Akurat Logo

Kenali 10 Jenis Obat Pemicu Depresi Supaya Tidak Berakibat Fatal

Mitha Theana | 14 Juli 2023, 10:33 WIB
Kenali 10 Jenis Obat Pemicu Depresi Supaya Tidak Berakibat Fatal

AKURAT.CO Setiap jenis obat pasti mempunyai efek samping masing-masing. Hal ini sesuai dengan resep obat yang telah dibuat oleh dokter. Terdapat beberapa obat pemicu depresi yang sering kita tidak kenali.

Depresi adalah gangguan suasana hati yang bisa membuat seseorang merasa terus sedih. Jika tidak segera melakukan pengobatan, pengidapnya bisa sampai melukai diri sendiri dan mencoba bunuh diri.

Dalam sebuah studi ditemukan bahwa lebih dari sepertiga orang dewasa di Amerika Serikat saat ini menggunakan obat resep yang berpotensi menyebabkan depresi atau meningkatkan risiko bunuh diri.

Depresi sangat umum terjadi pada pasien dengan penyakit medis. Sering kali sulit untuk menentukan dengan pasti apakah obat-obatan ini yang harus disalahkan atas gejala pada suasana hati. Dengan ini perlu diketahui jenis obat apa yang kita konsumsi.

Dikutip dari beberapa sumber, Jumat (14/7/2023), berikut jenis obat pemicu depresi.

Obat Pemicu Depresi

1. Benzodiazepine

Obat pemicu depresi yang pertama adalah benzodiazepine. Benzodiazepine adalah obat resep yang digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan, gangguan kejang, agitasi dan insomnia. Obat ini bekerja dengan mengikat reseptor di seluruh sistem saraf dan memperlambat aktivitas

Meskipun dalam kebanyakan kasus benzodiazepine aman bila digunakan sesuai petunjuk untuk waktu yang singkat, ada hubungan antara penggunaan benzodiazepine dan gejala depresi. Dalam beberapa kasus, ini bahkan berpotensi melibatkan pikiran bunuh diri.

Jika kamu diberi resep benzodiazepine, penting untuk meminumnya persis seperti yang diarahkan dokter atau apoteker tentang efek samping yang kamu alami.

2. Stimulan

Obat pemicu depresi selanjutnya adalah stimulan. Stimulan adalah obat yang meningkatkan aktivitas di sistem saraf pusat. Jenis obat ini digunakan untuk mengobati attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), asma, obesitas, narkolepsi, hidung tersumbat/sinus, dan hipotensi yang disebabkan oleh anestesi.

Stimulan umum termasuk kafein dan obat resep seperti dextroamphetamine, dextroamphetamine/amphetamine, dan methylphenidate.

Efek samping lain dari stimulan termasuk paranoia, kecemasan, psikosis, dan masalah fisik seperti sakit kepala, penurunan berat badan, dan kegelisahan.

3. Kartikosteroid

Kartikosteroid bisa menjadi obat pemicu depresi. Pasalnya Kartikosteroid sering digunakan untuk mengobati kondisi peradangan, seperti lupus, artritis rheumatoid, gout, dan sindrom Sjogren serta kondisi medis lainnya.

Kartikosteroid dapat menyebabkan berbagai gejala kejiwaan. Efek samping dari obat ini adalah dapat memengaruhi serotonin, zat yang diproduksi oleh otak yang diyakini terlibat dalam pengaturan suasana hati.

4. Statin

Statin adalah obat resep untuk menurunkan kadar kolesterol. Biasanya dokter meresepkan obat ini jika pasien memiliki faktor risiko penyakit arteri koroner.

Statin yang umum termasuk rosuvastatin, atorvastatin, Fluvastatin, simvastatin dan lainnya. Mengonsumsi statin dapat menyebabkan suasana hati yang tertekan, kecemasan, masalah tidur dan upaya bunuh diri.

5. Antikonvulsan

Obat pemicu depresi selanjutnya adalah antikonvulsan. Antikonvulsan atau obat kejang ini digunakan untuk mengobati epilepsy. Obat ini juga sering direspakan sebagai perawatan untuk gangguan mental, termasuk gangguan bipolar.

Beberapa obat antikonvulsan dikaitkan dengan depresi. Orang yang mengonsumsi ini akan memiliki peningkatan risiko pikiran atau pelaku bunuh diri.

6. Obat-obatan yang memengaruhi hormon

Obat yang memengaruhi hormon seperti pil KB ternyata bisa menjadi obat pemicu depresi. Variasi kadar hormon pada perempuan sering dikaitkan dengan gejala depresi, meskipun tidak sepenuhnya dipahami bagaimana interaksi ini terjadi.

Penelitian menunjukan bahwa kontrasepsi yang hanya mengandung progestin tidak mungkin menyebabkan gejala depresi.

7. Obat untuk kanker

Orang yang menderita kanker wajar jika mengalami suasana hati yang tertekan. Pasalnya perawatan kanker sendiri sangat kompleks, menggunakan beberapa obat yang mengobati sel kanker secara langsung dan mengobati gejala dan efek samping yang mungkin dialami.

Beberapa obat kanker, seperti yang termasuk dalam kelas obat taxane, telah dikaitkan dengan gangguan kognitif yang dapat memengaruhi gejala depresi. Jika tidak bijak dalam penggunaannya maka bisa menjadi obat pemicu depresi.

8. Antibiotik

Antibiotik umum yang terkait dengan depresi adalah Quinolone seperti ciprofloxacin dan levofloxacin, Cycloserine, Ethionamide, Metronidazole.

Penggunaan antibiotic berpotensi mengganggu keseimbangan bakteri usus alami. Gangguan ini dapat mengakibatkan gejala depresi yang berhubungan dengan interaksi otak usus, yang memengaruhi peradangan dan neurotransmitter.

9. Obat antikolinergik

Obat pemicu depresi selanjutnya adalah obat antikolinergik. Obat ini memengaruhi berbagai fungsi dalam tubuh, termasuk kerja usus.

Obat-obatan ini sering digunakan dalam pengobatan sindrom iritasi usus besar (IBS) dengan obat-obatan seperti dicyclomine. Namun karena memengaruhi sistem saraf pusat, mereka memiliki beberapa hubungan dengan gejala depresi.

10. Obat migrain

Obat pemicu depresi yang terakhir adalah obat migrain. Migrain dan depresi terdapat berbagai pilihan pengobatannya. Penyakit migrain sering melibatkan antidepresan untuk mengobatinya.

Ada beberapa antidepresan yang paling umum diresepkan untuk mengobati depresi. Namun di sisi lain banyak kelas obat ini dikenal berpotensi memperburuk gejala depresi pada awalnya atau meningkatkan kemungkinan pikiran bunuh diri.

Beberapa obat antidepresan yang dapat memperburuk gejala depresi adalah :

  • Amitriptyline.
  • Bupropion.
  • Clomipramine.
  • Desipramine.
  • Desvenlafaxine.
  • Doxepin.
  • Duloxetine.
  • Imipramine.
  • Milnacipran.
  • Mirtazapine.
  • Nefazodone.
  • Nortriptyline.
  • Phenelzine.
  • Protriptyline.
  • Selegiline.
  • Trazodone.
  • Venlafaxine.

Demikian beberapa jenis obat pemicu depresi yang sudah dijelaskan. Lebih bijaklah dalam mengonsumsi obat supaya tidak berakibat fatal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.