Pemerintah Prancis Tuduh Kelompok Kiri Biang Kerok Kerusuhan, Sosiolog Ungkap Penyebab Lain

AKURAT.CO Kerusuhan di Prancis mewarnai demonstrasi menuntut keadilan sosial pada akhir pekan. Sejumlah balai kota dibakar dan toko-toko dijarah di berbagai wilayah. Pemerintah Prancis menuding kelompok sayap kiri ekstrem memicu kekacauan, tetapi pakar sosiologi menilai penyebab kerusuhan tidak sesederhana itu.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyebut para perusuh jelas mendapat dorongan dari kelompok sayap kiri ekstrem. Namun, Mattias Wahlström, profesor sosiologi di Universitas Gothenburg Swedia yang meneliti gerakan protes politik, mengatakan kekerasan dalam demonstrasi kerap melibatkan berbagai faktor, termasuk interaksi antara massa dan aparat kepolisian.
Menurut Wahlström, batas antara demonstran yang menyampaikan tuntutan secara sah dan pelaku kekerasan tidak selalu jelas. Sebagian orang dapat terseret dalam situasi yang memanas, termasuk akibat tindakan aparat saat membubarkan massa.
Kelompok Black Bloc dan Penjarahan
Sejumlah laporan media Prancis menyoroti keterlibatan kelompok yang dikenal sebagai black bloc serta pelaku kriminal yang memanfaatkan situasi untuk menjarah dan memperoleh keuntungan.
Para peserta aksi yang mengenakan pakaian hitam terlihat menyemprotkan simbol huruf “A” yang merujuk pada anarkisme serta tulisan “ACAB”, singkatan dari All Cops Are Bastards atau ungkapan permusuhan terhadap polisi.
Namun, Wahlström menegaskan bahwa black bloc bukan organisasi tunggal dengan struktur dan keanggotaan tetap. Istilah tersebut merujuk pada taktik demonstrasi yang digunakan oleh kelompok atau individu untuk menghadapi aparat dan melakukan aksi konfrontatif.
Sebagian peserta mungkin memang mencari bentrokan. Namun, ada pula yang menganggap tindakan konfrontatif sebagai cara melindungi kelompok mereka dari intervensi polisi.
Wahlström membandingkan situasi tersebut dengan kerusuhan di London pada 2011 yang juga disertai penjarahan. Sejumlah analisis saat itu menunjukkan bahwa kekerasan banyak dilakukan oleh laki-laki muda, termasuk mereka yang berasal dari kawasan dengan banyak warga yang merasa tidak diperlakukan secara hormat oleh polisi.
Tindakan Polisi Dinilai Memicu Eskalasi
Wahlström menilai cara polisi menangani kelompok anak muda yang memblokir sekolah pada tahap awal juga berpotensi memperburuk situasi.
Ia mengaitkan insiden tersebut dengan pengalaman dalam demonstrasi Gerakan Rompi Kuning atau Yellow Vests di Prancis. Dalam aksi-aksi sebelumnya, polisi mendapat kritik setelah sejumlah orang mengalami kebutaan akibat tindakan aparat, sementara peluru karet dan tabung gas air mata ditembakkan dari jarak dekat.
Perbedaan yang menjadi perhatian dalam kerusuhan kali ini adalah usia sejumlah anak muda yang terdampak. Mereka dilaporkan berusia sekitar 14 hingga 15 tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang








