Akurat Logo

Tinggal Di Kota Besar Rentan Mental Illness, Benarkah? Pahami Penyebab Dan Cara Mengatasinya

| 9 Februari 2023, 11:00 WIB
Tinggal Di Kota Besar Rentan Mental Illness, Benarkah? Pahami Penyebab Dan Cara Mengatasinya

AKURAT.CO, Katanya, orang yang tinggal di kota-kota besar lebih rentan terkena mental illness atau masalah kesehatan mental, benarkah demikian?

Dilansir dari jurnal penelitian Scientific American, yang berjudul 'Does City Life Pose a Risk to Mental Health?' Kamis (9/2/2023).

Ternyata kerentanan orang yang tinggal di kota besar terhadap masalah kesehatan mental bukan sekedar bualan belaka. 

Penyakit mental atau mental illness adalah kondisi kesehatan yang melibatkan perubahan emosi, pemikiran atau perilaku (atau kombinasi dari semuanya). Penyakit mental dapat dikaitkan dengan tekanan atau masalah fungsi dalam aktivitas sosial, pekerjaan, atau keluarga.

Lingkungan fisik dan sosial di wilayah perkotaan juga sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan mental seseorang. Dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah pedesaan, risiko terkena mental illness warga kota hampir 40 persen lebih tinggi.

Tingkat kecemasan orang yang tinggal di kota juga lebih besar yaitu 20 persen, juga memiliki dua kali lipat risiko rasa kesepian, rasa terisolasi, dan stres.

Dilansir dari laman Health Line, Kamis (9/2/2023), mengemukakan bahwa 39% kaum urban (masyarakat yang pindah dari desa ke kota), memiliki kecenderungan gangguan suasana hati (mood disorders). Selain itu, orang yang tinggal di kota juga rentan mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), masalah manajemen kemarahan (anger management), dan gangguan kecemasan secara umum (generalized anxiety disorder).

Apa sebenarnya penyebab utama orang yang tinggal di kota rentan terkena mental illness?

Faktor utama orang yang tinggal di kota rentan terkena mental illness (The Guardian)

Dilansir dari laman Urban Design Mental Health, Kamis (9/2/2023). Ada tiga penyebab yang melatarbelakangi terjadinya kerentanan mental illness terhadap orang yang tinggal di kota.

Berikut ketiga penyebabnya.

1. Faktor risiko yang sudah ada sebelumnya. 

Kota layaknya sebuah pengharapan bagi sebagian orang desa yang merantau ke kota. Para kaum urban pindah ke kota untuk mencari fasilitas yang lebih baik, peluang ekonomi yang lebih menjanjikan, kesempatan mobilitas sosial yang terasa menggiurkan, dan bisa juga karena ingin mengambil jarak dari pengalaman negatif atau trauma di masa lalu. 

Alasan-alasan ini lantas menjadi bumerang, berbalik menjadi faktor risiko masalah kesehatan jiwa karena realitas tidak berbanding lurus dengan harapan. Hal ini kemudian mempertajam hadirnya kemiskinan, pengangguran, tunawisma, perpisahan keluarga, masalah kesehatan fisik dan kesehatan jiwa.

2. Faktor sosial perkotaan. 

Individu-individu dengan faktor risiko yang sudah ada sebelumnya, terutama kemiskinan, status minoritas, dan masalah kesehatan jiwa sering kali menghadapi kesenjangan negatif di kota.

Mereka rentan mengalami pemisahan fisik dan psikologis dari lingkungannya. 

Kemiskinan, penolakan sosial, prasangka, stigma, diskriminasi bercampur aduk dalam kehidupan sehari-hari dan semakin memengaruhi kesehatan jiwa dari individu yang tinggal di kota. Selain itu, rendahnya standar norma sosial dan viktimisasi kejahatan juga terbukti meningkatkan risiko psikosis pada kanak-kanak.

3. Faktor lingkungan fisik perkotaan. 

Keadaan lingkungan perkotaan yang padat penduduk, kebisingan yang sering memekakkan telinga, lalu lintas yang macet dan kendaraan umum yang berdesakan, keterbatasan waktu bersosialisasi dengan teman-teman atau kerabat.

Kemacetan dan kepadatan transportasi umum yang penuh sesak, polusi udara menyesakkan setiap hari, sering kali menyebabkan rasa frustasi hingga mental Illness. Hal-hal di atas merupakan bagian dari lingkungan fisik yang harus dihadapi warga kota. 

Semua itu kemudian semakin diperparah dengan kemungkinan keterbatasan akses sebagian warga kota pada beberapa fasilitas seperti ruang terbuka hijau dan ruang interaksi sosial yang semakin menipis.

Dampaknya? Warga kota semakin rentan akan peningkatan masalah kejiwaan dan perasaan terkikisnya faktor-faktor pelindung kesehatan jiwa.

Lalu bagaimana cara meminimalisir atau mencegah mental illness karena tinggal di kota besar?

Kegiatan mencegah terkena mental illness di perkotaan (iStock Photo)

Dialnsir dari laman Health Line, Kamis (9/2/2023). Berikut ini ada 4 cara mencegah risiko mengalami masalah kesehatan mental dan fisik. 

1. Lakukan aktivitas luar ruangan

Menghabiskan terlalu banyak waktu di dalam ruangan bisa meningkatkan risiko terkena mental illness. Pergilah, ke taman atau berjalan-jalan di alam bisa meredakan rasa jenuh setelah bekerja seharian di kantor atau ruang tertutup lainnya. 

Sebuah studi dari Stanford mengungkapkan, bahwa berjalan di alam membantu mengatur rasa emosional di otak. Itu bisa membantu kamu untuk menguasai emosi agar tidak mudah marah, juga bisa memperkuat kemampuan untuk mengatasi stres.

2. Berinteraksi dengan orang baru

Adanya media sosial membuat kita kurang berinteraksi dengan orang-orang yang tinggal di sekitar lingkungan rumah, padahal berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang baru bisa membangun hubungan sosial dan membentuk kedekatan.

Mulailah berinteraksi dengan tetangga di sekitar lingkunganmu, karena hal tersebut bisa meningkatkan kesehatan mental. Selain itu memulai percakapan juga bisa membantu mengatasi kesepian tinggal jauh dari keluarga.

3. Berolahraga

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dengan berolahraga bisa membuat kita lebih bahagia, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan mencegah penyakit jantung.

Jadi selain baik untuk kesehatan fisik, olahraga juga baik untuk kesehatan mental.

4. Berbagi cerita

Berbagi cerita suka duka kehidupan perkotaan dengan teman yang paling kamu percaya adalah salah satu cara untuk mengatasi stres. Saling berbagi cerita pengalaman tinggal di kota dengan teman senasib bisa menyadarkanmu bahwa kamu tidak sendirian. 

Jika merasa membutuhkan hal lebih jangan sungkan untuk mendatangi psikolog, jangan sampai mental illnessmu memburuk.

Pada kenyataannya, kehidupan perkotaan bisa membuat seseorang stres sekaligus bahagia. Mengetahui cara mencegah mental illness akibat kehidupan perkotaan penting untuk dilakukan agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga. 

Tidak heran jika olahraga, berbicara dengan orang yang disayangi, dan interaksi dengan orang baru bisa meningkatkan suasana hati seseorang. Interaksi yang nyaman dan menyenangkan bisa membantu penduduk kota tetap bertahan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.