Akurat Logo

70 Persen Generator Rumah Sakit di Gaza Tidak Berfungsi, Krisis Bahan Bakar Ancam Layanan Kesehatan

Fitra Iskandar | 17 September 2026, 10:02 WIB
70 Persen Generator Rumah Sakit di Gaza Tidak Berfungsi, Krisis Bahan Bakar Ancam Layanan Kesehatan

AKURAT.CO Sekitar 70 persen generator listrik di rumah sakit di Jalur Gaza tidak lagi berfungsi akibat kekurangan bahan bakar, minyak, dan suku cadang di tengah blokade Israel yang masih berlangsung. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut kondisi tersebut mengancam keberlangsungan layanan medis di rumah sakit, termasuk unit-unit yang menangani pasien dalam kondisi kritis.

Krisis generator rumah sakit di Gaza membuat sejumlah fasilitas kesehatan menghadapi risiko berhentinya layanan yang bersifat vital. Direktur Pusat Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher Al-Wahidi, mengatakan kekurangan bahan bakar dan minyak dapat membuat sejumlah departemen medis yang menyelamatkan nyawa berhenti beroperasi sewaktu-waktu.

Pernyataan tersebut disampaikan Wahidi dalam konferensi pers di Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, pada Rabu. Ia juga menolak klaim Israel yang menyatakan telah memfasilitasi masuknya bantuan medis dan pasokan logistik ke Gaza. Menurut Wahidi, pasokan yang masuk hanya dalam jumlah sangat kecil dan belum memenuhi kebutuhan minimum fasilitas kesehatan.

Krisis bahan bakar mengancam rumah sakit Gaza

Wahidi mengatakan kelangkaan bahan bakar tidak hanya berdampak pada generator rumah sakit, tetapi juga mengganggu mobilitas tenaga kesehatan. Perusahaan transportasi umum dan operator bus di Gaza mengumumkan penghentian total atau hampir total layanan pada Rabu akibat krisis bahan bakar.

Akibatnya, ratusan tenaga medis kesulitan mencapai tempat kerja. Kondisi tersebut semakin mengisolasi fasilitas kesehatan dan menghambat kemampuan rumah sakit menangani keadaan darurat.

“Fasilitas kesehatan telah berubah menjadi bangunan yang terisolasi dan perlahan-lahan sekarat di tengah blokade menyeluruh yang terus berlangsung serta pencegahan masuknya kebutuhan pokok,” kata Wahidi.

Menurutnya, situasi tersebut terjadi bersamaan dengan kelangkaan obat-obatan dan perlengkapan medis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejumlah peralatan diagnostik juga tidak dapat berfungsi secara optimal, sementara jalur pengobatan bagi pasien dan korban luka ke luar Gaza bagi mereka yang telah masuk daftar tunggu juga terhenti.

Pasokan medis disebut belum memenuhi kebutuhan

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan pasokan medis dan operasional yang dapat masuk ke wilayah tersebut belum mencukupi kebutuhan rumah sakit. Kekurangan bahan bakar menjadi persoalan utama karena generator diperlukan untuk mempertahankan pasokan listrik ketika jaringan listrik tidak tersedia atau tidak dapat diandalkan.

Wahidi menilai klaim mengenai kelancaran masuknya bantuan medis tidak mencerminkan kondisi yang dihadapi fasilitas kesehatan di lapangan. Ia mengatakan rumah sakit berada dalam kondisi yang sangat sulit untuk mempertahankan layanan dasar.

“Pasokan yang diizinkan masuk hanya mewakili bagian yang sangat kecil dan bahkan tidak memenuhi kebutuhan operasional minimum fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Ia menyerukan tindakan segera dari komunitas internasional, Dewan Keamanan PBB, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) agar pasokan medis serta kebutuhan operasional penting dapat masuk ke Gaza.

Transportasi tenaga medis ikut lumpuh

Penghentian layanan transportasi semakin memperburuk tekanan terhadap sistem kesehatan Gaza. Tenaga medis yang tidak dapat mencapai rumah sakit berpotensi mengurangi kapasitas fasilitas kesehatan yang sudah menghadapi kekurangan bahan bakar, obat-obatan, peralatan, dan suku cadang.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.