Akurat Logo

Tidak Puas Dengan Kemampuan Akademik? Kenali Tanda-tanda Academic Anxiety

Eko Krisyanto | 19 September 2023, 09:10 WIB
Tidak Puas Dengan Kemampuan Akademik? Kenali Tanda-tanda Academic Anxiety

AKURAT.CO Tantangan yang dihadapi mahasiswa pada semester akhir studinya memang bukan perkara yang mudah.

Mereka harus berjuang keras untuk lulus tepat waktu sambil menghadapi berbagai tekanan lain seperti masalah keluarga, beban finansial yang harus mereka tanggung sendiri, juga masalah dalam hubungan pribadi.

Sering kali tekanan ini membuat mereka merasa cemas dan enggan untuk menyelesaikan studi.

Selain itu, mahasiswa pada semester akhir juga dihadapkan pada tuntutan-tuntutan yang melekat pada tahap masuk ke dunia dewasa.

Tuntutan-tuntutan ini membuat pemikiran mereka semakin kompleks dan berujung pada stres berkepanjangan.

Ini dapat mengarah pada kondisi yang dikenal sebagai kecemasan akademik, di mana mahasiswa merasa sangat cemas dalam menjalani tugas-tugas akademik mereka.

Dampak dari kecemasan akademik ini dapat memengaruhi psikologis dan perilaku seorang mahasiswa, bahkan membuat mereka terus menunda kelulusan mereka.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk menyadari bahaya yang terkait dengan kecemasan akademik pada semester akhir.

Terdapat delapan risiko yang harus dihindari agar Anda dapat menghindarinya sebaik mungkin.

Baca Juga: 7 Manfaat Mentoring Bagi Para Mahasiswa Baru, Bisa Meningkatkan Prestasi Akademik Lho!

1. Tidak percaya pada kemampuan dan rendahnya self esteem

Kecemasan ini akan menjadikan mereka merasa rendah diri. Mereka mulai meragukan kemampuan dirinya untuk terus melanjutkan studinya. Mereka kehilangan self esteem mereka dan menjadikan mereka menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Berujung mereka mengisolasi diri karena meka merasa tidak pantas atau karena belum punya kejelasan untuk lulus.

2. Cemas dan takut dicap gagal

Kecemasan pada akademik menjadikan mereka cemas dan takut dicap menjadi seorang yang gagal. Mereka takut mengambil langkah lebih lanjut karena takut akan gagal. Ketakutan tak berujung ini menjadikan mereka terus menghindari step selanjutnya. Bisa jadi mereka tinggal melewati satu persen terakhir dan sebelumnya mereka sudah melewati 99 persen tugasnya sebagai mahasiswa.

3. Menunda-nunda tugas akhir

Kecemasan ini akhirnya malah membuat mereka menunda-nunda progresnya untuk lulus. Mereka mulai merasa lelah dengan kegiatan akademiknya. Hal ini juga terjadi karena kompleksnya perasan mereka. Mereka berpikir menunda adalah jalan aman agar tidak merasakan kecemasan tersebut lagi.

Baca Juga: Kolaborasi Praktisi dan Akademik Bisa Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa

4. Melakukan aktivitas yang tidak produktif

Mereka yang merasakan anxiety ini akan memilih mengalihkan perhatian pada hal yang tak terkait sama sekali dengan akademik. Beruntung jika mereka bisa menggali potensinya yang lain. Namun, hal ini bisa berpotensi mengalihkan kecemasannya dengan aktivitas kurang produktif seperti bermain game, merokok, malas berinteraksi, dan scrolling smartphone.

5. Menghindari menemui dosen pembimbing

Dampaknya juga bisa menjadikan mahasiswa menghindari untuk bimbingan dengan dosennya. Mereka lebih merasakan kecemasan tersebut saat akan bertemu dengan dosen mereka. Mereka bisa merasa stres, takut, gemetar saat akan menemui dosen bahkan dari sehari sebelumnya. Sehingga mereka merasa menghindari bertemu dosen membuat mereka tidak merasa cemas lagi.

6. Ketakutan tidak dapat lulus tepat waktu

Anxiety ini mulai menjadikan mahasiswa semester akhir ketakutan akan dirinya yang tidak lulus tepat waktu. Mereka hanya menghabiskan waktu untuk terus cemas yang tak berujung. Mereka overthinking takut mengecewakan keluarga dan tidak memenuhi ekspektasi orang-orang terdekatnya. Hal ini justru membuang waktu mereka yang dapat menjadikan lulus tidak tepat waktu.

7. Tidak puas pada kemampuan akademik

Mereka akan merasa tidak puas dengan capaian akademik mereka. Mereka akhirnya merasa gagal dan menyerah untuk melanjutkan studinya. Mereka merasa sia-sia saja jika melanjutkan studinya jika nilainya tidak memenuhi ekspektasi mereka atau ekspektasi orang-orang sekitar mereka.

8. Kecemasan berkepanjangan bisa mengakibatkan depresi

Ancaman yang sangat serius dari kecemasan berkelanjutan adalah risiko depresi, bahkan dapat menyebabkan seseorang merasa terdorong untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak dapat disangkal bahwa banyak kasus bunuh diri yang terkait dengan mahasiswa pada semester akhir yang mengalami hal ini.

Anda bisa melihat seberapa seriusnya situasi ini, bukan? Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk menyadari dampak yang ditimbulkan oleh kecemasan akademik ini.

Mulailah mengenali diri sendiri dan menjaga kesejahteraan mental Anda. Ciptakan kebiasaan-kebiasaan sehat yang membantu Anda tetap fokus untuk menyelesaikan studi Anda.

Penting untuk diingat juga bahwa sekarang ini skripsi tidak lagi menjadi kewajiban, jadi tetap semangat bagi Anda mahasiswa semester akhir. (Ridho Hatmanto)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK