi sistem pencernaan setelah Lebaran.

Menurutnya, usai menjalani puasa Ramadan selama sebulan, tubuh—terutama saluran cerna—membutuhkan penyesuaian bertahap ketika kembali ke pola makan normal.

Perubahan mendadak dengan konsumsi makanan berlemak, bersantan, dan tinggi gula berisiko memicu gangguan pencernaan.

“Perlu ada penyesuaian dari sisi jumlah makanan, waktu makan, maupun pola istirahat. Jangan langsung berlebihan karena lambung memiliki keterbatasan dalam menerima asupan,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Ia menjelaskan, puasa Syawal dapat menjadi salah satu cara membantu transisi tersebut. Dengan kembali mengatur jeda makan, sistem pencernaan memiliki waktu untuk beradaptasi secara perlahan setelah sebelumnya terbiasa dengan ritme sahur dan berbuka.

Waspadai Gangguan Lambung

Ari mengingatkan, hidangan khas Lebaran yang tinggi lemak dan gula kerap memicu keluhan seperti perut kembung, begah, mual, hingga nyeri ulu hati. Jika muncul rasa tidak nyaman, itu menjadi sinyal agar asupan dihentikan sementara.

Makanan bersantan, pedas, asam, minuman bersoda, serta kopi berlebihan sebaiknya dibatasi, terutama bagi mereka yang selama Ramadan sudah mengurangi konsumsi tersebut.

Kelompok dengan riwayat penyakit lambung, hipertensi, diabetes, dan asam urat juga diminta lebih berhati-hati. Pola makan yang tidak terkontrol dapat memicu kekambuhan atau kondisi akut dalam waktu singkat.

Imbangi dengan Serat dan Pola Sehat

Sebagai langkah antisipasi, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi buah dan sayuran. Kandungan serat membantu mengontrol penyerapan gula dan lemak sehingga asupan kalori lebih terkendali.

Baca Juga: Aturan Resmi WFA Usai Libur Lebaran 2026 untuk ASN dan Swasta

Selain itu, disiplin mengonsumsi obat rutin bagi penderita penyakit kronis tetap menjadi prioritas, terutama di tengah aktivitas silaturahmi yang padat saat Lebaran.

Dalam kondisi ringan seperti mual atau nyeri ulu hati, istirahat dan menghindari makanan pemicu dapat menjadi langkah awal. Obat penetral asam lambung juga dapat digunakan sesuai anjuran.

Ari menegaskan, Lebaran merupakan momen kebahagiaan, namun kesehatan tetap harus dijaga. “Boleh menikmati hidangan, tetapi tetap perhatikan takarannya agar terkontrol,” katanya.

Dengan menjaga keseimbangan pola makan, tetap aktif bergerak, dan mempertimbangkan puasa Syawal sebagai masa transisi, masyarakat diharapkan dapat kembali ke rutinitas dengan kondisi pencernaan yang lebih stabil dan sehat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi