Akurat Logo

11 Perempuan Tewas, Presiden Afrika Selatan, Ramaphosa Bergerak: Khawatir Pembunuh Berantai

Fitra Iskandar | 30 September 2026, 14:03 WIB
11 Perempuan Tewas, Presiden Afrika Selatan, Ramaphosa Bergerak: Khawatir Pembunuh Berantai
Ilustrasi - Korban pembunuhan.

AKURAT.CO Afrika Selatan mengambil langkah darurat setelah sedikitnya 11 perempuan ditemukan tewas di Ekurhuleni, wilayah di sebelah timur Johannesburg, sejak Juli 2026. Rangkaian kematian tersebut memicu kekhawatiran tentang kemungkinan adanya pembunuh berantai, meski polisi hingga kini belum memastikan bahwa seluruh kasus saling berkaitan.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada Selasa, 29 September 2026, mengumumkan sejumlah langkah baru untuk menangani kekerasan berbasis gender dan femisida setelah tubuh korban ke-11 ditemukan di Springs pada Minggu. Pemerintah juga menempatkan penyelidikan kasus Ekurhuleni sebagai prioritas tinggi.

Ramaphosa memerintahkan pelaksanaan audit keamanan perempuan secara nasional dalam waktu 60 hari. Pemerintah daerah diminta mengidentifikasi lokasi yang dianggap berisiko bagi perempuan, termasuk kawasan dengan lampu jalan rusak, bangunan terbengkalai, ruang publik yang tidak terawat, jalur transportasi yang tidak aman hingga taman dengan sistem pengamanan yang buruk.

Hasil audit tersebut nantinya harus diikuti rencana penanganan yang memiliki pendanaan dan tenggat waktu yang jelas. Pemerintah juga berencana mempublikasikan perkembangan perbaikan di lokasi-lokasi yang dinilai berbahaya.

Kasus Kekerasan terhadap Perempuan Akan Ditinjau

Selain memetakan lokasi rawan, Ramaphosa memerintahkan kepolisian dan National Prosecuting Authority untuk melakukan peninjauan terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan yang belum terselesaikan.

Dalam 60 hari, pemerintah harus mengetahui jumlah dan usia kasus yang masih terbengkalai, kasus yang menunggu bukti forensik, kasus yang tersangkanya telah diketahui tetapi belum ditangkap, serta perkara yang mengalami keterlambatan dalam penyelidikan atau penuntutan.

Selanjutnya, dalam waktu 90 hari harus tersedia rencana pemulihan untuk kasus-kasus prioritas dan perkara yang mengalami kebuntuan. Setiap rencana harus mencantumkan tindakan yang masih diperlukan, pejabat yang bertanggung jawab, serta tenggat penyelesaiannya.

Pemerintah juga meminta adanya rencana khusus untuk mengurangi tumpukan pemeriksaan forensik, termasuk sampel DNA dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan perempuan serta anak-anak.

Empat Tersangka Ditangkap

Di tengah penyelidikan, empat tersangka telah ditangkap. Polisi juga telah mengidentifikasi sejumlah orang yang dianggap berkaitan dengan penyelidikan dan mengumpulkan berbagai barang bukti forensik, termasuk DNA, sampel darah, pakaian, telepon seluler serta catatan komunikasi.

Namun, aparat belum memastikan bahwa seluruh pembunuhan perempuan di Ekurhuleni dilakukan oleh satu orang atau kelompok yang sama. Karena itu, dugaan pembunuh berantai di Afrika Selatan masih menjadi bagian dari penyelidikan, bukan kesimpulan resmi polisi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.