Akurat Logo

Kolaborasi antar Lembaga dapat Tingkatkan Pertumbuhan Wisata Medis Indonesia

| 17 Oktober 2019, 14:22 WIB
Kolaborasi antar Lembaga dapat Tingkatkan Pertumbuhan Wisata Medis Indonesia

AKURAT.CO Singapura merupakan salah satu destinasi utama bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan perjalanan medis. Dengan sederet rumah sakit yang memiliki fasilitas dan teknologi terbaik di Asia, didukung dengan dokter-dokter serta perawat profesional.

Tidak heran jika setiap tahun ada 250 ribu pasien luar negeri yang berkunjung ke Singapura untuk mendapatkan perawatan klinis. 

Tidak saja dari Indonesia, namun juga dari negara-negara lain seperti Malaysia, Australia, Burma, India, China, Timur Tengah hingga Afrika. Bahkan pasien-pasien dari negara maju seperti Amerika dan Eropa pun memilih Singapura karena relatif terjangkau dan berkualitas.

Menurut Wakil Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Panca Sarungu, secara fasilitas Indonesia tidak kalah dengan Singapura. Bahkan dokter-dokter yang bekerja di rumah sakit-rumah sakit di Kuala Lumpur, Penang dan lainnya rata-rata lulusan universitas di Indonesia.

“Kekurangan kita adalah tidak bisa berkolaborasi antara pemangku kepentingan di dunia medical tourism ini. Belum jelas siapa yang harus mempromosikan tentang pariwisata medis ini, apakah Kementerian Pariwisata, Kementerian Kesehatan atau lembaga lain,” jelasnya dalam rilis yang diterima AKURAT.CO.

Menurutnya, keunggulan industri kesehatan di Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain adalah pengobatan tradisionalnya. Obat-obat herbal yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia sudah divalidasi oleh Kemenkes.

“Jadi poin pentingnya adalah kita mau sinergi atau tidak karena secara treatment quality pun kita cukup bersaing. Setelah itu kita tentukan destinasinya, apakah di Jakarta, Bali, Jogja, Medan, Lombok, atau Batam. Bicara destinasi berarti bicara akses, karena kalau orang mau berobat mereka tidak mau kalau harus transit lagi,” ungkap Ketua Umum DPP Masyarakat Sadar Wisata tersebut.

Di sisi lain, pendiri digital platform multi-channel mengenai Singapura SGB, Tatiana Gromenko, bependapat bahwa sudah sejak lama masyarakat Indonesia menjadikan Singapura sebagai tempat melakukan pemeriksaan medis dikarenakan teknologi serta fasilitas-fasilitasnya yang cukup lengkap.

“Apalagi sektor medis juga mendapat dukungan dari lembaga pemerintah, maka wajar apabila Singapura menjadi pusat medis pilihan di Asia,” katanya.

Menurut wanita Rusia yang akrab dipanggil Tania ini, dalam beberapa tahun terakhir rumah sakit dan pusat-pusat medis di Singapura telah memperoleh akreditasi Joint Commision International (JCI) di bawah Joint Commission. Selama lebih dari 50 tahun The Joint Commission telah mendedikasikan diri dalam peningkatan kualitas dan keselamatan kesehatan.

“Tentu tidak semua rumah sakit bisa mendapatkan akreditasi seperti ini. Dengan rasio jumlah pasien dan rumah sakit yang cukup seimbang, cukup lumrah apabila banyak pasien dari negara-negara lain seperti Indonesia lebih memilih berobat ke Singapura,” jelasnya.

Tania mengungkapkan bahwa rumah sakit di Indonesia tidak kalah berkualitas dan memiliki fasilitas yang juga lengkap, termasuk teknologi di bidang kesehatan.

“Namun karena jumlah penduduk yang sangat besar dan keberadaan rumah sakit yang rasionya masih terlalu kecil, membuat sebagian kelompok middle class memilih terbang ke Singapura untuk wisata perawatan medis,” tuturnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.