Benjamin Netanyahu Hadapi Pertarungan Krusial di Pemilu Israel, Bertahan atau Tersingkir?

AKURAT.CO Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sosok yang dikenal piawai bertahan dalam kancah politik Israel, menghadapi pertarungan paling krusial dalam kariernya pada pemilihan umum hari Selasa (27/10/2026). Ia berupaya meyakinkan para pemilih bahwa dirinya tetap satu-satunya kandidat yang mampu menjamin keamanan mereka.
Reputasi Netanyahu—yang kini berusia 77 tahun—sebagai tokoh yang mengutamakan keamanan, nyaris hancur akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Rival utamanya, mantan kepala militer Gadi Eisenkot, berhasil memanfaatkan kemarahan publik atas kegagalan tersebut dan kini memiliki tingkat dukungan yang bersaing ketat dengan Netanyahu dalam berbagai jajak pendapat.
Kini, perdana menteri dengan masa jabatan terlama di Israel itu mengerahkan segala upaya. Ia menggembar-gemborkan dukungan dari Donald Trump, memperingatkan bahwa pihak-pihak yang memusuhi Israel menginginkan kekalahannya, serta memicu kekhawatiran akan berdirinya negara Palestina—sebuah gagasan yang ditentang oleh mayoritas warga Israel—seandainya lawan-lawan politiknya menang.
Kampanye pemilihannya sangat bergantung pada satu slogan yang terpampang di berbagai poster di seluruh negeri: "Pilih kubu Kanan atau pilih Palestina."
Di luar arena kampanye, Netanyahu menghadapi surat perintah penangkapan internasional atas dugaan kejahatan perang di Gaza, persidangan kasus korupsi yang telah berlangsung lama, serta konflik di berbagai front yang terus meluas dan telah berlangsung selama tiga tahun.
Namun, Netanyahu berharap dapat memanfaatkan perang yang ia kobarkan pasca-7 Oktober untuk menutupi kegagalan keamanan yang mencolok tersebut. Ia menonjolkan pukulan militer yang telah dilancarkan terhadap Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, serta Iran—pihak pendukung kelompok-kelompok tersebut—yang telah dua kali terlibat perang dengan Israel.
Pekan lalu, setelah dua tentara Israel tewas di tangan pria bersenjata Palestina di dekat Hebron, Netanyahu melancarkan operasi militer besar-besaran di Tepi Barat yang diduduki dan bersumpah untuk "memburu teroris Hamas" di mana pun mereka berada.
Lahir di Tel Aviv pada 21 Oktober 1949, Netanyahu mewarisi latar belakang ideologis dari ayahnya, Benzion, yang pernah menjadi ajudan Zeev Jabotinsky—pemimpin aliran Zionisme "Revisionis" yang mengusung gagasan tentang "Israel Raya".
Netanyahu menentang—dan pada akhirnya turut mengubur—proses perdamaian Israel-Palestina pada tahun 1990-an, yang menempatkan solusi dua negara sebagai tujuan akhirnya. Saat ini, ia mengusung visi tentang Israel dengan perbatasan yang membentang hingga ke Sungai Yordan. Ia menyuarakan dukungan untuk mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat yang diduduki, serta mengambil langkah-langkah untuk mendorong perluasan permukiman Israel—yang menurut hukum internasional dianggap ilegal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 4UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








